JATIMKINI.COM, Emiten produk tisu dan kertas PT Suparma Tbk (SPMA) mencatatkan kinerja penjualan bersih selama 9 bulan dari Januari - September 2025 sebesar Rp1,99 triliun atau naik 1,4% dibandingkan periode sama 2024 sebesar Rp1,96 triliun.
Direktur Suparma, Hendro Luhur memaparkan kenaikan penjualan yang tidak signifikan ini disebabkan oleh kenaikan kuantitas produk kertas sebesar 2,9%. pencapaian ini setara dengan 71,1ri target penjualan bersih Rp2,8 triliun. Kuantitas penjualan naik 2,9ri 164.295 MT menjadi 168.988 MT. Pencapaian ini setara dengan 70,4ri target 240.000 MT.
“Sedangkan hasil produksi kertas naik 5,2ri 163.577 MT menjadi 172.054 MT atau setara 76,2ri target 225.800 MT, dengan target utilisasi 73,8%,” jelasnya dalam virtual paparan publik, Kamis (30/10/2025).
Sementara untuk kinerja laba tahun berjalan perseroan di tahun ini mengalami penurunan tajam. Tercatat, laba berjalan hingga September 2025 hanya mencapai Rp68,4 miliar, turun drastis dibandingkan periode sama 2024 yang mampu mencapai Rp114,8 miliar.
“Penurunan laba ini disebabkan oleh selisih kurs yang mencapai puluhan miliar. Laba dari selisih kurs ini merupakan dampak paling signifikan karena tahun lalu kita bisa laba, tahun ini rugi. Ini sesuatu yang uncontrolable karena nilai tukar Rupiah terutama terhadap dolar melemah,” paparnya.
Meski begitu, lanjut Hendro, perseroan masih akan terus melanjutkan strategi untuk meningkatkan kinerja penjualan dan laba di tahun-tahun mendatang. Salah satunya melalui investasi Steam Boiler dengan belanja modal US$10 juta yang berasal dari kas internal. Hingga September ini, realisasi inevstasi sudah mencapai US$9,8 juta. Steam boiler baru ini telah berporduksi komersial pada Januari 2025
“Steam boiler yang baru ini lebih ramah lingkungan karena ditunjang dengan spesifikasi penggunaan bahan baku batu bara 25% atau sekitar 60% lebih rendah dibandingkan steam boiler yg sdh ada. Serta sisanya memanfaatkan sludge, limbah plastik, dan limbah kayu untuk diubah menjadi energi panas,” jelasnya.
Selain itu, kata Hendro, perseroan juga melakukan investasi Paper Machine No.11 dengan belanja modal US$23 juta yang pendanaannya berasal dari fasilitas kredit investasi US$17 juta dan internal kas US$6 juta. Hingga kini realisasi investasi mencapai US$3 juta.
“Pada 6 Februari lalu, perseroan menandatangani kontrak pembelian mesin utama ini dengan supplier mesin kertas dari Finlandia senilai EUR 6,36 juta. Paper Machine No.11 ini menghasilkan produk tisu, dan akan menambah kapasitas terpasang kita menjadi sebesar 27.000 MT,” ujarnya.

Hendro menambahkan, perseroan tahun ini juga mulai mengembangkan kegiatan usaha baru dengan memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki yakni memproduksi dan menjual batako.
Menurutnya, menjual batako ini untuk menunjang kegiatan usaha utama perseoran di bidang produksi kertas dan tisu, sebab persoran memiliki power plant sebagai pembangkit listrik guna memenuhi kebutuhan listrik periseroan.
Untuk diketahui, power plant beroperasi dengan menggunakan bahan bakar batu bara, di mana pembakaran batu bara menghasilkan abu sisa bakaran atau FABA (fly ash bottom ash). FABA ini akan dimanfaatkan menjadi produk batako.
“Upaya pemanfaatan FABA dapat menjadi solusi inovatif yang memberikan manfaat ganda bagi persoeran yaitu mengurangi limbah batu bara dan menciptakan produk konstruksi harag terjangkau dan ramah lingkungan. Produk batako ini akan dijual ke pihak pengembang perumahan, kontraktor sipil dan distributor bahan bangunan,” ucap Hendro.
Selanjutnya, pengembangan usaha baru untuk industri kimia dasar yakni produk Soda Plant yang memiliki fungsi proses kaustikasi yang dapat menghasilkan serat kertas menjadi lebih bersih dan berkualitas tinggi. proses kaustikasi memerlukan garam, di mana penggunaan gram NaOH merupakan bagian dari proses produksi perseroan.
“Penambahan kegiatan usaha ini berdasarakan Perpres No.17/2025 tentang percepatan pembangunan pergaraman nasional pasal 3 tentang kebutuhan garam untuk industri kimia. Pemakaian akhir dari hasil produksi ini adalah untuk industri kertas dan pulp, industri tekstil, industri aluminium, industri kimia dan industri pengolahan limbah,” paparnya.
Terakhir, perseroan melakukan aksi pengolahan sampah untuk bahan bakar alternatif. Refused Derived Fuel (RDF) adalah teknologi pengolahan sampah melalui porses homogenizers menjadi ukuran yang lebih kecil atau mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif sebagai pengganti batu bara.
Pemakaian akhir dari hasil produksi atas penambahan kegiatan usaha pengolahan sampah ini adalah untuk bahan bakar alternatif adalah industri semen, industri kertas & pulp.
Editor : Peni Widarti