JATIMKINI.COM, Ada ironi yang perlahan tumbuh di tengah kehidupan kampus. Mahasiswa begitu cepat menghafal lagu-lagu yang sedang viral di media sosial, namun tak sedikit yang mulai kesulitan menyanyikan lagu-lagu nasional di luar Indonesia Raya.
Di era ketika algoritma menentukan apa yang didengar, ditonton, dan dibicarakan, ruang bagi simbol-simbol kebangsaan kian menyempit.
Kegelisahan itulah yang disampaikan Dr. Jarmani, S.Pd., M.Pd., dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), komponis, peneliti seni budaya, sekaligus anggota Dewan Kebudayaan Surabaya Bidang Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan.
Menurutnya, lunturnya keakraban generasi muda dengan lagu nasional bukan semata persoalan musik, melainkan menyangkut proses pewarisan nilai-nilai kebangsaan.
"Lagu nasional bukan sekadar karya seni. Di dalamnya ada sejarah perjuangan, semangat persatuan, dan identitas bangsa. Jika generasi muda semakin jarang mendengarnya, ruang untuk menanamkan nilai-nilai itu pun ikut menyempit," ujarnya.
Jarmani menjelaskan, teori enkulturasi Margaret Mead menunjukkan bahwa budaya diwariskan melalui pembiasaan. Rasa cinta tanah air tidak lahir secara otomatis, melainkan tumbuh karena masyarakat terus bersentuhan dengan simbol-simbol kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pandangan itu diperkuat Pierre Bourdieu yang menempatkan simbol budaya sebagai cultural capital, sementara Benedict Anderson melihat simbol-simbol bersama sebagai perekat yang membentuk sebuah bangsa.
Di sisi lain, algoritma media sosial lebih mengutamakan popularitas daripada nilai budaya. Mengacu pada teori hegemoni Antonio Gramsci, Jarmani menilai ruang budaya kini semakin dikuasai logika pasar.
Akibatnya, lagu-lagu nasional kalah bersaing dengan konten hiburan global yang terus membanjiri gawai generasi muda.
Meski demikian, dia menegaskan kondisi tersebut bukan berarti nasionalisme mahasiswa telah hilang. Yang dibutuhkan adalah menghadirkan kembali ruang-ruang budaya yang membuat lagu nasional hidup dan dekat dengan keseharian mereka.
Kampus, menurutnya, dapat menjadi pelopor dengan memperdengarkan lagu nasional sebelum aktivitas akademik dimulai.
Perlu menggelar Hari Lagu Nasional setiap pekan, melibatkan unit kegiatan mahasiswa, menciptakan aransemen yang lebih segar, mengintegrasikan pembahasannya dalam mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, hingga memanfaatkan media sosial kampus untuk memperkenalkan kembali lagu perjuangan.
Simbol Yang Efektif
Pandangan serupa disampaikan Rudy T. Mintarto dari Komunitas Indonesia Raya 3 Stanza. Ia menilai lagu kebangsaan memang bukan satu-satunya ukuran nasionalisme, tetapi menjadi simbol yang efektif untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap bangsa.
Rudy mencontohkan Thailand yang setiap hari memutar lagu kebangsaan pada pukul 08.00 dan 18.00 di ruang publik sehingga masyarakat berhenti sejenak sebagai bentuk penghormatan.
Singapura membiasakan siswa menyanyikan lagu kebangsaan setiap pagi di sekolah, sementara Malaysia dan Tiongkok menjadikannya bagian dari kegiatan pendidikan dan kenegaraan.
Menurutnya, Indonesia pun pernah memiliki tradisi serupa ketika Indonesia Raya diperdengarkan pada pembukaan dan penutupan siaran televisi nasional. Menghidupkan kembali kebiasaan tersebut di sekolah, kampus, media, maupun ruang publik dapat menjadi ikhtiar sederhana untuk menjaga identitas bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.
Lagu nasional bukan hanya warisan masa lalu. Ia adalah suara yang menghubungkan generasi sekarang dengan sejarah bangsanya.
Di tengah dunia digital yang terus bergerak cepat, menjaga agar lagu-lagu itu tetap terdengar berarti menjaga agar semangat kebangsaan tetap hidup di hati generasi penerus.
Dr. Jarmani, dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Editor : Ali Topan