JATIMKINI.COM, Sejumlah mahasiswa seni rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tampak hadir dalam pembukaan pameran Voyage, The Journey of Master di Filadelvia Galeri, Rabu (2/9/2026) kemarin
Mereka datang bukan sekadar melihat lukisan, tetapi juga menyaksikan bagaimana karya para perupa yang telah lama berkiprah ditempatkan dalam satu ruang bersama karya pelukis generasi lainnya.
Pemandangan tersebut menjadi bagian menarik dari pembukaan pameran yang berlangsung di Ruko Taman Puspa Raya D8, Citraland, Surabaya. Pameran digelar selama sebulan sebagai penanda kembali aktifnya Filadelvia Galeri dengan konsep yang berbeda dari aktivitas sebelumnya.
Pada 2025, galeri banyak memberi ruang bagi pameran karya mahasiswa Unesa. Tahun ini, fasenya bergeser. Filadelvia mulai menampilkan koleksi galeri dan menyandingkannya dengan karya para perupa yang diundang secara khusus.
Mereka antara lain Agus Koecink Sukamto, Jopram, Andi Prayitno, dan Candra Sanjaya. Sementara koleksi galeri menghadirkan karya sejumlah perupa, di antaranya Mas Dibyo, Fa'izin, dan Huang Fong.
Pemilik Filadelvia Galeri sekaligus kolektor seni, Freddy Wijaya, mengatakan perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga integritas dan keberadaan galeri sebagai ruang untuk menampilkan karya para perupa.
Lewat Voyage, The Journey of Master, galeri tidak hanya menawarkan pengalaman melihat lukisan, tetapi juga mengajak publik mengenali perjalanan para seniman.
Sebab, sebuah karya tidak lahir begitu saja.
Di balik kanvas terdapat proses panjang. Ada pengalaman, pencarian bentuk, pengaruh lingkungan, tradisi, kegelisahan, hingga keberanian seorang seniman mempertahankan karakter visualnya.
Topeng yang Berbicara tentang Identitas
Salah satu karya yang menjadi bagian dari koleksi galeri adalah “Topeng dan Seikat Flamboyan” karya Mas Dibyo. Lukisan tersebut menghadirkan seorang perempuan yang duduk dengan posisi tubuh sedikit menyamping. Ia mengenakan busana bergaris merah muda-putih.
Di pangkuannya terdapat topeng tradisional, sedangkan bunga flamboyan hadir di sekitarnya. Topeng menjadi pusat perhatian kedua setelah figur perempuan. Secara simbolis, topeng dapat dimaknai sebagai wajah, karakter, identitas, penyamaran, atau bagian dari tradisi yang diwariskan.
Namun dalam lukisan Mas Dibyo, topeng tidak digunakan untuk menutupi wajah. Ia justru berada di pangkuan. Posisi itu membuka tafsir bahwa tradisi dan identitas budaya bukan sesuatu yang harus selalu ditampilkan secara langsung. Ia dapat menjadi bagian dari diri yang dibawa dan dirawat dalam kehidupan.
Sementara bunga flamboyan memberikan kesan lembut. Kontras antara bunga dan topeng menghasilkan dialog visual antara kelembutan dengan karakter yang kuat. Tafsir tersebut tentu terbuka bagi setiap penonton.
Ketika Kanvas Seolah Mengeluarkan Suara
Energi berbeda muncul pada karya Fa'izin, “Kecak Ramayana”. Kerumunan laki-laki berkain poleng hitam-putih memenuhi bidang lukisan. Mereka mengelilingi figur utama yang mengenakan atribut pertunjukan tradisional.
Pola kain, gerakan tangan, ekspresi wajah, serta mulut yang terbuka membangun ritme visual yang kuat. Meski tidak menghasilkan suara, lukisan itu seolah membuat penonton dapat membayangkan bunyi khas pertunjukan Kecak.
Di sini Fa'izin tidak hanya menghadirkan pertunjukan sebagai objek visual. Ada energi kebersamaan yang ikut ditangkap. Banyak tubuh menjadi satu kesatuan. Banyak gerak membentuk satu ritme. Tradisi pun tidak hadir sebagai sesuatu yang beku, tetapi sebagai kebudayaan yang terus hidup karena dimainkan dan diwariskan.
Menjembatani Generasi
Kehadiran mahasiswa Unesa dalam pembukaan menjadi semacam simbol bahwa perjalanan seni tidak pernah berhenti pada satu generasi.
Karya para pelukis senior dapat menjadi ruang belajar bagi mereka yang sedang mencari bahasa visualnya sendiri. Di tengah budaya gambar digital yang bergerak cepat, Filadelvia Galeri mencoba menawarkan pengalaman berbeda untuk melihat karya secara langsung, berhenti di depan kanvas, membaca detail, dan membiarkan tafsir tumbuh perlahan.
Itulah perjalanan yang ingin dirayakan melalui Voyage, The Journey of Master. Perjalanan seniman tidak hanya tercatat dalam katalog atau riwayat pameran. Ia juga hidup dalam karya yang terus dilihat, dibicarakan, dan ditafsirkan oleh generasi berikutnya
Editor : Ali Topan