x
x

Songkok. Simbol Nasionalisme, Bukan Keagamaan

Songkok memiliki akar sejarah panjang sejak era Majapahit, mengalami modifikasi hingga menjadi lambang nasionalisme. Hanya saja songkok sering dianggap sebagai simbol keagamaan.

Pada mulanya, songkok dikenal sebagai "ketopong", topi mahkota beludru yang dihiasi ornamen emas dikenakan oleh raja Majapahit. Penggunaan songkok ini kemudian diteruskan oleh raja-raja Jawa, yang dikenal dengan sebutan "teng kuluk Jawa", bentuknya lebih minimalis.

Bentuk ini bertahan hingga era Kesultanan Demak, Kesultanan Mataram Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, dan daerah-daerah lain di Jawa. Selama masa kolonial Belanda, topi ini juga dipakai oleh bupati dan bangsawan Jawa, Madura, serta Sunda.

Perubahan besar pada songkok terjadi ketika HOS Tjokroaminoto, seorang bangsawan dari Ponorogo yang mengambil keputusan untuk melepas gelar bangsawannya dan menjadi pemimpin Sarekat Islam. Bersama istrinya, Soeharsikin, tinggal di Kampung Peneleh Surabaya.

Tjokroaminoto melihat bahwa Indonesia harus bebas dari penjajahan dan feodalisme. Ia kemudian memodifikasi teng kuluk Jawa menjadi lebih pendek tanpa hiasan emas sehingga bisa digunakan oleh masyarakat umum, khususnya anggota Sarekat Islam yang tersebar di seluruh Nusantara.

Modifikasi ini dikenal sebagai "kupluk". Aras perannya mempopulerkan penggunaan kupluk, Tjokroaminoto dijuluki "De Ongekroonde Van Java" atau Raja Jawa Tanpa Mahkota oleh kolonial Belanda.

Untuk memenuhi permintaan songkok bagi anggota Sarekat Islam, Tjokroaminoto menginstruksikan cabang Sarekat Islam di Gresik untuk memproduksi. Sejak saat itu, Gresik menjadi pusat industri songkok.

Perjuangan nasionalisme yang diusung oleh Tjokroaminoto diteruskan oleh muridnya, Soekarno. Soekarno mengenakan songkok sebagai simbol perjuangan nasionalis Indonesia. Karena itu, songkok kemudian dikenal dengan sebutan "Songkok Nasional", melambangkan semangat kebangsaan daripada sekadar simbol keagamaan.

Penulis : Rokimdakas

Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat untuk menulis berita lepas.

Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan tersebut

Berita Terbaru
Selasa, 08 Jul 2025 19:58 WIB

Kadin Jatim Sebut Tarif Impor AS 32% Justru Bikin Peluang Besar Ekspor Tekstil

JATIMKINI.COM, Kebijakan tarif impor sebesar 32% yang diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap produk dari berbagai negara Asia menciptakan
Selasa, 08 Jul 2025 18:06 WIB

Problem Pendidikan, SDN Sepi Peminat

Di tengah mimpi besar menuju Indonesia Emas 2045, negeri ini justru dihantui fenomena penuh tanda tanya, mengapa Sekolah Dasar Negeri makin ditinggalkan
Selasa, 08 Jul 2025 16:21 WIB

PLN Elektrifikasi 21 Ribu Petani Buah Naga di Banyuwangi, Dorong Ekonomi Kerakyatan

PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung sektor pertanian berkelanjutan melalui program electrifyin
Selasa, 08 Jul 2025 15:37 WIB

Frank & co., Hadirkan Kemewahan Intim di Tengah Kota Surabaya

Frank & co., membuka gerai kelima di Surabaya, yang mengusung berlian dengan konsep perpaduan keintiman dan kemewahan menyatu.
Selasa, 08 Jul 2025 14:35 WIB

Pelatihan SDM Jadi Kunci TPS Tingkatkan Kinerja Terminal

TPS menjawab tantangan tata kelola pelabuhan melalui pelatihan SDM guna mendorong transformasi terminal bertaraf internasional.
Selasa, 08 Jul 2025 13:17 WIB

Kelompok Mahasiswa 96 UPN Veteran Dampingi RW 5 Pilang Makmur. Tujuaannya Ini

Guna menyiapkan kegiatan Lomba Kelurahan Berseri tingkat Kota Surabaya kelompok mahasiwa KKN 96 Universitas Pembanguna Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur