JATIMKINI COM – Dua jurnalis senior, Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama, meluncurkan novel Gemblak Terakhir, karya sastra yang mengangkat kehidupan warok dan gemblak dalam latar budaya masyarakat Jawa, khususnya Ponorogo dan sekitarnya.
Novel yang diterbitkan MejaTamu tersebut dijadwalkan diluncurkan di Blitar, Jumat (21/8/2026).
Cerita Gemblak Terakhir berpusat pada seorang gemblak yang memiliki cita-cita menjadi guru. Namun, impian tersebut menghadapi berbagai hambatan. Konflik semakin rumit ketika ia bertemu dengan seorang oknum warok dan kemudian menjadi sasaran cinta istri warok tersebut.
Sasetya Wilutama, mantan redaktur majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat dan mantan produser kreatif SCTV, mengatakan novel tersebut sepenuhnya merupakan karya fiksi.
“Sebagai karya fiksi, kisah dalam novel ini murni hasil imajinasi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan cerita, hal itu hanyalah kebetulan semata,” ujar Sasetya.
Ia menegaskan, kehadiran tokoh oknum warok dalam novel tidak dimaksudkan untuk merendahkan martabat warok. Menurutnya, warok sejatinya merupakan sosok ksatria, tokoh panutan, dan bagian penting dari budaya masyarakat Jawa.
“Sebagaimana profesi lain, semisal guru, dokter, atau profesi lainnya, kadang ada oknum yang kurang baik. Jadi tidak boleh digebyah uyah,” katanya.
Sarat Konflik dan Sentuhan Budaya Lokal
Novel ini menggunakan bahasa yang sederhana dan populer. Latar belakang kedua penulis sebagai jurnalis media cetak dan televisi turut memengaruhi gaya penulisannya yang lugas dan dinamis.
Imung Mulyanto, mantan GM Arek TV sekaligus mantan wartawan Surabaya Post, mengatakan cerita Gemblak Terakhir sebenarnya pernah diangkat dalam format sinetron oleh TVRI Jawa Timur pada awal 1990-an.
Sinetron tersebut disponsori Harian Sore Surabaya Post dan sempat masuk nominasi cerita terbaik dalam Festival Film Indonesia.
“Novel ini dipoles lebih bebas dan mendalam karena tidak terikat oleh durasi sebagaimana sebuah sinetron,” kata Imung.
Penyunting novel, Adriono, menilai kekuatan Gemblak Terakhir terletak pada keberhasilan penulis memadukan memori kolektif masyarakat Jawa dengan konflik cerita.
Budaya warok dan fenomena gemblak, kata dia, tidak sekadar menjadi latar, tetapi menyatu dengan jalan cerita.
Novel tersebut juga mengangkat persoalan relasi kuasa antara warok yang memiliki otoritas dan sumber daya ekonomi dengan masyarakat miskin yang berada dalam tekanan ekonomi.
Salah satu konflik menggambarkan seorang janda yang terpaksa menyerahkan anak laki-lakinya yang masih belia untuk dijadikan gemblak oleh seorang warok.
Cerita juga menghadirkan dilema seorang wartawan yang harus menyampaikan fakta kepada publik, tetapi di sisi lain berhadapan dengan kepentingan teman sekolahnya yang ternyata merupakan mantan gemblak.
Konflik semakin berkembang dengan hadirnya unsur kriminalitas, persaingan kesaktian antarsesama warok, serta kisah percintaan.
Adriono menilai alur novel bergerak cepat dan tidak bertele-tele. Bahasa yang populer membuat cerita mudah diikuti pembaca.
“Gaya bahasanya yang populer dan ringan membuat buku ini enak dibaca. Nikmatnya serasa menyaksikan sinetron TV melalui kata-kata,” ujarnya.
Gemblak Terakhir dikemas dalam format relatif tipis, yakni xii+82 halaman dengan ukuran 14 x 20 sentimeter.
Melalui novel tersebut, Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama berharap dapat memperkaya khazanah sastra Indonesia sekaligus ikut menjaga ingatan kolektif tentang budaya lokal Jawa agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.
Editor : Redaksi