Dalam sebuah wawancara mendalam antara saya dengan mendiang sejarawan Dr. Agus Sunyoto, penulis buku Atlas Walisongo, terungkap fakta yang mengejutkan: Islamisasi Nusantara memakan waktu tak kurang dari 683 tahun. Proses yang amat panjang dan kompleks, bukan penaklukan, melainkan penyusupan spiritual yang lembut dan penuh diplomasi budaya.
Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Nusantara menganut agama-agama lokal seperti Kapitayan, agama monoteistik kuno yang bertuhan tunggal namun tak mempersembahkan Tuhan dalam wujud fisik.
Konsep Tuhan dalam Kapitayan adalah “tan kinaya ngapa” - tak tergambarkan, tak terlukiskan, namun dapat dirasa dalam kesadaran batin. Sebuah pemahaman tauhid yang nyaris tak tertandingi dalam keragaman spiritual dunia.
Ketika pedagang Muslim datang pertama kali, mereka gagal menyentuh relung pemikiran para penganut Kapitayan. Tuhan dalam Islam yang "bersemayam di Arsy" dianggap terlalu antropomorfis, tak ubahnya seperti manusia yang duduk di kursi Baru ketika kaum cendekia dari Tiongkok datang dengan bahasa logika dan pendekatan filosofis yang lebih halus, Islam mulai diterima dan diadaptasi.
Yang menarik, para Wali Songo tidak meniadakan budaya lokal, mereka merangkulnya. Islam dan tradisi Kapitayan disintesis, memadukan elemen-elemen yang lebih sederhana menjadi suatu bentuk yang lebih kompleks dan baru, Islam Nusantara. Gamelan di masjid, bedug untuk azan, bahkan arsitektur masjid yang tak menyerupai gurun pasir. Inilah Islam yang membumi, bukan Islam yang menggurun. Namun kejayaan itu kini terancam.
Budaya Ababsasi. Genosida Budaya
Yang kita alami saat ini bukan lagi akulturasi tapi penghapusan budaya secara sistematis, itulah genosida budaya. Konsep ini mengacu pada penyingkiran brutal atas nilai-nilai lokal yang telah lama hidup dalam masyarakat diganti dengan simbol-simbol, gaya hidup, bahkan cara berpikir yang asing dan mendominasi secara kuat, hegemonik. Arabisasi menjadi wajah mutakhir atas kekerasan ini.
Tradisi lokal dicap sebagai syirik. Kesenian dianggap bid’ah. Busana adat dilecehkan atas nama moralitas semu. Jilbab bukan lagi pilihan spiritual melainkan kewajiban sosial yang memaksakan satu model kesalehan. Bahkan dalam ruang-ruang publik, simbol Arab lebih dominan daripada simbol kebangsaan.
Kian hari, kita menyaksikan warung makan dirazia saat Ramadan, ibadah umat Kristen dibubarkan, hingga gereja dipersulit izinnya. Semua atas nama “kesucian” yang sempit. Di negeri Pancasila, toleransi perlahan mati tercekik oleh tafsir mayoritas yang memanipulasi moral.
Aparat negara yang semestinya netral dan berpihak pada keadilan justru terkesan diam dan tunduk. Ketika pelanggaran dilakukan oleh kaum mayoritas, penegakan hukum menjadi lunak. Dalam diam itu, budaya Indonesia sedang dihabisi.
Studi Kasus Turki
Menarik untuk mengutip tulisan Dr. Luthfi Assyaukani, guru besar Universitas Paramadina Jakarta dan beberapa perguruan tinggi di luar negeri. Dia menulis di laman facebook, fenomena ini bukan unik Indonesia. Dunia mengenal banyak kasus genosida budaya.
Di Anatolia (kini Turki), sebelum tahun 1071, wilayah itu dihuni oleh bangsa Romawi Timur, berbahasa Yunani, berbudaya Balkan, dan beragama Kristen Ortodoks. Setelah kemenangan Turki Seljuk dalam Perang Manzikert, budaya lokal digusur secara sistematis. Bahasa berubah, agama dipaksakan, dan identitas lokal lenyap.
Ironisnya, para penakluk bukan Arab, melainkan bangsa Turki berdarah Mongol. Tapi mereka menyerap Islam, lalu memaksakannya sebagai alat kekuasaan. Penelitian genetika modern menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Turki hari ini masih mewarisi DNA Balkan, bukan Asia Tengah. Artinya, rakyat Turki adalah bangsa Eropa yang “diarabkan” secara sistemik.
Di banyak wilayah lain, budaya Arab hadir sebagai penjajah kultural. Di Afrika Utara, budaya Nubia, Amazigh dan Firaun digerus oleh Arabisasi. Arab dikenal sebagai agen genosida budaya global.
Di Asia Tengah, banyak tradisi silsilah dan seni lokal yang mati demi narasi tunggal Islam ala Timur Tengah. Bahkan umat Islam sendiri menjadi korban. Ada seorang atlet bola voli asal Indonesia dibully di Turki karena memakai jilbab. Yang membully dan yang dibully sama-sama korban dari satu hal yaitu kekerasan budaya yang tak disadari.
Jati Diri Hilang
Indonesia hari ini berada di persimpangan jalan. Jika tidak waspada, kita akan kehilangan seluruh khazanah kebudayaan kita: wayang, gamelan, batik, tarian, hingga filosofi spiritual lokal digantikan oleh simbol-simbol impor yang tidak pernah tumbuh dari tanah kita.
Negara wajib hadir. Pancasila bukan jargon tapi payung perlindungan bagi seluruh keragaman. Penjagaannya tak boleh tebang pilih. Jika genosida budaya dibiarkan kita akan tinggal di negeri yang hanya mirip Indonesia dalam nama tapi bukan dalam jiwa.
Kita akan menjadi Turki yang lain. Bangsa yang kehilangan wajah aslinya hanya karena tunduk pada simbol, bukan substansi.
Genosida budaya tidak selalu berwujud kekerasan fisik. Ia bisa halus, dalam bentuk dominasi simbolik, aturan moral atau tekanan sosial. Namun dampaknya sama, pemusnahan jati diri kolektif.
Saat budaya lokal terus dikalahkan atas nama kesalehan yang diproduksi oleh gurun pasir, Indonesia perlahan kehilangan arah. Sudah saatnya kita bertanya, apakah menjadi religius harus berarti kehilangan budaya sendiri?
Jika tidak dijawab hari ini mungkin besok kita hanya bisa bernostalgia, ketika kita masih mengenal siapa diri kita sebenarnya?.
Penulis : Rokimdakas
Wartawan & Penulis
Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat untuk menulis berita lepas.
Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan tersebut
Editor : Redaksi