JATIMKINI.COM, Di Jalan Gubeng Kertajaya, Surabaya, sebuah kafe yang biasanya tutup di hari Minggu justru tampak ramai pada 14 September 2025. Omahe Mbah Giyo, rumah kopi yang akrab disapa OMG, membuka pintu khusus untuk merayakan ulang tahunnya yang kedelapan. Bukan sekadar pesta, OMG menjadikannya ruang pertemuan kopi dan budaya: dari batik hingga tradisi nyethe.
Suasana sore itu terasa berbeda. Enam meja ditata rapi di tepi jalan, kursi-kursi mulai terisi sejak senja turun. Para tamu undangan berdatangan, dari budayawan, politisi, seniman, hingga pegiat kopi. Atmosfernya cair, riuh, tapi sarat makna. Karena sejak awal berdirinya, Omahe Mbah Giyo memang tak hanya menjual kopi, melainkan juga cerita.
Di antara riuh obrolan dan aroma kopi yang mengepul, Johanes Budi Prasetyo dan Yayuk Purba Lie—pendiri sekaligus pemilik OMG—menjelaskan alasannya membuka kafe di hari yang biasanya ditutup: “Kami sengaja buka di hari istimewa untuk merayakan ulang tahun,” jelas Yayuk.
Sebelum membangun narasi, Omahe Mbah Giyo menyuguhkan tumpeng nasi megono kepada tamu, yakni masakan yang kerap dijumpai di Jawa Tengah pesisir utara maupun Wonosobo. Sebuah budaya kuliner yang nyaris luput dari pembahasan di kota metropolitan sebesar Surabaya.
Kopi dan Batik
Ulang tahun kali ini sengaja dipadukan dengan budaya. Seluruh kru barista dan dapur diminta mengenakan bawahan batik. “Bisa celana, kain, atau rok. Baik kitchen maupun bar,” lanjut wanita kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah itu.
Tak berhenti di tampilan, OMG juga mengundang Antonio Carlos, seorang budayawan sekaligus pemerhati batik. Di hadapan tamu, Carlos menyampaikan literasi tentang kekayaan corak batik Nusantara. “Batik itu karya leluhur dengan nilai budaya tinggi. Setiap kota bisa punya corak berbeda, meski bertetangga,” jelasnya.
Ia mencontohkan Lamongan dan Tuban yang memiliki perbedaan corak meski berbatasan, begitu pula Pekalongan dan Semarang. Menurut Carlos, batik bukan sekadar motif. Ia menyimpan pesan agar masyarakat tak melupakan warisan budaya, justru merawat dan memadukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Keseruan festival nyethe dalam HUT Omahe Mbah Giyo.
Nyethe: Seni Membatik Rokok
Selain batik, Omahe Mbah Giyo juga menggelar lomba nyethe atau nyete—seni membatik rokok kretek. Kali ini, praktik itu dimodifikasi: batang rokok dihias dengan susu kental manis dan ampas kopi, yang dihias dengan tusuk gigi untuk menggambar sebelum dibakar.
Seni ini berakar dari Tulungagung, Jawa Timur. Dahulu, ampas kopi dioleskan pada batang rokok sebagai hiasan. “Seiring waktu, ampas kopi dicampur dengan susu kental manis, coklat, matcha, hingga vanila untuk menciptakan aroma,” terang Joe, sapaan akrab Johanes Budi.
Di OMG, kegiatan nyethe berlangsung empat hari berturut (11–14 September) dan mendapat antusiasme tinggi. Bagi sebagian orang, seni ini bukan hanya ritual merokok, melainkan juga bentuk ekspresi visual yang lahir dari tradisi masyarakat pesisir Jawa Timur.
Cupping dan Lelang Kopi
Pesta ulang tahun tak lengkap tanpa ritual kopi. OMG menghadirkan sesi cupping—praktik mencicipi kopi profesional—yang dipandu dua barista, Endik Lukito dan Febriyana. Ada pula lelang tiga jenis kopi: arabica frinsa, gayo takengon, dan arjuno.
Tak hanya berdiri sendiri, Omahe Mbah Giyo juga berkolaborasi dengan My Own Bean (Tulungagung) dan Kula Sub (Surabaya). Jejaring ini memperlihatkan bagaimana ekosistem kopi lokal saling menopang, dari petani hingga pegiat kafe.
Merayakan dengan Budaya
Delapan tahun bagi sebuah kafe mungkin bisa dirayakan sekadar dengan diskon minuman atau musik akustik. Namun Omahe Mbah Giyo memilih jalannya sendiri: merayakan kopi bersama batik, nyethe, dan literasi budaya.
Bagi Yayuk dan Joe, kopi single origin yang disajikan di OMG tak bisa dilepaskan dari cerita asal-usulnya. Begitu pula dengan batik yang tak sekadar motif di kain. Di titik ini, ulang tahun menjadi lebih dari sekadar perayaan: ia berubah menjadi pengingat tentang warisan budaya yang terus hidup, bahkan di ruang sederhana bernama kafe.
Editor : Rochman Arief