JATIMKINI.COM, Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan sedikitnya 6 inisiatif strategi dalam mendorong pertumbuhan industri syariah sebagai arus utama pembangunan ekonomi menuju Indonesia Emas.
Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Imam Hartono mengatakan di tengah ketidakpastian global, ekonomi Indonesia tetap tumbuh 5,12% di kuartal II/2025. Jawa kontribusinya lebih dari 50ri nasional.
Namun begitu, daya tahan ekonomi tidak boleh bergantung pada sumber konvensional, tapi dibutuhkan sumber pertumbuhan baru yang lebih inklusif.
“Fesyar (Festival Ekonomi Syariah) bukan hanya mendorong ekonomi syariah yang jadi sumber pertumbuhan ekonomi baru tapi menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi inklusif yang merata,” katanya dalam sambutan Opening Ceremony Fesyar Jawa 2025, Jumat (12/9/2025).
Untuk itu, lanjut Imam, BI menyiapkan 6 inisiatif strategis sebagai komitmen BI dalam mewujudkan Indonesia Emas. Pertama, Gerbang Santri (gerakan pesantren dan santri) yang diharapkan menjadi pusat ekonomi umat. Kedua, Jawara ekspor (Jarinagn usaha syariah ekspor) misalnya untuk produk olahan kayu, kopi, dan ikan memiliki pasar global.
Ketiga, Gema Halal (Gerakan Berjamaah Akselerasi Halal). Program ini untuk memepercepat sertifikasi dan memastikan bahan baku halal tersedia. Keempat, Sapa Syariah (Sinergi perdaganganan dan pembiayaan syariah). Ini mengkoneksikan antara pelaku usaha dengan lembaga pembiayaan syariah dan membantu memperluas pasar.
Kelima, Kanal Zizwaf. Zakat dan wakaf atau dana sosial syariah adalah kekuatan ekonomi umat. Melalui zakat yang dikelola lebih modern dan produtkif untuk mendanai sekolah, klinik, hingga pelaku UMKM dan lainnya. Keenam, Lentera Emas (Literasi dan inklusi ekonomi syariah menuju Indonesia Emas).
“Keenam inisiatif ini diharapkan jadi kendaraan dalam Fesyar dalam memperluas potensi ekonomi syariah. Mari kita jadikan ekonomi syariah ini sebagai arus utama pembangunan ekonomi nasional. Dari Jatim, komunitas, pondok pesantrenm eksyar ini tidak hanya tumbuh tapi membukakan jalan bagi kemasylatan umat,” imbuhnya.
Imam memaparkan, Jatim sendiri punya posisi startegis sebagai pusat pengembangan syariah. Ada 4 alasan, yakni yang pertama, gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) lahir dan pelaksaannya yang pertama sampai keenam ada di Surabaya. Jadi Fesyar Jawa merupakan embrio dari ISEF sejak 2014 - 2018.
Alasan kedua yakni Jatim punya pesantren terbanyak di Indonesia sebannyak 4.450 ponpes dengan jumlah 566.000 lebih santri. Alasan ketiga, Jatim penyumbang perekonomian terbesar setalah Jakarta. Dan alasan keempat adalah Jatim memiliki potensi wisata alam dan budaya seperti Gunung Ijen, Bromo dan Semeru melalui festival budaya yang menarik.
“Potensi yang besar ini harapannya juga terangkat saat di Fesyar. Jadi Fesyar bukan cuma menampilkan produk syarah tapi juga menampilkan potensi lain, serta dan menjembatani pelaku usaha lokal,” tambah Imam.
Dari kegiatan Fesyar ini, lanjut Imam, ribuan UMKM dapat tersertifikasi halal, jejaring antar pelaku usaha dapat meluas.
“Inilah pondasi dasar yang menjadikan Jatim sebagai salah satu pusat ekonomi syariah di Indonesia,” tutupnya.
Editor : Peni Widarti