JATIMKINI.COM, Dunia anak adalah dunia bermain. Tapi di Mojokerto, ruang itu semakin sempit. Pertumbuhan perumahan baru berlangsung cepat namun fasilitas publik ramah anak nyaris absen.
Contoh nyata adalah Perumahan Grand Kencana di Kedungmaling, Kecamatan Sooko yang dibangun dalam empat tahap tanpa menyediakan taman bermain.
Orang tua pun harus mencari jalan lain. Banyak yang membawa anak ke mal meski harus membayar tiket hampir Rp100 ribu sekali bermain. Bagi keluarga dengan dua atau tiga anak, biaya ini jelas tidak ringan.
Sebagian memilih alternatif murah, menyewa mainan keliling seperti mobil-mobilan, masak-masakan, kolam bola, hingga pancing ikan. Namun, semua itu jauh dari standar ruang bermain sehat.
Bandingkan dengan Surabaya yang memiliki banyak taman kota gratis. Anak-anak bisa berlarian, bersosialisasi, dan belajar di ruang terbuka. Sementara di Mojokerto, ruang seperti itu masih terasa langka.
Psikolog Hence Virgorina menegaskan, taman bermain adalah hak dasar anak. “Ini bukan soal hiburan. Bermain membentuk fisik, emosi, kreativitas dan keterampilan sosial. Kalau ini diabaikan maka kita sedang mempertaruhkan kualitas generasi mendatang,” jelasnya.
Ironi makin terasa ketika Bupati Mojokerto, Muhammad Al Barra, menyampaikan pidato di Hari Anak Nasional 2025. Ia menekankan pentingnya ekosistem sehat agar anak tumbuh menjadi generasi unggul.
"Anak membutuhkan lingkungan yang mendukung, bukan hanya sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat,” katanya penuh retorika.
Namun, begitu wartawan menanyakan langsung soal minimnya taman bermain di Mojokerto, jawaban yang keluar hanyalah: “Nanti akan dipikirkan.” Setelah itu, sang bupati bergegas meninggalkan lokasi, diarahkan oleh asistennya.
Kontras ini menimbulkan kesan bahwa pidato hanyalah formalitas. Di satu sisi, bupati bicara soal masa depan anak sebagai aset bangsa. Di sisi lain, kebutuhan paling sederhana justru tidak mendapat perhatian.
Publik berhak mempertanyakan: apa arti pidato jika kenyataannya anak-anak Mojokerto hanya bisa bermain dengan fasilitas seadanya? Bagaimana mungkin membicarakan generasi unggul jika ruang bermain sebagai fondasi tumbuh kembang saja tidak tersedia?
Sejatinya, menyediakan taman bermain bukanlah proyek mewah, melainkan investasi kecil dengan dampak besar. Ia menciptakan ruang bagi anak untuk bertumbuh sehat, membangun karakter, dan belajar bersosialisasi. Lebih jauh, ia menjadi simbol kepedulian pemerintah terhadap warganya yang paling rentan: anak-anak.
Anak-anak Mojokerto tidak butuh janji, mereka butuh ruang nyata untuk bermain. Dan sampai hari ini, kalimat “nanti akan dipikirkan” hanya meninggalkan kesan bahwa hak anak belum benar-benar menjadi prioritas.
Editor : Ali Topan