x
x

Eksportir Jatim Sebut Krisis Laut Merah Picu Kenaikan Biaya Logistik Ratusan Persen

Selasa, 26 Mar 2024 21:53 WIB

Reporter : Peni Widarti

JATIMKINI.COM, Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur menyebut biaya logistik kapal mengalami kenaikan 209% sampai 238% karena dampak adanya krisis Laut Merah.

Wakil Ketua GPEI Jatim, Sri Rahayu mengatakan selain adanya konflik geoplitik seperti perang Rusia - Ukraina dan Israel - Palestina, saat ini bertambah kondisi yang menggangu kinerja logistik di seluruh dunia yakni adanya krisis Laut Merah.

“Ini yang lagi happening. Dukungan pasukan Houthi dari Yaman untuk Palestina terhadap genosida Israel di Gaza diwujudkan dengan mencegah lalu lintas kapal yang terkait Israel atau bertujuan Israel. Akibatnya, kapal-kapal yang biasanya melalui Laut Merah atau Terusan Suez saat ini harus berputar jauh melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan,” ujarnya dalam Jatim Talk - EJavec 2024 yang digelar Bank Indonesia Jatim, Selasa (26/3/2024).

Padahal, lanjutnya, Terusan Suez merupakan rute tercepat antara Asia dan Eropa. Jalur ini pun mengakomodasi 15% - 20% perdagangan laut global. The Global Trade Research Initiative pun memperkirakan dampak ekonomi global atas perubahan rute pelayaran tersebut akan meningkat.

“Untuk pengiriman yang nilai barangnya tinggi paling terpengaruh dengan pengalihan rute ke Tanjung Harapan, dan pengiriman bernilai rendah, kapal pengangkut curah masih melintasi laut merah,” imbuhnya.

Dia menambahkan, dampak Krisis Laut Merah ini pun akhirnya membuat biaya pengiriman kontainer berukuran 10 feet yang sebelumnya hanya US$975 naik menjadi US$3.300 atau naik 238%, dan kontainer 40 feet sebelumnya US$1.650 naik menjadi US$5.100 atau naik 209%.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia - Jatim, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tahun ini tampaknya kondisi global tidak banyak perubahan, bahkan akan lebih lambat dari 2023, salah satunya karena faktor geopolitik yang masih berlanjut, termasuk bertambahnya krisis Laut Merah.

“Ini akan beri pengaruh pada jalur distribusi dan ongkos transportasi yang mulai naik. Inflasi global juga menjadi challenging. Jadi bank sentral diperkirakan akan menurunkan suku bunga di semestser II, kalau optimistis ya di kuartal II The Fed akan turunkan suku bunga,” ujarnya.

Menurut Erwin, jika kondisi global seperti itu, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan bertumpu pada stabilitas domestik. Pertumbuhan ekonomi Jatim pun tahun ini diproyeksi 4,7% - 5,5% karena didukung 39 kegiatan Pilkada yakni di 38 kota/kabupaten dan 1 provinsi. 

“Mudah-mudahan ini bisa jadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Jatim. Sedangkan inflasi, kami masih optimistis akan melandai dalam range proyeksi 2,5% +- 1%,” tambahnya.

Untuk itu, lanjut Erwin, diperlukan strategi dalam menghadapi tantangan ekonomi tahun ini, di antaranya seperti memperkuat kolaborasi dan sinergi. Dalma EJavec ini pun dilakukan kolaborasi dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dan Universitas Airlangga.

“Dalam EJavec ini kita lakukan kompetisi paper skala nasional. Berbagai isu strategis, pemikiran dan solusi kreatif diharapkan tidak hanya ditulis dalam kajian akademis di paper tetapi kalau bisa turun ke tataran yang lebih implementatif akan sangat bermanfaat bagi Jatim sebagai masukan,” imbuh Erwin.

 

 

Editor : Peni Widarti

LAINNYA