JATIMKINI.COM, Kinerja pasar modal Jawa Timur menunjukkan tren positif sepanjang awal 2026. Sejumlah indikator utama, mulai dari pertumbuhan investor reksa dana, penghimpunan dana securities crowdfunding (SCF), hingga aktivitas transaksi saham, mencatatkan peningkatan secara tahunan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa Jawa Timur terus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan pasar modal nasional. Peningkatan partisipasi investor ritel dan berkembangnya alternatif pendanaan bagi pelaku usaha menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut.
“Salah satu indikator yang menonjol dalam kinerja pasar modal Jawa Timur adalah pertumbuhan penghimpunan dana melalui securities crowdfunding (SCF),” kata Plh Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur, Horas V. M. Tarihoran, Senin (22/6/2026).
Hingga April 2026, total dana yang dihimpun melalui SCF mencapai Rp65,79 miliar, atau tumbuh 61,66 persen secara tahunan (year on year/yoy). “Realisasi ini menunjukkan semakin besarnya minat pelaku usaha dan investor terhadap instrumen pendanaan berbasis pasar modal yang lebih inklusif,” lanjut Horas.
Dari sisi sektor usaha, penghimpunan dana SCF didominasi sektor barang konsumen primer dengan kontribusi mencapai 39,89 persen atau sekitar Rp26,24 miliar. Posisi berikutnya sektor barang konsumen nonprimer 21,97 persen dan sektor barang baku sebesar 20,01 persen.
Horas menambahkan jika jumlah penerbit SCF di Jawa Timur pada April 2026 sebanyak 35 pihak, naik 12,90 persen secara tahunan. Jumlah pemodal juga tumbuh menjadi 8.074 investor, naik 7,71 persen secara tahunan.
“Pertumbuhan investor juga menjadi indikator kuat, bahwa kinerja pasar modal Jawa Timur semakin solid. Bahkan per Maret 2026, jumlah nasabah reksa dana perorangan mencapai 188.312 investor, naik 44,74 persen secara tahunan,” ujar Horas menjelaskan.
Sementara jumlah investor institusi mencapai 2.181 nasabah, meningkat 84,83 persen secara tahunan.
Bagi OJK Jawa Timur, peningkatan investor tersebut sejalan dengan melonjaknya nilai transaksi reksa dana. Penjualan reksa dana pada Maret 2026 mencapai Rp180,82 miliar, naik 177,82 persen y-o-y. Dari sisi transaksi berbasis dolar AS, pertumbuhan mencapai 627,93 persen.
“Capaian ini menegaskan semakin tingginya literasi dan minat masyarakat Jawa Timur terhadap instrumen investasi pasar modal, khususnya reksa dana,” tegasnya memungkasi.
Sementara itu, di tengah dinamika pasar nasional, aktivitas investor saham di Jawa Timur juga berjalan di jalur hijau. Sepanjang tahun berjalan (year to date/y-t-d), investor Jatim membukukan net buy sebesar Rp4,127 miliar. Sedangkan secara bulanan (month to date/mtd), nilai net buy tercatat Rp2,679 miliar.
Rata-rata transaksi saham bulanan periode Januari hingga April 2026 mencapai Rp50,42 miliar. Horas mengakui aktivitas ini cerminan investor Jatim masih aktif berpartisipasi di pasar saham, meski kondisi pasar bergerak fluktuatif.
Editor : Rochman Arief