Mundakir Resmi Jadi Guru Besar Umsura, Soroti Layan Kesehatan Holistik

Reporter : Rochman Arief
Rektor Umsura, Prof., Dr., Mundakir mendapat ucapan selamat dari Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi (tengah) usai pengukuhan guru besar Umsura. (foto: dok.Umsura).

JATIMKINI.COM, Mundakir resmi menjadi profesor baru Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura). Dalam pengukuhan guru besarnya, ia menyerukan transformasi paradigma asuhan keperawatan dari biomedis menuju pendekatan manusia seutuhnya, di Auditorium At-Tauhid Tower Kamis (30/4/2026).

Di hadapan sivitas akademika, keluarga, dan tamu, Prof. Dr Mundakir, S.Kep, Ns, M.Kep membawakan orasi ilmiah bertajuk “Bridging Psychosocial Gaps in Nursing: Knowledge Translation untuk Indonesia di Era Disrupsi.”

Baca juga: Akademisi Umsura Kritik Kebijakan Kemdiktisaintek Tutup Prodi Nggak Laku

Mundakir membuka dengan sebuah paradoks yang menggugah. Di tengah kemajuan teknologi kesehatan yang pesat, kebutuhan emosional, sosial, dan spiritual pasien justru semakin terabaikan. 

Paradigma biomedis yang masih dominan dalam layanan keperawatan Indonesia, tegasnya, telah mereduksi manusia menjadi sekadar tubuh yang sakit.

“Pasien tidak hanya menderita karena patologi penyakitnya, tetapi karena ketidakpastian dan kurangnya dukungan utuh selama proses perawatan,” ujar Mundakir.

Guru besar bidang keperawatan ini memaparkan data yang mencengangkan. Secara global, satu dari tujuh penduduk dunia hidup dengan gangguan mental. Sementara satu dari enam orang muda mengalami kesepian kronis, merujuk data WHO 2025.

Di Indonesia, kondisi ini tak kalah mengkhawatirkan. Sebanyak 46 juta remaja menghadapi tantangan kesehatan yang kompleks. Dan 5,5 persen remaja usia 10-17 tahun mengalami gangguan mental berdasarkan data I-NAMHS 2023.

Prof., Dr., Mundakir menyampaikan orasi ilmiah di hadapan civitas akademika. (Foto: dok.Umsura)

Selain itu, 61 persen remaja yang mengalami depresi memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidupnya. Hanya 10,4 persen yang benar-benar mencari bantuan medis.

Baca juga: Pemerintah Batasi Akun Media Sosial Anak, Pakar Umsura: Regulasi Algoritma Lebih Penting

“Kesenjangan ini bukan sekadar statistik. Ini adalah kegagalan sistem yang mendeteksi dan menjangkau manusia yang paling rentan,” tegas Mundakir.

Mundakir turut menyoroti empat tekanan sistemik yang mengancam pondasi keperawatan Indonesia. Pertama, tingginya angka burnout perawat yang mencapai 33,5 hingga 37,5 persen. 

Kedua, transformasi digital yang berorientasi murni pada efisiensi. Ketiga, ledakan misinformasi di media sosial memicu ketakutan irasional pada pasien dan melipatgandakan beban edukasi bagi perawat. 

Sedangkan persoalan keempat, fragmentasi sistem membuat praktik asuhan holistik belum terintegrasi, dan family-centered nursing belum menjadi indikator kinerja baku di rumah sakit.

Baca juga: Pasar Rakyat Ramadan EcoFest Umsura Diserbu Warga, 54 UMKM Ramaikan Milad ke-42

Dalam tawaran solusinya, Mundakir memperkenalkan konsep triangulasi psikososial yang dirancang untuk konteks Indonesia. Penyembuhan pasien seutuhnya, menurutnya, harus bertumpu pada tiga pilar. Kompetensi kultural, kolektivisme sosial melalui keluarga, serta spiritualitas sebagai sumber makna dan harapan.

“Keputusan medis di Indonesia jarang bersifat individual. Keluarga adalah mediator sekaligus sistem pendukung emosional utama. Sementara sakit kerap dimaknai sebagai ujian atau perjalanan spiritual. Bukan sekadar urusan agama formal, melainkan ketenangan batin melalui doa, zikir, atau meditasi,” jelasnya.

Puncak orasi ditandai dengan pengenalan kerangka kerja orisinal yang ia namai KT-Psiko (Knowledge Translation Psikososial). Sebuah siklus tujuh langkah implementasi. 

Di antaranya meliputi mengenali kesenjangan praktik, menerjemahkan bukti ilmiah, mempersonalisasikan konteks, menyingkirkan hambatan, mengimplementasikan secara bertahap, mengontrol proses dan hasil, serta mengorganisasikan secara berkelanjutan.

Editor : Rochman Arief

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru