JATIMKINI.COM, Ketergantungan pada cuaca menjadi salah satu kendala yang dihadapi pelaku UMKM kerupuk di Kenjeran, Surabaya. Terutama dalam proses pengeringan yang selama ini mengandalkan sinar matahari.
Persoalan tersebut coba diatasi melalui penerapan mesin pengering hemat energi. Teknologi tepat guna ini diperkenalkan kepada pelaku UMKM kerupuk di Kenjeran melalui program pengabdian Universitas Muhammadiyah Surabaya, yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek 2026.
Penerapan mesin pengering hemat energi ditujukan untuk membuat proses produksi lebih cepat dan terkontrol. Pelaku usaha tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca ketika mengeringkan kerupuk.
Sebelum menggunakan teknologi tersebut, proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar 24 hingga 72 jam. Setelah menggunakan mesin, waktu pengeringan dapat dipangkas menjadi sekitar 4 hingga 6 jam.
Perubahan itu turut berdampak pada kapasitas produksi. Sebelum penerapan teknologi tepat guna, produksi berada di kisaran 20–30 kilogram per hari. Setelah menggunakan mesin pengering, kapasitas meningkat menjadi sekitar 50–80 kilogram per hari.
Tak Hanya Mengandalkan Sinar Matahari
Selama ini, cuaca menjadi faktor yang sulit dikendalikan dalam proses produksi kerupuk. Ketika hujan turun atau matahari tidak cukup terik, proses pengeringan menjadi lebih lama.
Kondisi tersebut berisiko menghambat pemenuhan permintaan konsumen. Karena itu, penggunaan mesin pengering hemat energi menjadi salah satu solusi untuk menjaga kontinuitas produksi.
Teknologi tersebut memungkinkan proses pengeringan berlangsung lebih terkontrol. Pelaku UMKM juga dapat mengatur produksi dengan lebih baik tanpa harus menunggu kondisi cuaca benar-benar mendukung.
Namun, peningkatan kapasitas produksi tidak serta-merta menjamin usaha berkembang. Karena itu, program pengabdian tersebut tidak berhenti pada penerapan mesin.
Tim juga memberikan pendampingan mengenai pemasaran dan manajemen usaha.
“Penerapan teknologi harus diikuti dengan penguatan manajemen usaha dan pemasaran. Karena itu, program ini tidak hanya berfokus pada mesin pengering, tetapi juga bagaimana produk UMKM memiliki daya saing dan usaha dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujar Halimatus Sa’diyah, ketua tim pengabdian.
Pendampingan pemasaran dilakukan melalui penguatan konsep marketing mix. Pelaku UMKM didorong untuk mengembangkan produk, menentukan harga yang sesuai, memperluas saluran distribusi, serta meningkatkan promosi.
Langkah tersebut diperlukan agar peningkatan kapasitas produksi sejalan dengan kemampuan menyerap pasar.
Tim pengabdian juga memberikan pendampingan manajemen keberlanjutan usaha. Mitra diarahkan untuk lebih tertib dalam mengelola proses produksi, mengendalikan biaya, menjaga kualitas produk, hingga melakukan pencatatan keuangan.
"Kemampuan menyusun perencanaan pengembangan usaha juga menjadi bagian dari pendampingan," lanjutnya.
Di sisi lain, pelaku UMKM mendapatkan sosialisasi dan pendampingan agar mampu mengoperasikan mesin pengering hemat energi secara mandiri.
Dengan begitu, teknologi yang diberikan tidak sekadar menjadi bantuan alat, tetapi dapat digunakan sebagai bagian dari aktivitas produksi sehari-hari.
Penerapan teknologi tepat guna menjadi salah satu pendekatan untuk membantu UMKM pangan menghadapi persoalan produksi. Terutama bagi usaha yang masih bergantung pada proses pengeringan secara konvensional.
Dalam konteks UMKM kerupuk Kenjeran, teknologi pengering diharapkan mampu menjaga kesinambungan produksi sekaligus meningkatkan efisiensi.
Program tersebut juga menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kapasitas pelaku usaha. "Teknologi, pemasaran, dan manajemen usaha dipadukan agar UMKM tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga lebih siap menghadapi persaingan," urai Halimatus.
Ke depan, penerapan mesin pengering hemat energi diharapkan memberi dampak berkelanjutan bagi pelaku UMKM kerupuk di Kenjeran. Mulai dari penghematan waktu produksi, peningkatan kapasitas, menjaga kualitas produk, hingga memperkuat kemandirian usaha.
Dengan teknologi yang lebih adaptif terhadap kondisi cuaca dan pasar, kerupuk Kenjeran diharapkan tidak sekadar bertahan sebagai produk pangan lokal. Namun, juga mampu berkembang menjadi salah satu potensi ekonomi masyarakat Surabaya.
Editor : Rochman Arief