JATIMKINI.COM, Sebanyak 600 Kepala Keluarga (KK) di Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, kini mendapatkan layanan air bersih dengan biaya terjangkau. Warga semringah setelah Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Widya Gama (UWG) Malang hadir memberikan solusi dengan menerapkan teknologi.
Pembangunan tandon baru air lengkap dengan filter mampu menurunkan biaya listrik PLN berimbas mengurangi beban masyarakat. Air baku untuk minum dan memasak pun lebih bersih dan sehat.
Tim PKM UWG, yakni dosen Program Studi S1 Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Dr. Ir. Sabar Setiawidayat, MT (S1 & S2 Teknik Elektro UB & ITS, S3 Teknik Kedokteran UB) dan Dedi Usman Effendy, ST. MT (S1 & S2 Teknik Elektro UWG & UB). Keduanya bersama dosen Program Studi S1 Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Prof. Dr. Ir. Ririn Prihandarini, MP (S1 & S2 Ilmu tanah UB & IPB, S3 Mikrobiologi tanah Unair).
Mereka melakukan pengabdian masyarakat dengan membangun tandon air baru sebagai upaya pengurangan biaya listrik pompa dan peningkatan mutu air. Program itu merupakan skema pemberdayaan berbasis masyarakat dengan ruang lingkup pemberdayaan kemitraan masyarakat. Program terlaksana atas dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi.
Pengabdian masyarakat ini bergulir sejak tahun 2022 yang prosesnya berkelanjutan sampai sekarang.
Ketua Tim PKM UWG, Sabar Setiawidayat menyatakan bahwa 600 Kepala Keluarga (KK) tersebar di 11 Rukun Tetangga (RT) Desa Ngadireso telah menerima manfaat air bersih dengan biaya lebih terjangkau.
Sebelumnya, warga menghadapi problem mahalnya biaya listrik PLN untuk operasional pompa air Program Water and Sanitation for Low Income Communities (WISLIC) dalam mendistribusikan air ke saluran rumah warga.
Akibatnya, Badan Pengelola Sumber Air Bersih dan Sanitasi (BPSAB-S) desa setempat kerap kelimpungan lantaran terbebani biaya listrik antara Rp9 juta hingga Rp11 juta per bulan. Selain itu, ada persoalan kualitas air baku yang keruh sehingga warga terpaksa harus menyaring air secara mandiri untuk keperluan minum dan memasak.
Melihat persoalan itu, Tim PKM UWG hadir di masyarakat untuk memberikan solusi dengan menerapkan teknologi dan inovasi. Survei pun dilakukan melibatkan mitra pengelola BPSAB-S dan perangkat Desa Ngadireso.
"Selanjutnya membangun tandon baru di Gunung Keris dan mengalirkan air ke tandon utama," kata Ketua Tim PKM UWG, Sabar Setiawidayat, Senin (24/8/2026).
Sabar Setiawidayat menjelaskan tandon air baru mendapat suplai air dari sumber Dusun Jajang, Desa Sumberejo, yang sudah terpipanisasi sepanjang 7 kilometer. Tandon baru itu memiliki volume 6 meter kubik dengan debit perkiraan 1,5 liter per detik. Pembangunan tandon lengkap dengan jaringan perpipaan sepanjang 320 meter.
"Perpipaan mengalirkan air dari sumber air tandon Jajang ke tandon baru. Lalu, air dari tandon baru dialirkan secara gravitasi ke tandon filter kedua dengan volume 9 meter kubik. Selanjutnya, air masuk ke tandon utama dengan volume 90 meter kubik," tegas Sabar Setiawidayat didampingi Agus Wahyudi, warga Desa Ngadireso juga sebagai Ketua Pelaksana Pembangunan.
Dari tandon utama, lanjutnya, air didistribusikan secara gravitasi ke warga RT 1-11. Dampak dari adanya tandon baru ini telah memberikan manfaat luas, yakni kualitas air dapat digunakan untuk kebutuhan memasak dan air minum. Teknologi yang diterapkan juga memberikan efek berganda mengurangi biaya pembayaran listrik per bulan karena beban kerja pompa listrik semakin berkurang.
"Keberadaan tandon baru dapat mengurangi beban kerja pompa air energi listrik, bahkan dapat menghentikan kerja mesin," ungkapnya.
Alhasil, pembayaran listrik dari operasional pompa dapat ditekan secara minimal sehingga lebih murah. Sebelum adanya teknologi tandon baru dan filter dari Tim PKM UWG, biaya listrik ditanggung oleh pengelola sumber air bisa mencapai Rp10 juta per bulan. Kini, beban warga semakin ringan karena biaya rekening air lebih terjangkau dipatok Rp1.000 per meter kubik.
Bahkan, air baku yang digunakan warga pun lebih bersih dan sehat karena dua tandon telah dilengkapi dengan filter.
Selama ini, Tim PKM UWG terus mendampingi masyarakat secara berkelanjutan sembari mendorong peningkatan mutu air baku melalui uji kualitas guna mengetahui kandungan zat-zat kimia.
Pengelola sumber air juga perlu mendapatkan surat resmi berkekuatan hukum yang dikeluarkan oleh pejabat berwenang atau pemangku kepentingan. Termasuk BPSAB-S yang sudah ada perlu ditingkatkan agar berbadan hukum.
Sumber: Tim PKM UWG Malang
Editor : Bagus Suryo