JATIMKINI.COM - Kelompok Kerja Jurnalis Dewan Surabaya ( Pokja Judes) menutup kegiatan diskusi santai bertema “Menjaga Semangat Kemerdekaan: Sinergi Media dan DPRD Mengawal Masa Depan Surabaya”, di Lantai 1 Gedung DPRD Surabaya, Kamis (20/08/2026).
Hadir sebagai narasumber, Sekretaris DPD PSI DPRD Surabaya sekaligus anggota Komisi B, Yuga Pratipsadda Widyawasta, Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim, serta akademisi FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya Abd Aziz.
Mereka ungkap sinergi antara media, anggota DPRD, dan kalangan akademisi dalam menjalankan tugasnya mengawal pembangunan Kota Surabaya.
Yuga menyatakan, semangat kemerdekaan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial saja.Namun, kemerdekaan harus diisi perubahan merupakan tanggung jawab bersama. Lebih - lebih sebagai pemuda melakukan kerja nyata untuk meneruskan perjuangan para pahlawan bangsa.
“Kita harus memaknai dan menghargai seluruh perjuangan pahlawan yang telah memerdekakan negara ini. Mereka tidak hanya berkorban secara fisik, tetapi juga materi, rohani, bahkan meninggalkan keluarga demi kemerdekaan,” ujarnya.
Politisi PSI ini mengungkapkan, anggota DPRD memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengisi kemerdekaan, yaitu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Utamanya fungsi legislasi dan pengawasan dalam pemerintahan Kota Surabaya.
“DPRD mempunyai peran sebagai legislasi dan pengawas di Kota Surabaya, supaya masyarakat menjadi masyarakat yang makmur. Produk peraturan daerah yang mengatur tata cara kehidupan masyarakat,” katanya.
Sementara itu Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim menjelaskan, tentang kemampuan Surabaya membangun ketahanan fiskal dan mengembangkan potensi ekonominya. Ia mengingatkan bahwa tingginya Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum otomatis menunjukkan optimalnya kemandirian fiskal.
“Kita boleh bangga bahwa PAD Surabaya ini tinggi. Tetapi rasio PAD terhadap total pendapatan masih sekitar 62 sampai 64 persen. Kabupaten Badung di Bali mencapai sekitar 92 persen. Artinya, ketahanan fiskalnya jauh lebih mandiri,” ungkapnya.
Lutfil juga menegaskan, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi DPRD dan Pemkot Surabaya, terlebih dengan adanya penurunan Transfer ke Daerah (TKD). Ia menilai Surabaya harus memiliki visi yang lebih kuat untuk mengembangkan sumber ekonomi sebuah kota.
Kemudian Lutfil menyentil sektor perdagangan dan industri yang menjadi salah satu penggerak utama perekonomian Surabaya. Namun begitu, sejauh mana pemerintah kota dan DPRD membangun relasi strategis dengan kawasan pelabuhan yang memiliki peran penting dalam arus keluar-masuk barang ?
“Kalau di Singapura, dwelling time sekitar enam jam, sementara di sini masih enam hari. Ini menghambat. Pemerintah Kota harus tahu bagaimana barang keluar-masuk bisa berjalan lancar,” ujarnya.
Lutfil lebih jauh menyoroti perkembangan kawasan permukiman di Surabaya Barat. Menurutnya, pembangunan kawasan oleh pengembang semestinya dikaitkan dengan dampak ekonomi yang lebih luas bagi kota, termasuk kontribusinya terhadap penerimaan asli daerah.
“Apakah eksekutif yang disupport legislatif sudah memberikan hal-hal positif terhadap pertumbuhan yang notabene juga membantu perekonomian? Ini saya kira penting,” tegasnya.
Dari perspektif akademisi, Abd Aziz menempatkan peran media sebagai salah satu elemen penting dalam demokrasi. Ia menyebut pers memiliki fungsi penyampaian informasi sekaligus kontrol sosial.
“Media dianggap sebagai pilar keempat demokrasi, melengkapi legislatif, yudikatif, dan eksekutif. Fungsi media adalah penyampaian informasi dan kontrol sosial,” ujarnya.
Menurut Aziz, kinerja DPRD yang tidak diketahui masyarakat berpotensi menimbulkan persepsi negatif anggota DPRD. Maka, publikasi menjadi penting agar masyarakat mengetahui proses legislasi, rapat, hearing, pengawasan, maupun kegiatan DPRD di tengah masyarakat.
Namun begitu, Aziz menyoroti oknum media yang menjadi corong pemerintah atau DPRD. Sehingga pers kehilangan daya kritisnya.
“Walaupun sebagai penyampai informasi, media jangan melepaskan fungsi kontrol sosial. Kebijakan pemerintah yang tidak transparan perlu dikritik.
Ketua Pokja Judes Inyong Maulana mengatakan, diskusi tersebut merupakan puncak rangkaian kegiatan diskusi santai dalam memperingati HUT ke-81 RI . Sekian narasumber sudah di tampilkan, baik tokoh lokal maupun nasional, semua berjalan dengan baik.
“Semangat teman-teman Judes cukup membanggakan. Diskusi puncak ini menjadi momen untuk berbagi ilmu dan pengetahuan, terutama kepada teman-teman mahasiswa serta pers kampus, agar mendapatkan wawasan jurnalistik yang aman dan menjadi bekal,” pungkasnya.
Editor : Ali Topan