JATIMKINI.COM, Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 resmi ditutup. Selama 3 hari di Surabaya, festival ini mencatatkan potensi transaksi besar sekaligus memperkuat ekosistem produk unggulan Jawa di tengah tantangan ekonomi global.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, menyebut JCFF 2026 adalah ruang kolaborasi nyata seluruh ekosistem.
"Hari ini adalah penutupan kegiatan JCFF yang merupakan tahun ke-5 kita selenggarakan di Kota Surabaya Jawa Timur. Ini bukan suatu akhir, namun sesungguhnya yang berakhir hanya seremoninya saja. Semangatnya kami harapkan akan terus berkembang dan terus maju," ujar Ibrahim, Minggu (20/7/2026).
Sepanjang gelaran, JCFF 2026 melibatkan 72 UMKM binaan Kantor Perwakilan BI se-Jawa dan lebih dari 25 UMKM binaan Pemkot Surabaya, ditambah pelaku artisan tea dan modern coffee shop.
Antusiasme masyarakat tinggi. Total pengunjung luring dan daring mencapai lebih dari 160.000 orang.
Dari sisi bisnis, business matching perdagangan dan pembiayaan membukukan potensi transaksi Rp92,45 miliar. Rinciannya: 31 komitmen pembiayaan senilai Rp20 miliar yang melampaui target, dan 54 Letter of Intent (LoI) perdagangan senilai Rp67 miliar. Transaksi langsung UMKM di lokasi juga mencapai sekitar Rp1 miliar. Bahkan stok dagangan sebagian besar UMKM menipis.
"Perjalanan 5 tahun ini menunjukkan 1 hal. Yang tumbuh bukan hanya acaranya, tetapi juga ekosistemnya yang semakin kuat dan semakin luas dan semakin memberikan manfaat yang lebih baik pada masyarakat," kata Ibrahim.
Jawa Punya Modal Kuat: Produksi Kopi-Teh 250 Ribu Ton
Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, menegaskan Jawa memiliki modal kuat berupa komoditas kopi, teh, dan rempah yang sekaligus bernilai budaya.
"Dalam konteks ini, Jawa memiliki modal yang kuat, memiliki komoditas, kopi, atau teh dan rempah-rempah yang menjadi kekuatan. Sekaligus bernilai budayanya," ujar Filianingsih.
Data 2024 menunjukkan produksi kopi, kakao dan teh di Jawa tetap terjaga pada kisaran 220.000 ton - 250.000 ton. Sementara produksi rempah mencapai sekitar 540.000 ton.
"Hal ini semua menjadi fondasi penting bagi industri makanan, minuman, dan produk herbal," lanjutnya.
Khusus Jawa Timur sebagai sentra utama kopi dan kakao, komoditas unggulan daerah ini tetap berdaya saing di pasar internasional meski ada perlambatan global.
Meski begitu, Filianingsih melihat masih ada ruang besar untuk menciptakan nilai tambah, terutama pada peningkatan kualitas kopi.
Dorong Ekosistem Digital: QRIS & Kuliner
Ke depan, BI akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan industri pembayaran untuk memperluas ekosistem ekonomi keuangan digital.
"Kami akan mendorong digitalisasi transaksi UMKM maupun pemerintah daerah agar semakin inklusif. Kita melihat bahwa pertumbuhan QRIS terus meningkat dan ini menjadi manfaat nyata bagi UMKM dan perekonomian daerah," tegas Filianingsih.
BI juga sengaja memilih sektor kuliner sebagai pengungkit. Sebab sektor ini punya daya angkut besar dengan 11,9 juta merchant di makanan dan minuman, atau sekitar 25ri seluruh total merchant. Sektor ini juga menyerap 23,8ri belanja wisatawan.
"Kami berusaha melakukan sinergi untuk menghubungkan kuliner, pariwisata, pembayaran digital untuk memperkuat UMKM dan menggerakkan ekonomi lokal," pungkasnya.
Dengan dukungan Pemprov, Pemkot, OPD, perbankan anggota BMPD Jatim, komunitas, akademisi, dan masyarakat, JCFF diharapkan terus menjadi jembatan cita rasa lokal Indonesia untuk dinikmati dunia.
Editor : Peni Widarti