JATIMKINI.COM, DPW PKS Jawa Timur menggelar Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ), Minggu (1/3/2026). Ajang ini diikuti 38 DPD kabupaten/kota yang mengirimkan perwakilan terbaiknya.
Di ajang ini terdapat sau peserta yang mampu menyita perhatian publik. Ia adalah Harianto (57), peserta asal Kota Madiun. Suaranya mampu menghipnotis seluruh peserta maupun panitia.
Ia yang tunanetra sejak lahir melantunkan ayat-ayat suci dengan suara tenang dan hafalan yang kokoh. Para peserta dan dewan juri menyimak dengan takzim.
Harianto mengaku menghafal Al-Qur’an terdengar sederhana, tetapi sulit dilakukan. Jalan yang ia pilih menghafal setiap juz dalam huruf braille membutuhkan satu buku tebal. Jelas ini berbeda dengan masyarakat awam pada umumnya.
“Kalau 30 juz bisa satu becak. Jadi lebih baik dimasukkan ke kepala saja supaya ringan dibawa,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima, Senin (2/3/2026).
Harianto menghafal melalui mushaf braille dan murotal yang diputar berulang-ulang. Ia tak pernah membayangkan mengikuti lomba. Baginya, menghafal Al-Qur’an adalah bentuk syukur dan kebutuhan batin. “Saya hanya ingin dekat dengan Al-Qur’an,” tuturnya lirih.
Salah satu penguji, Komari dari Biro Al-Qur’an BKAP DPW PKS Jawa Timur, mengaku terharu mendengar bacaan Harianto. Hafalannya dinilai kuat dan tajwidnya terjaga.
“Ini pelajaran bagi kita. Kalau beliau dengan keterbatasan saja bisa menghafal 11 juz, apa alasan kita yang sehat untuk tidak dekat dengan Al-Qur’an?” katanya.
Kini, di sela aktivitasnya mengajar Al-Qur’an di Madiun dan memanfaatkan teknologi berbasis suara untuk belajar, Harianto menargetkan menuntaskan 30 juz. Di tengah kompetisi yang melibatkan 38 daerah, kisahnya menjadi pengingat bahwa kekuatan hafalan bukan soal ingatan, tetapi tentang keteguhan hati.
Ajang yang digelar di Kantor DPW PKS Jatim itu menjadi bagian dari rangkaian program Ramadan sekaligus panggung konsolidasi nilai-nilai Qur’ani di internal partai. Ratusan peserta yang hadir merupakan hasil seleksi berjenjang dari daerah, memperebutkan tiket untuk melaju ke tingkat nasional dan bersaing dengan perwakilan provinsi lain di Indonesia.
Sekretaris DPW PKS Jawa Timur, Muhamad Syadid, menyebut MHQ sebagai momentum spiritual, bukan hanya kompetisi tahfidz. Ia menggambarkannya sebagai “pesta langit”, tempat para penghafal Al-Qur’an menjadi bintang utama.
“Jangan hanya membawa pulang trofi. Sepulang dari sini, tugasnya menghadirkan pelayanan di tengah masyarakat. Dekat dengan Al-Qur’an dan harus tercermin dalam akhlak yang menebar kebaikan,” tegasnya.
Editor : Rochman Arief