JATIMKINI.COM, Peristiwa pembacokan terhadap seorang mahasiswi di ruang sidang munaqosah UIN Suska Riau pada Kamis (26/2/2026) pagi kemarin menjadi sorotan dari langsung dari Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Moh. Kurjum.
Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan tinggi.
Kurjum menambahkan, bahwa peristiwa itu ada persoalan serius terkait kematangan emosional dan pembinaan karakter generasi muda.
“Kampus tidak hanya mendidik aspek intelektual, tetapi juga membentuk karakter. Ketika seseorang tidak mampu mengelola kekecewaan dan penolakan, ruang akademik bisa berubah menjadi ruang konflik,” kata Prof Kurjum menanggapi peristiwa pembacokan yang terjadi dilingkup UIN Suska Riau
Ia menegaskan, kecerdasan akademik tidak selalu sejalan dengan kedewasaan emosional. Relasi yang tidak sehat, ketergantungan emosional, serta lemahnya kontrol diri dapat menjadi kombinasi berbahaya.
Penolakan dalam relasi personal, sambung Prof Kurjum, seharusnya dipahami sebagai bagian wajar dari dinamika kehidupan, bukan ancaman terhadap harga diri.
Menurutnya , faktor keluarga memiliki peran mendasar dalam membentuk kontrol diri.
“Kematangan emosi tidak lahir tiba-tiba di bangku kuliah. Ia tumbuh dari pola asuh, komunikasi, dan nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini. Jika kontrol dan pendampingan keluarga melemah, individu bisa kehilangan batas dalam bertindak,” ujar Prof Kurjum
Disisi lain dia juga menyoroti pengaruh lingkungan dan media sosial yang kerap menormalisasi kekerasan tanpa konteks edukatif. Tanpa fondasi nilai yang kuat, narasi keliru tentang harga diri dan pembuktian diri dapat memicu tindakan impulsif.
Alarm Bagi Kepemimpinan Kampus
Dalam konteks lebih luas, Prof. Kurjum yang menyatakan kesiapannya maju sebagai calon rektor UINSA periode 2026–2030 menegaskan, pentingnya transformasi tata kelola kampus, termasuk penguatan sistem keamanan dan layanan kesehatan mental.
Beberapa waktu lalu, ia menyampaikan komitmennya untuk memperkuat mutu akademik, tata kelola yang transparan, serta membangun kampus yang inklusif dan berdaya saing global.
“UINSA harus terus bertransformasi menjadi perguruan tinggi Islam yang unggul dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, responsif terhadap kebutuhan masyarakat juga berarti memastikan kampus menjadi ruang aman bagi seluruh sivitas akademika. Ia mendorong agar perguruan tinggi memperkuat edukasi tentang relasi sehat, penghormatan terhadap keputusan orang lain, serta literasi emosional.
Selain itu, sistem keamanan kampus perlu ditingkatkan melalui mekanisme pengawasan dan respons darurat yang jelas. Mahasiswa juga perlu dibekali keterampilan resolusi konflik tanpa kekerasan serta akses konseling yang memadai ketika menghadapi tekanan psikologis.
Prof. Kurjum menegaskan, apa pun latar belakangnya, tidak ada alasan yang dapat membenarkan kekerasan. Tindakan tersebut tetap merupakan pelanggaran hukum dan norma kemanusiaan, dengan tanggung jawab pidana dan moral yang melekat pada pelaku.
Peristiwa di UIN Suska Riau menjadi cermin rapuhnya kontrol diri dan lemahnya ruang dialog dalam menyelesaikan konflik.
Tragedi ini, menurutnya bukan hanya tentang satu pelaku dan satu korban, melainkan tentang sistem pembinaan karakter yang perlu diperkuat, baik oleh keluarga maupun institusi pendidikan.
Dunia kampus diharapkan tidak sekadar menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan manusia yang matang secara intelektual dan emosional.
Harapannya, korban segera pulih dan proses hukum berjalan adil. Lebih dari itu, kampus harus kembali menjadi ruang aman, tempat gagasan dipertandingkan tanpa harus ada darah yang tertumpah. ( CR 05 )
Editor : Ali Topan