Dunia kampus kembali dihebohkan dengan Kasus pembacokan. Hal ini terjadi di UIN Suska Riau antara Raihan Mufazzar dan Farradhilla Ayu Pramesti yg telah menimbulkan kegemparan di kalangan masyarakat. Raihan, seorang mahasiswa semester 8 jurusan Ilmu Hukum, diduga melakukan pembacokan terhadap Farradhilla, mahasiswi semester 8, di ruang ujian munaqosah pada 26 Februari 2026.
Motif pembacokan masih dalam penyelidikan, namun beberapa sumber menyebutkan bahwa Raihan tidak terima ditolak oleh Farradhilla yang merupakan mantan pacarnya. Pembacokan tersebut menyebabkan Farradhilla mengalami luka serius, termasuk patah tulang tangan dan luka robek di kepala.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan tentang keamanan di lingkungan kampus dan pentingnya menjaga hubungan yang sehat. Pihak kampus telah memberikan pendampingan penuh kepada korban dan memastikan proses hukum terhadap pelaku berjalan lancar.
Raihan Mufazzar, pelaku pembacokan, telah diamankan oleh pihak kepolisian dan sedang menjalani pemeriksaan. Jika terbukti bersalah, ia dapat dijerat dengan pasal percobaan pembunuhan.
Kasus ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga emosi dan menyelesaikan konflik dengan cara yang damai. Semoga korban dapat segera pulih dan proses hukum dapat berjalan dengan adil.
Semoga kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menjaga hubungan yang sehat dan menghormati keputusan orang lain.
Menurut Hemat Penulis, ada 4 alasan kenapa Raihan berani lakukan pembacokan terhadap Farradhilla:
1. Gangguan Emosi: Raihan mungkin mengalami gangguan emosi yang tidak terkontrol, seperti kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan, yang membuatnya melakukan tindakan impulsif.
2. Ketergantungan Emosi: Raihan mungkin memiliki ketergantungan emosi yang kuat terhadap Farradhilla, sehingga ketika ditolak, ia merasa kehilangan kontrol dan melakukan tindakan yang tidak rasional.
3. Kurangnya Kontrol Diri dan Keluarga: Raihan mungkin memiliki kurangnya kontrol diri dan tidak mampu mengelola emosinya, sehingga membuatnya melakukan tindakan yang berujung pada kekerasan. Utamanya tidak adanya kontrol keluarga yg membuat dia bebas melakukan apa saja.
4. Pengaruh Lingkungan: Raihan mungkin terpengaruh oleh lingkungan sekitar, seperti teman-teman atau media sosial, yang membuatnya merasa bahwa kekerasan adalah cara untuk menyelesaikan masalah.
Namun, perlu diingat bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan kekerasan, dan Raihan harus bertanggung jawab atas perbuatannya.
Refleksi
Pada catatan akhir tulisan ini, penulis mengingatkan beberapa poin penting yg harus diajarkan oleh dunia kampus, antara lain :
1. Pentingnya menjaga hubungan yang sehat dan menghormati keputusan orang lain.
2. Keamanan di lingkungan kampus harus ditingkatkan
3. Ajarkan ke Mahasiswa akan Pentingnya menyelesaikan konflik dengan cara yang damai dan tidak menggunakan kekerasan.
Ditulis Oleh : Prof. Dr. H. Mohammad Kurjum, M.Ag
( Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya )
Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat umum, Politikus, pengamat, mahasiswa, pengusaha, organisasi serta lainnya untuk menulis berita lepas.
Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan dan foto
Editor : Redaksi