Suatu hari saya melihat dua hal yang kontras. Di panggung sebuah acara resmi, tarian daerah ditampilkan begitu megah. Busana adatnya indah, musik tradisional mengalun khidmat. Semua orang bertepuk tangan. Kita bangga menyebut diri sebagai bangsa yang berbudaya.
Namun malamnya, di ruang media sosial, orang-orang saling mencaci hanya karena beda pilihan. Kata-kata kasar beterbangan. Akal sehat seakan ditaruh di laci.
Saya pun bertanya dalam hati: yang kita jaga sebenarnya kebudayaan atau hanya penampilannya?
Kita sering menyempitkan kebudayaan menjadi kesenian. Seolah-olah selama festival tetap ada, kebudayaan aman.
Padahal kebudayaan bukan hanya tari dan lagu. Ia adalah cara kita bersikap, berbicara, dan mengambil keputusan. Kalau seni adalah wajah, maka kebudayaan adalah watak.
Belakangan ini, suasana bernegara terasa menguji kesabaran. Harapan saat pemilu begitu tinggi, tetapi kenyataan sering terasa berbeda arah.
Kebijakan terlihat jauh dari rasa keadilan. Janji terdengar indah saat kampanye, lalu terdengar samar setelah kekuasaan diraih.
Kekecewaan pun tumbuh. Sebagian menjadi sinis. Sebagian marah. Sebagian lagi memilih diam.
Namun jika direnungkan, mungkin yang sedang kita alami bukan sepenuhnya krisis kebudayaan. Yang lebih terasa adalah krisis keteladanan.
Rakyat belajar dari contoh.
Jika yang terlihat adalah saling serang, maka publik mudah ikut menyerang. Jika yang terdengar adalah pembenaran diri, maka masyarakat belajar membenarkan diri.
Budaya itu seperti air. Ia mengalir dari atas ke bawah. Jika hulunya keruh, hilirnya sulit jernih.
Dari sebuah cerita silat yang saya baca, saya menemukan penuturan seorang guru pada muridnya yang hendak turun gunung, bertutur, "Jika kita menyalahkan semua keadaan juga bukan jalan keluar."
Kebudayaan beradab tidak hanya bergantung pada elite. Ia hidup dalam pilihan kecil sehari-hari: tidak ikut menyebar kebencian, tidak memaki saat berbeda, berani mengkritik tanpa menghina."
Ironisnya, kita sering menuntut pemimpin berintegritas, tetapi lupa melatih integritas dalam hal kecil.
Kita ingin negara tertib, tapi malas antre. Kita marah pada korupsi besar, tapi menganggap remeh ketidakjujuran kecil.
Seolah-olah kita ingin peradaban yang tinggi tanpa mau berlatih menjadi warga yang dewasa.
Namun harapan belum hilang. Masih ada orang-orang yang menjaga akal sehat. Masih ada guru yang menanamkan nilai. Ada jurnalis yang menulis dengan tanggung jawab, dan warga yang memilih tenang meski dipancing emosi.
Mereka mungkin tidak ramai. Tapi peradaban memang jarang dibangun oleh yang paling ribut. Ia dibangun oleh yang paling konsisten.
Krisis keteladanan ini bisa menjadi peringatan, bukan akhir. Ia mengingatkan bahwa kebudayaan bukan sekadar yang kita pentaskan, melainkan yang kita praktikkan.
Jika kita ingin kebudayaan beradab kembali terang, maka bukan hanya lampu panggung yang perlu dinyalakan. Watak dan akal sehatlah yang harus dijaga.
Pada akhirnya, negara adalah cermin. Dan, cermin itu memantulkan wajah kita semua.
Penulis : Rokimdakas
Wartawan & Penulis
Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat umum, Politikus, pengamat, mahasiswa, pengusaha, organisasi serta lainnya untuk menulis berita lepas.
Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan dan foto
Editor : Redaksi