Tak ada kehidupan yang berjalan sepenuhnya ideal. Kita sering membayangkan kesempurnaan seperti bulan purnama bulat, utuh, terang.
Padahal, sebelum menjadi purnama, bulan melewati fase sabit, separuh, cembung. Ia bertumbuh perlahan. Ia tidak malu menjadi “belum penuh”. Justru dalam proses itulah tersirat makna kehadiran.
Begitulah hidup.
Yang sering kita rayakan adalah hasil. Padahal yang menempa kita menjadi kuat adalah proses. Hasil hanyalah dampak.
Proseslah yang membentuk kedewasaan, ketangguhan, dan kebijaksanaan. Pejuang sejati biasanya lebih menghargai proses daripada tepuk tangan di garis akhir.
Beberapa hari lalu, Musyawarah Kebudayaan Kota Surabaya digelar di Gedung Balai Pemuda, Sabtu, 14 Februari 2026.
Ada yang menilai prosesnya kurang terbuka. Ada yang bersuara miring dari luar ruangan. Itu wajar. Beda kepala, beda usia, beda pula cara menafsir kenyataan.
Saya termasuk salah satu dari 114 peserta yang lolos administrasi, menulis esai seribu kata, mengikuti voting, lalu masuk 23 besar untuk diuji kembali oleh tim fasilitator.
Ada yang bertanya, “Mengapa setelah voting masih diseleksi lagi?”
Pertanyaan itu sah. Namun dalam banyak lembaga, seleksi berlapis adalah hal biasa. Voting bukan garis akhir. Ia hanya satu tahap dari proses panjang.
Kalau semua dipahami sebagai perjalanan, bukan sebagai pertarungan, mungkin kita akan lebih tenang menjalaninya.
Kedewasaan bukan berarti selalu setuju. Kedewasaan berarti siap menghadapi kenyataan tanpa sibuk menyalahkan orang lain. Realitas sering kali lebih kompleks daripada teori yang kita pegang.
NGINTIR
Ada pula yang bertanya, jika keputusan akhir tetap di tangan wali kota, bagaimana sikap kita?
Saya memilih satu kata: ngintir.
Ngintir artinya mengikuti alur air dengan sadar. Bukan hanyut tanpa arah. Bukan pula pasrah tanpa pikiran. Sadar mengalir.
Kita hidup dalam sistem. Ada dasar hukum seperti Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 5 A Tahun 1993 tentang pembentukan Dewan Kesenian Daerah.
Ada pula Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang mendorong pemerintah daerah memfasilitasi peran masyarakat dalam kebudayaan.
Artinya, pembentukan Dewan Kebudayaan adalah bagian dari instrumen pemerintahan. Pemerintah kota memiliki kewenangan membentuk, mengubah, bahkan membubarkannya. Itu wilayah kebijakan.
Kalau kita memahami ini sejak awal, kita tidak mudah terjebak pada salah paham. Kita bisa melihat bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar menang atau kalah, melainkan kemampuan untuk berkolaborasi.
Di sinilah inti persoalan: hidup adalah kolaborasi.
Tak ada lembaga yang bisa berjalan hanya dengan ego pribadi. Tak ada kota yang maju jika komunitasnya berjalan sendiri-sendiri.
Selama ini, saya menyaksikan banyak komunitas seni hidup “sak karepe dewe” berjalan menurut kehendak masing-masing. Akibatnya, banyak yang menjadi jago kandang. Hebat di lingkungannya, tetapi tidak tumbuh menjadi aset kota.
Kolaborasi menuntut kerelaan. Seperti dua telapak tangan yang hendak saling menggenggam. Masing-masing harus rela menyisihkan sedikit ruang. Kalau dua telapak sama-sama kaku dan tidak mau bergeser, tak akan pernah ada pertemuan yang utuh.
Hal lainnya. Dalam kerja kebudayaan dibutuhkan data yang jelas tentang siapa seniman, siapa pekerja seni, siapa perajin.
Perlu program riset komunitas dan potensi serta pembinaan berdasar skema yang konstruktif. Perlu pesta kesenian kampung setiap tahun sebagai ruang uji partisipasi dan apresiasi.
Tanpa data dan kerja bersama, kebijakan hanya akan menjadi wacana indah di atas kertas.
Menjadi seniman bukan hanya soal keterampilan. Skill itu penting, tetapi belum cukup. Pada tahap tertentu dibutuhkan intelektualitas kemampuan berpikir sehingga mampu membaca zaman.
Lebih jauh lagi, dibutuhkan spiritualitas kerendahan hati dan kesadaran bahwa kekaryaa adalah darma bakti bagi kehidupan.
Kalau masih di tahap skill, kita sibuk membuktikan diri, sibuk membangun eksistensi Namun jika sudah matang secara intelektual dan spiritual, kita hadir untuk memberi makna.
Di situlah kolaborasi menemukan ruhnya.
Orang yang matang tidak merasa terancam oleh orang lain. Ia justru ingin berjalan bersama. Ia tau, kehidupan ini bukan lomba lari sendirian, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan banyak tangan.
Seperti bulan sabit yang tak merasa rendah diri sebelum menjadi purnama, kita pun seharusnya tidak gelisah dalam proses. Karena kesempurnaan bukan milik individu, melainkan hasil dari kebersamaan.
Kehidupan, pada akhirnya, bukan tentang siapa paling bersinar. Melainkan siapa yang mau saling menerangi.
Penulis : Rokimdakas
Wartawan & Penulis
Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat umum, Politikus, pengamat, mahasiswa, pengusaha, organisasi serta lainnya untuk menulis berita lepas.
Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan dan foto
Editor : Redaksi