JATIMKINI.COM, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur mendorong berbagai elemen baik pemerintah maupun swasta untuk bersinergi fokus dalam penguatan konsumsi, ekspor dan investasi agar target pertumbuhan ekonomi 2026 dapat tercapai.
Dalam gelaran Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 di Surabaya, Jumat (28/11/2025) malam, Deputi Kepala Bank Indonesia Jatim, M. Noor Nugroho memaparkan ada hal yang menjadi perhatian dan kewaspadaan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke depan.
“Pertama, ketidakpastian global yang masih tetap tingi, serta prospek perekonomian dunia akan cenderung melambat. Tapi, perekonomian domestik tetap solid dengan inflasi yang terjaga di sasarannya,” katanya.
Dalam PTBI yang mengusung tema ‘Tangguh dan Mandiri : Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan’ itu, Noor Nugroho mengungkapkan bahwa kinerja ekonomi Jatim di kuartal III/2025 tetap terjaga dengan baik bahkan menjadi kontributor terbesar kedua nasional.
Ekonomi Jatim di kuartal III tumbuh 5,52% (yoy), lebih tinggi dari wilayah lain di Jawa. Kuatnya ekonomi Jatim ii ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi.
“Di kuartal IV ini diperkirakan tetap solid didukung permintaan domestik dan eksternal yang tercermin dari tingkat optimisme konsumen. Dengan demikian, secara keseluruhan di 2025 ini ekonomi Jatim akan tumbuh 4,7% - 5,5%,” ujarnya.
Sedangkan inflasi Jatim sampai Oktober 2025 tercatat 2,96% (yoy) dan secara kumulatif 1,98% year to date (ytd). Secara spasial, inflasi seluruh kota/kabupaten di Jatim relatif terjaga di 2,5% +- 1%.
“Tapi inflasi perlu diwaspadai terutama menjelang akhir tahun. Kami dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jatim telah menyusun kerangka kerja pengendalian inflasi,” imbuhnya.
Dengan memperhatikan potensi ekonomi yang ada, lanjut Noor, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jatim di 2026 akan lebih kuat dengan perkiraan di kisaran 4,8% - 5,6%, disertai dengan inflasi yang diharapkan tetap terkendali di 2,5% +- 1%.
“Proyeksi itu akan bisa dicapai dengan fokus penguatan konsumsi, ekspor dan investasi. Pertumbuhan bisa dicapai dengan memperhatikan tingkat konsumsi masyarakat yang tumbuh, peningkatan ekspor barang dan akselerasi investasi dan berlanjutnya Proyek Strategis Nasional (PSN) di Jatim, jadi momentum pertumbuhan ekonomi ini perlu dijaga,” ucapnya.
BI Jatim pun menyiapkan 6 rekomendasi utama yang bisa dikolaborasikan untuk penguatan ekonomi, di antaranya akselerasi investasi daerah, penguatan sektor industri, penguatan UMKM, optimalisasi keuangan daerah, digitalisasi sistem pembayaran, dan pengendalian inflasi.
Dalam kesempatan yang sama di Jakarta, Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan strategi penguatan ekonomi berlandaskan Sumitronomic, yakni istilah yang merujuk pada kerangka pemikiran ekonomi yang dikembangkan oleh Prof. Sumitro Djojohadikusumo. Konsep ini menekankan peran aktif negara dalam pembangunan ekonomi, industrialisasi, dan perlindungan kepentingan domestik untuk mencapai kemandirian bangsa.
Menurutnya, pertumbuhan tinggi mengharuskan transformasi sektor riil, kebijakan industrial dan struktural harus ditempuh, meningkatan modal, tenaga kerja dan produktivitas, serta kebijakan industrial untuk hiliriasai SDA unggulan seperti nikel, timah, bauksit dan lainnya, serta peningkaatan manufaktur, industri padat karya.
“Kebijakan industrial perlu disertai kebijakan struktural untuk perbaikan iklim investasi,” tambahnya.
Perry memaparkan, ada 5 area sinergi yang penting untuk dilakukan, yakni menjaga stabilitas dan mendorong permintaan, hilirsasi industrialisasi dan ekonomi kerakyatan, meningkatkan pembiayaan dan pasat keuangan, akselerasi ekonomi keuangan digital nasional, serta kerja sama investasi dan perdagangan internasional.
Editor : Peni Widarti