JATIMKINI.COM, Cuaca ekstrem yang sempat melanda Medan dan Aceh menjadi perhatian serius bagi PT Dharma Lautan Utama (DLU). Perusahaan pelayaran nasional itu memastikan seluruh operasional kapal mengedepankan mitigasi risiko pelayaran demi menjaga keselamatan penumpang dan kelancaran distribusi logistik antarpulau.
Direktur Operasional DLU, Rakhmatika Ardianto, mengatakan pihaknya selalu memantau perkembangan cuaca melalui tiga rujukan utama, yakni BMKG Indonesia, otoritas klimatologi Singapura, dan Australia. Pemantauan ini dilakukan secara berkala hingga satu minggu ke depan.
“Kami selalu memantau prediksi cuaca. Jika muncul potensi cuaca buruk, ekspedisi langsung kami beri imbauan agar muatan tidak melebihi kapasitas, serta pengiriman dipercepat sebelum ada maklumat pelayaran,” jelasnya, Jumat (28/11/2025).
Maklumat pelayaran adalah imbauan dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Perak atau pelabuhan lain. Imbauan bisa mengarah pada larangan berlayar, mengingat cuaca yang bisa mengancam keselamatan kapal.
Mitigasi tersebut juga dilakukan DLU saat tekanan gelombang tinggi diperkirakan terjadi di jalur pelayaran. Upaya pencegahan diambil sejak dini untuk menjamin keselamatan, termasuk keputusan menunda operasi kapal jika situasi dinilai tidak memenuhi standar keamanan.
Selain memantau perkembangan cuaca, DLU juga rutin memperkuat sistem keselamatan di kapal. Setiap kapal wajib melalui pengecekan pintu kedap air dan kelayakan seluruh fasilitas sebelum berangkat.
“Kendaraan di atas kapal kami ikat lebih kuat menggunakan rantai. Tujuannya agar tetap stabil ketika ada gelombang besar,” papar Rakhmat.
Ia menambahkan, rute jarak pendek seperti Ketapang–Gilimanuk dan Merak–Bakauheni selalu mengikuti instruksi KSOP apabila ada penutupan pelabuhan akibat cuaca buruk. Sedangkan untuk pelayaran jarak jauh, keputusan operasional lebih banyak mengacu pada kajian risiko di lapangan.
Sejumlah kejadian penundaan perjalanan juga pernah dilakukan, seperti rute Surabaya–Kumai ketika kondisi cuaca ekstrem dua tahun silam. Jadwal hanya dimundurkan satu hari hingga kondisi dinyatakan aman kembali.
Untuk meningkatkan akurasi peringatan dini, dalam dua tahun ini BMKG telah memasang perangkat pendeteksi gelombang pada 13 kapal DLU. Perangkat yang terpasang di lambung kapal itu mengirimkan data real-time ke pusat informasi BMKG.
“BMKG bisa memberi feedback yang lebih akurat karena datanya langsung dari kondisi laut yang kami lalui,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini ombak di kawasan Jawa masih relatif aman dalam rentang 0–0,5 meter, seiring cuaca panas yang mendominasi daratan beberapa hari terakhir. Kondisi di darat, kata Rakhmat, kerap selaras dengan kondisi laut.
“Kami tidak mau ambil risiko. Prinsipnya, keselamatan tetap yang utama,” tegasnya memungkasi.
Editor : Rochman Arief