JATIMKINI.COM, Di tambang emas Tujuh Bukit, Banyuwangi, deru suara sirene dan instruksi tegas terdengar bersahut-sahutan. Bukan kecelakaan sungguhan, melainkan bagian dari skenario yang sudah disiapkan: kebakaran di area kerja, kecelakaan kendaraan, hingga evakuasi dari ruang sempit.
Semua dilakukan untuk satu tujuan—mengukur kesiapan ERT (emergency response team) dalam menghadapi situasi darurat.
PT Merdeka Copper Gold (MCG) menggelar ajang Merdeka Rescue Challange (MER-C) pada 11–17 Agustus 2025. Kompetisi ini bukan sekadar lomba keterampilan, tetapi uji sesungguhnya bagi para petugas ERT yang menjadi garda terdepan keselamatan di lingkungan tambang.
“Momen ini kami gunakan untuk menjaga sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan seluruh insan tambang,” kata OHS Compliance Manager MCG, Deddy Mustika, Jumat (15/8/2025).
Tema yang diusung tahun ini—Tumbuh Bersama dengan Profesional dan Andal untuk Memperkuat Kesiapsiagaan Tanggap Darurat—menggambarkan arah MCG: membangun keandalan, kekompakan, dan kecepatan respons.
Peserta datang dari seluruh unit usaha: ERT Tambang Emas Tujuh Bukit (Banyuwangi), Tambang Tembaga Wetar (Maluku Barat Daya), Tambang Nikel Konawe (Sulawesi Tenggara), Merdeka Tsingshan Indonesia (Morowali), Pani Gold Project (Gorontalo), hingga Merdeka Mining Servis.
Di lapangan, setiap tim menghadapi rangkaian tantangan: individual skill combat, confined space rescue, fire & road accident rescue, hingga high angle rescue. Semua skenario dibuat mendekati kondisi riil yang mungkin mereka hadapi di lokasi tambang.
Instruktur dan juri didatangkan dari lembaga berstandar internasional seperti International Mines Rescue Body (IMRB), Queensland Fire and Emergency Service, West Rescue, serta Perhimpunan Tanggap Darurat di Bidang Pertambangan dan Energi Indonesia (Pertapindo).
Standar penilaiannya ketat—tak hanya soal kecepatan, tapi juga akurasi, keselamatan prosedur, dan kerja sama tim.
ERT di industri tambang memegang peran vital. Mereka yang pertama merespons ketika insiden terjadi: dari kebakaran di area kerja, terperangkapnya pekerja di ruang terbatas, bencana alam, hingga bantuan kemanusiaan. MER-C menjadi ruang untuk mengasah kemampuan itu secara terukur.
Upaya ini juga tercermin dalam data keselamatan MCG. Pada 2024, jumlah kasus lost time injury (LTI) turun menjadi tiga kasus dari empat kasus di 2023. Angka frekuensinya pun menurun dari 0,09 menjadi 0,07. Bagi perusahaan, capaian itu bukan akhir, melainkan penanda bahwa budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) harus terus diperkuat.
Bagi para anggota ERT, ajang seperti MER-C adalah pengingat: kesiapsiagaan bukan hanya soal kemampuan teknis, tapi juga soal mental yang selalu siap ketika detik-detik kritis benar-benar datang.
Editor : Rochman Arief