JATIMKINI.COM, Provinsi Jawa Timur bersama dengan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur menggelar ajang East Java Investment Dialogue (EJID) 2025 untuk menarik investor terutama investor asing agar menanamkan modal usahanya di Jawa Timur.
Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jatim mencatat, kinerja investasi di Jatim pada kuartal I/2025 mencapai Rp36 triliun atau meningkat 0,4%% dibandingkan kuartal sebelumnya kuartal IV/2024, dan turun -0,4% jika dibandingkan dengan kuartal I/2024.
Realisasi investasi tersebut terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) Rp13,92 triliun dari 3.362 proyek yang menyerap 15.134 tenaga kerja, serta sebanyak Rp22,1 triliun merupakan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan jumlah 20.883 proyek yang menyerap 41.192 tenaga kerja.
Dalam gelaran EJID 2025 itu, Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengatakan bahwa EJID ini menjadi satu forum yang harus rutin dilakukan untuk memastikan investor agar merasa diperhatikan dan terkoneksi dengan Pemprov Jatim maupun pemda-pemda kabupaten dan kota.
“Melalui EJID ini kami ingin memaksimalkan potensi kita sebagai perekonomian daerah yang terbesar di Indonesia yang menyumbang hampir 1/6 ekonomi nasional. Oleh karena itu, acara ini menyasar investor dari luar negeri dan perwakilan dari investor negara asing, karena kita juga dapat kabar baik pagi ini ada perundingan dagang kita dengan Uni Eropa maupun Amerika. Ini menunjukkan tanda-tanda positif,” ujarnya, Rabu (16/7/2025).
Menurutnya, melalui perundingan dagang internasional tersebut, Jatim perlu memanfaatkannya mengingat Jatim merupakan basis manufaktur yang utama di Indonesia, begitu pula dengan jalur perdagangan baik dalam maupun luar negeri.
“Kita terus berbenah untuk infrastruktur kita, SDM kita angka-angkanya juga menunjukkan daya saing. Termasuk infrastruktur strategis seperti jalan tol yang akan tersambung hingga Situbondo. Agustus nanti akan sampai Paiton, ini akan dilakukan pengajuan dari Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) untuk kelayakan fungsi, dan itu akan dibangun sampai Besuki nah ini akan meningkatkan akses ke wilayah timur,” imbuhnya.
Berkaca dari dampak pembangunan jalan tol Surabaya – Solo, lanjut Emil, infrastruktur ini kini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Madiun dan Nganjuk. Efek ini, katanya, juga akan dirasakan di Probolinggo – Banyuwangi jika akses jalan tol telah terbangun.
“Apalagi di Probolinggo ada pelabuhan yang punya kedalaman yang sangat mumpuni, sehingga di sana akan ada investasi dan industri di wilayah Tapal Kuda,” tutupnya.
Dalam sambutannya, Kepala Bank Indonesia – Jatim, Ibrahim memaparkan kinerja investasi Jatim pada tahun lalu menempati peringkat 3 provinsi teratas secara nasional dengan menyumbang 8,6ri total investasi.
"Kinerja yang solid ini telah mendukung ketahanan perekonomian Jatim mengingat investasi merupakan penyumbang terbesar kedua bagi pertumbuhan ekonomi daerah," paparnya.
Ia melanjutkan prospek kinerja investasi di Jatim diproyeksikan akan membaik lebih lanjut pada kuartal II/2025. Keyakinan pelaku usaha diperkirakan akan menguat.
Hal ini didukung oleh pencairan dan kualitas kredit terkait investasi yang membaik (per Mei 2025). Aktivitas impor barang modal yang lebih tinggi, seperti mesin dan instrumen presisi
(April-Mei 2025).
"Dalam konteks belanja modal pemerintah pusat yang terus menurun (April-Mei 2025), dan meningkatnya impor material konstruksi, termasuk logam fabrikasi dan pelapis bangunan (April-Mei 2025)," ujarnya.
Ibrahim menambahkan, Jatim juga berada di peringkat ke-2 dalam the ACI Competitivnes Index, didorong oleh kinerja yang kuat dalam kondisi keuangan, bisnis, dan ketenagakerjaan (KKB) serta stabilitas makroekonomi.
"Didukung oleh infrastruktur yang tangguh, provinsi ini menonjol sebagai tujuan investasi yang strategis dan menjanjikan," katanya.
Adapun Jatim menawarkan infrastruktur tangguh untuk mendukung investasi industri, di antaranya ketersediaan listrik di Jatim sekitar 8.182 MW. Jatim juga mengembangkan energi terbarukan untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
Selain itu juga didukung infrastruktur transportasi mulai dari bandara, pelabuhan hingga jalan tol. Dari sisi ketersediaan gas tercatat ada suplai 747 MMscfd, bahkan surplus 70MMscfd.
Dari sisi akses internet, tercatat di Surabaya merupakan salah satu kota dengan akses internet tercepat di Indonesia. Kecepatan aksesnya lebih tinggi daripada standar unduhan nasional (19,99 Mbps) (17,24 Mbps).
Sedangkan kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Jatim tercatat ada 14 kawasan industri yang terdiri dari 2 KEK dan 12 kawasan industri. Sebanyak 11 kawasan masih dalam tahap pengembangan misalnya Ngawi lndustrial Estate, Malang lndustrial Estate, Wongsorejo Banyuwangi Industri, Sidayu Gresik Industrial Estate, Madiun Industrial Estate, Q Smart Eco-Industrial Park
GRR Tuban, Industri Maritim Lamongan (SElp), Nganjuk Industrial Estate, Industri Salt Lake, Ploso Jombang lindustrial Estate.
Jatim sendiri telah melakukan pemetaan potensi investasi menjadi 5 kawasan. Pertama, Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan). Sedikitnya ada 10 proyek investasi yang sedang dan akan dilakukan, seperti Agricultural Equipment & Machinery Industry(Gresik) Ngawi, Copper Metal Processing Industry (Gresik), Tin Downstream Industry (Gresik), Development of Milkfish Processing Unit (Gresik), Polyester Processing Factory (Tuban), Integrated Farrming Beef Cattle (Jombang), Lamongan Oil Tank Terminal (Lamongan), Smart Eco-Industrial Park (Lamongan) dan Semen Gresik New Town (Gresik) Tirta Wisata Transit Park (Jombang).
Kedua, Madura Area yang cocok untuk investasi sektor peternakan, industri perikanan, wisata maritim dan konektivitas. Dengan potensi proyek Livestock (Cattle), Fishery Industry (Seaweed, Wildfish, and Mariculture), Marine Tourism dan Connectivity.
Ketiga, kawasan Ijen Ring Area yang cocok untuk investasi sektor agroindustri (padi, cabai, seafood, kopi, gula, kelapa), serta wisata privat, dan konektivitas pelabuhan maupun jalan tol.
Keempat, wilayah Bromo Tengger Semeru (BTS) yang cocok di sektor agroindustri (hortikultura, gulq, susu, kopi), pariwisata (Bromo dan Batu), dan ekonomi kreatif (film, animasi, digital dan teknologi), hingga konektivitas pelabuhan dan kereta). Terdapat beberapa proyek di kawasan ini yakni Integrated Shrimp Processing Industry (Pasuruan), Kanjuruhan Hospital (Malang) dan Bromo Volcano Eco Safari (Malang).
Kelima, pengembangan kawasan Wilis Ring Area dan Regional Selatan yang cocok untuk pengembangan agrikultur (padi, bawang merah, cabai, daging sapi, dan telur, serta produk turunannya, disusul irigasi.
Terdapat sejumlah proyek potensial area Wilis di antaranya Fruit Based Processing Industry (Kediri), Preservation of Madiun Regency Road (Madiun), Street Lightning Equipment (APJ) (Ngawi), Soekarno Hatta Area (Trenggalek) serta The Reog Ponorogo Monument and Museum (Ponorogo).
Editor : Peni Widarti