x
x

Perlu Tatag Menghayati Kemerdekaan Batiniah

"Tuhan,

aku lelah

berpura-pura.”

Ada satu hal yang sering kali luput dari sorotan mimbar dan ceramah keagamaan, bahwa kemerdekaan batin bukanlah kemewahan, melainkan keniscayaan bagi jiwa yang matang. Terutama ketika usia sudah mulai berkompromi dengan tenaga tapi tidak dengan kesadaran. Maka tibalah saatnya untuk meninjau ulang dengan jujur dan jernih: apakah kita masih menjalani agama atau hanya sekadar menanggungnya?

Mari mulai dari pertanyaan mendasar.  Apakah beragama harus selalu berarti terjerat oleh rangkaian ritual dan simbol? Bukankah sejak awal tujuan agama adalah membangun  moralitas? Bila benar demikian, mengapa moralitas kerap dikerdilkan menjadi sekadar tata cara wudhu, irama dzikir, arah kiblat atau bahkan jenis pakaian yang dikenakan?

Dalam banyak kasus, agama menyerupai undangan ke pesta mewah. Dengan janji kenikmatan surgawi disertai daftar dress code, protokol ketat dan ancaman blacklist kekal di neraka jika ada aturan yang dilanggar.

Aneh bin ajaib, Tuhan yang Maha Tau, Maha Penyayang, Maha Besar, seolah lebih sibuk menjadi petugas administrasi yang mencatat siapa yang bolong puasa, salah rakaat atau salah menyebut nama-Nya.

Jika Tuhan itu ibarat pemilik hotel bintang tujuh bernama "Surga", akankah Dia menolak tamu yang tidak mengisi formulir keimanan dengan benar?  Padahal si tamu membawa koper yang  penuh kasih sayang, kejujuran, dan empati?

LULUS DARI AGAMA

Tak sedikit individu di usia lanjut mengalami apa yang oleh psikolog eksistensialis disebut sebagai "spiritual disillusionment" semacam kelelahan eksistensial terhadap dogma, ritual, dan janji-janji akhir zaman yang tidak kunjung terverifikasi.

Mereka ini bukan ateis, bukan murtad, apalagi sesat. Mereka hanya merasa sudah “lulus” dari pelajaran agama formal.

Ritual tanpa penghayatan adalah seperti menyalakan lilin di siang bolong, ada terang tapi tidak menyala dalam hati. Dan terus terang saja, jika beragama hanya karena takut dianggap tidak taat  bukankah itu bentuk kemunafikan sosial? Hanya karena sungkan pada tetangga atau keluarga?

Maka dalam fase kematangan usia dan batin, hubungan dengan Tuhan tidak lagi bisa dipalsukan. Harus jujur, sejujur-jujurnya. Bahkan, jika kejujuran itu menyatakan, “Tuhan, aku lelah berpura-pura.”

Sejatinya moralitas adalah produk tertinggi dari kesadaran. Bukan produk eksklusif agama. Anak-anak yang diajarkan Budi Pekerti, orang-orang tua yang menjunjung kearifan lokal atau suku-suku yang menjaga harmoni alam tanpa kitab suci adalah juga menunjukkan kesalehan. Bahkan, dalam banyak riset antropologi moral, ilmuwan menyodorkan hasil kerjanya,  moralitas ternyata sudah muncul dalam perilaku sosial primata sebelum manusia mengenal konsep Tuhan.

Lalu mengapa kita harus merasa bersalah saat memilih menepi dari kerumitan dogma?

Apakah Tuhan hanya bisa ditemukan dalam ruang ibadah, bukan dalam ketulusan memberi, jujur bekerja atau menyapa tetangga dengan senyum?

Dalam perenungan, narasi surga dan neraka merupakan proyek fiksi terpanjang dalam sejarah. Padal sejarah kehadiran manusia sudah berlangsung 340 tahun. Tumbuhnya kehidupan sejak 3,4 milyar tahun silam.

Mari jujur lagi. Cerita tentang kehidupan setelah mati adalah kisah paling panjang tanpa bukti yang terus diwariskan turun-temurun. Tidak ada yang kembali dari neraka membawa catatan kaki atau pulang dari surga untuk memberi testimoni di podcast.

PERLU TATAG

Sementara itu  ilmu pengetauan telah menyibak tabir alam semesta, membuka peta DNA manusia juga  menjelaskan kompleksitas proses evolusi. Tak satu pun dari itu menggugurkan eksistensi Tuhan. Juga tidak mendukung narasi surgawi secara literal.

Kemerdekaan spiritual tidak menolak Tuhan tetapi menolak paksaan caranya bertemu Tuhan. Tuhan bukan entitas birokratis yang terikat jadwal dan liturgi. Dia, jika memang Maha Segalanya tentu tak akan tersinggung jika kita menemuinya lewat cara yang lebih manusiawi, melalui cinta, empati, kejujuran, melalui pemaknaan hidup yang utuh.

Jika kelak fiksi ternyata fakta, kalimat yang patut kita sampaikan adalah:  "Tuhan, aku ingin bertemu bukan karena takut tapi karena rindu."

Kemerdekaan spiritual adalah hak setiap jiwa yang telah melampaui jalan panjang beragama dengan sungguh-sungguh. Tidak semua orang mencapainya karena butuh keberanian, perlu tatag untuk merdeka dari rasa bersalah yang ditanamkan sejak kecil.

Bermodal moralitas dan kematangan batin, manusia tidak lagi perlu menyembah Tuhan karena takut neraka atau demi surga. Tapi karena sadar bahwa menjadi manusia seutuhnya adalah cara terbaik menghadirkan Tuhan dalam  kenyataan, dalam diri dan perilaku.

Jadi, kepada jiwa-jiwa yang ragu, jangan takut melepaskan simbol jika makna sudah digenggam. Jangan takut meninggalkan keramaian jika sunyi membuatmu lebih jujur. Jangan takut tidak terlihat taat.  Tuhan yang kau temui bukan buta, bukan tuli tentu saja tidak bisa ditipu.

Selamat menikmati sisa waktu secara merdeka. Merdeka dalam kemanusiaan  bukan dalam ketakutan. Karena Tuhan yang sejati tidak menakut-nakuti tapi memanusiakan.

Penulis : Rokimdakas

Wartawan & Penulis

Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat untuk menulis berita lepas.

Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan tersebut

Berita Terbaru
Rabu, 09 Jul 2025 13:36 WIB

Bertepatan Pembukaan Fortasi, SMAMX Beri Reward Siswa Peraih Medali Porprov IX Jatim

Kepala SMA Muhammadiyah 10 (SMAMX) Surabaya resmi memberikan penghargaan dan apresiasi pada 23 siswa peraih medali ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov ) IX
Rabu, 09 Jul 2025 13:32 WIB

PTPN I Regional 5 Beri Bantuan Infrastruktur Pendidikan untuk Yayasan Yatim Kepodang Mandiri Sidoarjo

JATIMKINI.COM, Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap pendidikan masyarakat sekitar, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 5 memberikan bantuan Tanggung
Rabu, 09 Jul 2025 13:26 WIB

Perkembangan Pasar Modal: Stabil tapi Rawan

Perkembangan pasar modal dalam negeri masih resilien meski dihadapkan dengan sejumlah indikator global, yang bisa membawa dampak besar.
Selasa, 08 Jul 2025 19:58 WIB

Kadin Jatim Sebut Tarif Impor AS 32% Justru Bikin Peluang Besar Ekspor Tekstil

JATIMKINI.COM, Kebijakan tarif impor sebesar 32% yang diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap produk dari berbagai negara Asia menciptakan
Selasa, 08 Jul 2025 18:06 WIB

Problem Pendidikan, SDN Sepi Peminat

Di tengah mimpi besar menuju Indonesia Emas 2045, negeri ini justru dihantui fenomena penuh tanda tanya, mengapa Sekolah Dasar Negeri makin ditinggalkan
Selasa, 08 Jul 2025 16:21 WIB

PLN Elektrifikasi 21 Ribu Petani Buah Naga di Banyuwangi, Dorong Ekonomi Kerakyatan

PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung sektor pertanian berkelanjutan melalui program electrifyin