x
x

Kasihan Petani Sawahnya Sering Rugi

JATIMKINI.COM, Tema pedesaan begitu seksi. Panorama desa, potret kehidupan petani tampak begitu indah. Perbincangan di media sosial begitu riuh jika menyangkut gadis desa,  janda desa juga tentang kuliner kerap menyita perhatian penggemar wisata.

Namun di balik kekaguman seperti itu, perlu kiranya menelisik kehidupan di sawah. Sudah puluhan tahun petani terlilit masalah pupuk. Pupuk subsidi dari pemerintah yang pembagiannya ditangani oleh Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani), jatahnya  jauh dari kebutuhan, dari segi mutu pun jadi persoalan. Untuk itu harus membeli pupuk non subsidi berharga mahal.

Faktor pupuk inilah yang menyebabkan petani harus mengeluarkan beaya tinggi,  ditambah ongkos buruh saat tanam dan  panen sehingga hasilnya tidak seimbang dengan beaya produksi. Banyak isu yang melingkari krisis pupuk.

Masalah yang dihadapi petani Indonesia terkait pupuk memang sangat kompleks, dipengaruhi oleh berbagai faktor struktural dan kebijakan. Proses distribusi pupuk seringkali terhambat oleh birokrasi yang rumit, tidak efisien, sehingga alokasi pupuk tidak sesuai dengan kebutuhan petani.

Pada struktur kelembagaan pemerintah terdapat petugas penyuluh pertanian namun di lapangan petani mengaku tidak pernah didampingi, sehingga petani yang tidak memperoleh bimbingan tentang kebutuhan pupuk atau cara penggunaan yang proporsional.

Pupuk subsidi yang seharusnya membantu justru menjadi masalah karena distribusi yang tidak merata,  petani terpaksa membeli pupuk mahal. Kebijakan pemerintah sering tidak mengakomodir kebutuhan petani. Ketergantungan pada pupuk kimia dan kurangnya pengembangan alternatif organik mengakibatkan kesuburan tanah   rusak berkepanjangan.

Problem petani semakin tumpang tindih oleh adanya monopoli pemasaran yang  pervasif, terjadi di  mana-mana dengan akibat yang sangat terasa. Praktik korupsi dan lobi-lobi politik semakin  memperburuk problem petani.

Keruwetan bertambah oleh adanya campur tangan partai politik yang berkuasa mengendalikan monopoli pemasaran. Bagi yang ingin menjadi distributor diwajibkan menyetorkan dana jaminan sebesar Rp 2 milyar. Kasihan petani.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan integral. Yakni reformasi birokrasi, peningkatan kualitas pupuk berharga murah. Memberikan edukasi petani serta kehendak politik yang berpihak pada kepentingan petani. Petani selalu berharap dan berharap adanya perbaikan. Namun harapan itu seperti memanah angin.

 

 

Berita Terbaru
Selasa, 08 Jul 2025 19:58 WIB

Kadin Jatim Sebut Tarif Impor AS 32% Justru Bikin Peluang Besar Ekspor Tekstil

JATIMKINI.COM, Kebijakan tarif impor sebesar 32% yang diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap produk dari berbagai negara Asia menciptakan
Selasa, 08 Jul 2025 18:06 WIB

Problem Pendidikan, SDN Sepi Peminat

Di tengah mimpi besar menuju Indonesia Emas 2045, negeri ini justru dihantui fenomena penuh tanda tanya, mengapa Sekolah Dasar Negeri makin ditinggalkan
Selasa, 08 Jul 2025 16:21 WIB

PLN Elektrifikasi 21 Ribu Petani Buah Naga di Banyuwangi, Dorong Ekonomi Kerakyatan

PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung sektor pertanian berkelanjutan melalui program electrifyin
Selasa, 08 Jul 2025 15:37 WIB

Frank & co., Hadirkan Kemewahan Intim di Tengah Kota Surabaya

Frank & co., membuka gerai kelima di Surabaya, yang mengusung berlian dengan konsep perpaduan keintiman dan kemewahan menyatu.
Selasa, 08 Jul 2025 14:35 WIB

Pelatihan SDM Jadi Kunci TPS Tingkatkan Kinerja Terminal

TPS menjawab tantangan tata kelola pelabuhan melalui pelatihan SDM guna mendorong transformasi terminal bertaraf internasional.
Selasa, 08 Jul 2025 13:17 WIB

Kelompok Mahasiswa 96 UPN Veteran Dampingi RW 5 Pilang Makmur. Tujuaannya Ini

Guna menyiapkan kegiatan Lomba Kelurahan Berseri tingkat Kota Surabaya kelompok mahasiwa KKN 96 Universitas Pembanguna Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur