Ketika Rumah Kebudayaan Menjadi Arena Perebutan Panggung ‎

Reporter : Penulis Lepas
Bonang Adji Handoko (Koordinator Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (AMAK) ( Foto : Dok. pribadi )

Kota selalu memiliki dua wajah. Wajah pertama adalah wajah yang tampak di depan kamera: festival-festival besar, panggung seni yang ramai, poster-poster penuh slogan kebudayaan, dan pidato-pidato heroik atas nama rakyat.

‎Tetapi wajah kedua adalah wajah yang jarang terlihat dihadapan publik: ruang latihan yang bocor ketika hujan, komunitas kecil yang kesulitan biaya listrik, seniman kampung yang berpindah-pindah tempat karena tak punya ruang tetap, serta anak-anak muda yang ingin belajar berkesenian namun tidak pernah benar-benar menemukan celah pintu masuk.

Baca juga: Dasar Hukum Yang Dilanggar : Kontradiksi Yuridis Dalam Raperda

‎‎Di Surabaya, dua wajah itu kini sedang bertabrakan. Dan benturan itu paling terasa di dalam Balai Pemuda.

‎‎Arena  yang dahulu menjadi rumah kebudayaan warga kota perlahan berubah menjadi arena pertarungan pengaruh antar aktor panggung.

‎‎Ironisnya, hari ini semua orang mengaku sedang menyelamatkan kebudayaan.

‎‎Padahal yang seringkali diselamatkan hanyalah posisi masing-masing di atas panggung sosial.

‎‎Kita sekarang hidup di zaman ketika 'kemarahan jauh lebih mudah diproduksi' dibanding kerja kebudayaan itu sendiri.

‎‎Media sosial melahirkan iklim baru: siapa yang paling keras berbicara dianggap paling peduli. Siapa yang paling lantang mengutuk dianggap paling berpihak pada rakyat. Siapa yang paling sering tampil dalam forum-forum kritik dianggap otomatis menjadi penjaga kebudayaan.

‎‎Padahal kebudayaan tidak pernah tumbuh dari keributan semata. Ia tumbuh dari ketekunan yang sunyi. Dari orang-orang yang datang lebih awal untuk membuka ruang latihan. Dari mereka yang membersihkan aula setelah pertunjukan selesai. Dari mereka yang mendampingi anak-anak kecil belajar teater, musik, atau ludruk tanpa kamera dan tanpa tepuk tangan.

‎‎Tetapi kerja-kerja sunyi semacam itu hari ini kalah populer dibanding pertunjukan kemarahan.

‎Akibatnya ruang kebudayaan berubah menjadi ruang kompetisi moral.

‎‎Semua ingin tampak paling revolusioner. Atau berteriak sebagai orang yang berjiwa progresif revolusioner.

‎‎Semua ingin menjadi wajah utama perlawanan

‎‎Namun sangat sedikit yang benar-benar siap menjalankan tanggung jawab pengelolaan kebudayaan secara panjang.

‎‎Ketika konflik pengelolaan Balai Pemuda mencuat, publik menyaksikan ledakan solidaritas yang luar biasa.

‎‎Poster-poster perlawanan memenuhi media sosial. Diskusi digelar. Puisi dibacakan.

Orasi dikumandangkan. Tetapi ketika pembicaraan mulai masuk pada hal-hal mendasar tentang tata kelola, sistem penggunaan ruang, tanggung jawab operasional, regenerasi komunitas, transparansi akses publik suasana mulai berubah sunyi.

‎‎Karena ternyata merawat rumah kebudayaan jauh lebih sulit dibanding meneriakkan slogan penyelamatan kebudayaan.

‎‎Kebudayaan membutuhkan struktur.

‎Membutuhkan kesediaan berbagi ruang. ‎Membutuhkan sistem yang adil membutuhkan disiplin kolektif.

‎‎Dan yang paling penting: membutuhkan kerendahan hati untuk tidak merasa paling memiliki ruang kebudayaan itu sendiri.

‎‎Di fase inilah Surabaya menghadapi persoalan kebudayaan yang lebih serius daripada sekadar konflik pengelolaan gedung.

‎Kota ini sedang mengalami krisis ekosistem kebudayaan.

‎‎Yang tumbuh bukan lagi tradisi merawat ruang bersama, melainkan tradisi membangun lingkaran pengaruh.

‎Satu kelompok menguasai ruang.

Kelompok lain melawan

‎Ketika kelompok pertama melemah, kelompok baru masuk menggantikannya.

‎Lalu siklus yang sama terus berulang.

Baca juga: Dewan Kesenian Surabaya : Kronik Sebuah "Vandalisme Birokrasi"

‎‎Yang berubah hanya aktornya. Sedangkan pola sistem kekuasaannya tetap sama. Akibatnya Balai Pemuda dan ruang-ruang budaya lainnya tidak pernah benar-benar menjadi rumah terbuka bagi seluruh warga kota.

‎‎Ia lebih sering menjadi wilayah yang dikuasai kelompok tertentu dengan bahasa eksklusifnya masing-masing.

‎‎Sementara komunitas-komunitas kecil di kampung tetap berada di luar pagar.

Seniman jalanan tetap berjalan sendiri

‎‎Anak-anak muda tetap kesulitan menemukan ruang belajar yang sehat.

‎Dan publik hanya menyaksikan pergantian elite kebudayaan dari waktu ke waktu. Situasi ini berbahaya.

‎Karena ketika kebudayaan terlalu lama dikuasai logika panggung, maka seni kehilangan fungsi sosialnya.

‎‎Ia tidak lagi menjadi ruang perjumpaan warga kota. Ia berubah menjadi alat legitimasi sosial. Menjadi identitas kelompok. Menjadi industri citra.

‎‎Padahal Surabaya memiliki akar budaya yang jauh lebih kuat daripada sekadar pertunjukan konflik elite seni.

‎‎Kota ini dibangun oleh kultur Arek yang egaliter, terbuka, gotong royongndan penuh solidaritas sosial.

‎‎Budaya kampung Surabaya sejak dahulu bertumbuh dari kebersamaan: cangkrukan, ludruk rakyat, musik patrol, rembug warga, dan ruang-ruang pertemuan yang cair.

‎‎Kebudayaan Surabaya sejatinya lahir dari semangat guyub, bukan monopoli komunitas secara eksklusif.

‎Karena itu jalan keluarnya bukan sekadar mengganti pengelola atau menciptakan kelompok baru.

‎‎Saat ini dibutuhkan adalah membangun kembali kesadaran bahwa ruang budaya adalah rumah bersama. Rumah yang harus dijaga bersama.

Baca juga: Massa Aksi Ditolak, Taburkan Kotoran Ayam di Gedung DPRD Surabaya ‎

‎Bukan diperebutkan. Bukan dimiliki segelintir orang. Bukan dijadikan alat membangun popularitas.

‎‎Tetapi diwariskan

‎Kepada anak-anak muda. ‎Kepada komunitas kecil.

‎Kepada generasi berikutnya yang mungkin hari ini belum memiliki akses masuk ke dalam ruang kebudayaan kota.

‎‎Sebab ukuran sejati seorang pejuang kebudayaan bukanlah seberapa keras ia berteriak di atas panggung.

‎‎Melainkan seberapa lama ia sanggup tinggal menjaga rumah bahkan ketika lampu panggung telah padam.

‎‎Ditulis Oleh : Bonang Adji Handoko

‎(Koordinator Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (AMAK)

Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat umum, Politikus, pengamat, mahasiswa, pengusaha, organisasi serta lainnya  untuk menulis berita lepas.

‎‎Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan dan foto

 

Editor : Redaksi

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru