Negeri Sumpek, Massa Ngamuk, Tuhan Pingsan

Reporter : Penulis Lepas
Ilustrasi Rokimdakas for Jatimkini.com

Menyaksikan amuk massa di berbagai kota pada Jumat  kelabu - 29 Agustus 2025 seperti melihat air bah yang meluap dari bendungan rapuh. Rakyat sudah terlalu lama dicekik akhirnya meledak. 

Mereka tidak sedang menyuarakan firman Tuhan. Mereka hanya menjerit karena sesak napas di negeri yang makin hari ruang hidupnya serasa makin sempit .

Baca juga: Ketika Mitigasi Risiko Jadi Rutinitas: Cerita Hotel di Jantung Aksi Massa Surabaya

‎Harga sembako naik tanpa kompromi, pajak disulap menjerat rakyat kecil, sementara pemerintah sibuk mengumumkan angka-angka ekonomi yang hanya bagus menghiasi  power point. 

‎Indeks, hilirisasi, surplus, semua angkanya manis tapi tidak pernah mampir ke meja makan rakyat. Yang mampir hanyalah utang, cicilan dan bunga mencekik yang lebih sadis dari lintah darat.

‎Pada pemandangan lain, istana bergelimang fasilitas, parlemen mabuk hedonisme, eksekutif perusahaan negara menimbun harta seakan hidup mereka dijamin berpuluh turunan. 

‎Ironi negeri kaya raya namun rakyat tetap mengais sedikit-sedikit namun pejabat  meraup lebih banyak. Lalu ada yang berbisik getir,“Ini tidak adil, Tuhan!”  Apa jawaban Tuhan? Cuek.

‎Surabaya, kota yang konon dikenal ramah tamah, pada hari itu pun ikut memanas. Massa mengepung Gedung Negara Grahadi, melempar benda, api dan apapun yang bisa merusak  ke halaman  sementara polisi membalas dengan gas air mata dan meriam air. 

‎Di sana, suara rakyat bukan lagi seruan doa melainkan batuk-batuk tersedak gas. “Polisi tugasnya melindungi masyarakat, bukan membunuh!” teriak seorang pengemudi ojol. Kalimat sederhana itu terdengar lebih jujur daripada semua pidato panjang para pejabat negara.

‎Tapi jangan salah sangka, rakyat tidak tiba-tiba berubah jadi bengis. Mereka bukan teroris, bukan pemberontak. Mereka hanya manusia yang setiap hari disuguhi tontonan pejabat korup, kekuasaan arogan, dan aparat yang mudah menarik pelatuk. Lalu ketika ada kesempatan untuk marah, mereka pun ngamuk: "Budaaaalll!!" kata orang kampung, hawong uripe sumpeke masa'ala.

Amuk Sejarah

‎Ketika rakyat sudah kehilangan bahasa selain amarah, apakah masih pantas  mengutip pepatah amoh, “Suara rakyat adalah suara Tuhan?" 

Baca juga: Unjuk Rasa Gedung Grahadi, Seorang Ibu Paruh Baya Jadi Korban Gas Air Mata

‎Faktanya, suara rakyat ditanggapi dengan gas air mata, bukan doa syukur. Tuhan pun seolah sedang sumpek menghadapi umat-Nya. Barangkali ada benarnya  sindiran getir: sekali-sekali biar manusia jadi Tuhan, supaya tau rasanya tidak makan, tidak tidur, terus dituntut macam-macam. Mungkin Tuhan pun akan pingsan jika dipaksa jadi penguasa di negeri ini.

‎Amuk massa yang meletus di Jakarta, Bandung, Solo, Medan, Makassar hingga Surabaya, bukan sekadar protes politik. Itu gejala sosial akut, ekspresi kolektif dari rakyat yang muak melihat dirinya terus diperlakukan sebagai bahan bakar mesin kekuasaan. Jika dibiarkan, negeri ini bukan cuma kehilangan kesabaran rakyat tapi juga kehilangan kepercayaan terhadap institusi, bahkan terhadap Tuhan.

‎Pertanyaannya, apakah penguasa mau mendengar jeritan ini sebelum semuanya terlambat? Atau mereka tetap sibuk menghitung angka-angka pertumbuhan sambil menutup telinga? Jika demikian, jangan salahkan rakyat bila esok lusa amuk massa berubah menjadi amuk sejarah.

Penulis : Rokimdakas

Wartawan & Penulis

Baca juga: Paradoks Demontrasi Atau Unjuk Rasa

Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat umum, Politikus, pengamat, mahasiswa, pengusaha, organisasi serta lainnya  untuk menulis berita lepas.

Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan dan foto

 

Editor : Redaksi

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru