x
x

Hilirisasi Nikel Jilid II, Saatnya Kantong Warga Ikut Tebal

JATIMKINI.COM, Daya ungkit terhadap kesejahteraan masyarakat lokal di sekitar wilayah pengembangan industri manufaktur dinilai masih relatif terbatas, meskipun pertumbuhan ekonomi daerah secara makro tumbuh signifikan.

CORE Indonesia telah menyoroti sejumlah daerah yang memiliki pertumbuhan tinggi di sektor industri. Misalnya di Kabupaten Morowali - Sulawesi Tengah, sejak beberapa tahun terakhir, PDRB di wilayah itu cukup tinggi, tetapi tingkat pengeluaran masyarakat per kapitanya cuma 2%. 

Selain itu, serapan tenaga kerja lokal di industri manufaktur hanya 8% - 15%, dan masih banyak ditemukan tenaga kerja asing (TKA) yang tidak menguasai bahasa Indonesia maupun Inggris. 

Executive Director CORE Indonesia, Mohammad Faisal memaparkan, struktur ekonomi di Morowali memang berubah drastis dalam 10 tahun. Dulu, lebih dari separuh perekonomiannya ditopang sektor primer seperti pertambangan dan pertanian, kini lebih dari 75% sudah didominasi sektor industri manufaktur. Di Morowali Utara, perubahannya bahkan hampir 100%.

“Namun, PDRB yang tinggi itu tidak serta merta kesejahteraan warga ikut tinggi. Kalau kita hanya melihat PDRB per kapita, angkanya memang naik pesat di Morowali dan Morowali Utara, tapi kalau kita melihat pengeluaran masyarakat per kapita, kenaikannya hanya 2%,” ujarnya dalam Sosialisasi MediaMIND bertajuk 'Dari Bumi untuk Kedaulatan Negeri' melalui Zoom, Senin (14/9/2026).

Memang, lanjutnya, PDRB itu bersifat kotor. Di dalamnya ada konsumsi swasta, investasi besar, ekspor, dan belanja pemerintah. Sedangkan pengeluaran masyarakat adalah proxy langsung dari pendapatan yang benar-benar dibelanjakan warga.

“Di sinilah PR-nya, investasi besar yang masuk belum sepenuhnya dirasakan masyarakat di sekitar industri,” ungkapnya.

Jadi, tambah Faisal, dorongan hilirisasi terhadap perekonomian diyakini bisa lebih tinggi lagi jika industri berteknologi tinggi seperti baterai kendaraan listrik sudah berjalan mulus. Selama ini, reindustrialisasi masih ditopang oleh smelter di sektor hulu yang masuk dalam kategori industri logam dasar.

Padahal dari total produksi nikel nasional, sekitar 71% masih mengalir ke industri stainless steel, dan baru 3% untuk baterai. Ke depan pertumbuhan baterai diproyeksi melesat, dan hiliriasi tidak hanya bertumpu pada nikel, tetapi juga merambah ke aluminium, tembaga dan mineral lainnya.

“Semestinya jika industri hilir dengan teknologi tinggi seperti baterai bisa berjalan mulus, daya dorongnya terhadap perekonomian akan jauh lebih tinggi lagi. Karena selama ini yang mendorong reindustrialisasi baru smelter di sektor hulu saja,” imbuhnya.

Selain menyoal daya dorong kantong warga, Faisal juga menyoroti sektor UMKM pendukung hilirisasi nikel. UMKM terintegrasi dengan industri ini hanya 30 UMKM dari total 5.600 UMKM yang ada di Morowali.

Menurut Faisal, industri besar itu butuh supplier lokal. Masalahnya, kemampuan UMKM lokal masih sangat jauh dari standar industri. Jadi sebelum bicara integrasi antara industri besar dan kecil, harus ada jembatan dulu, harus ada peningkatan kapasitas. Perlu ada penyiapan. Ini menjadi pelajaran penting bagi daerah lain yang akan mereplikasi hilirisasi. 

“Untuk meningkatkan benefit sharing kepada masyarakat, tidak bisa ujuk-ujuk business matching. Harus ada tahap penyiapan, karena kalau tidak, gap-nya terlalu besar. Yang dirugikan bisa UMKM-nya sendiri atau industrinya yang terpaksa menurunkan spesifikasi dan kualitas,” tutupnya.

Namun begitu, perusahaan seperti PT Vale Indonesia dan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) telah membuka peluang peningkatan keterampilan kepada masyarakat lokal. Misalnya PT Vale menyediakan program pelatihan dan magang selama 3 bulan di Jakarta. Sedangkan IMIP menawarkan pelatihan operator peralatan dan program keterampilan teknis lainnya.

Prospek Nilai Tambah Dalam Negeri

Head of Strategy and Business Development PT Vale Indonesia, Mateus Sigit Harisulistya memaparkan bahwa sebelumnya Vale hanya beroperasi di satu area yakni Sorowako, mulai dari kegiatan penambangan, pengolahan, sampai reklamasi pasca-tambang. 

Vale sendiri merupakan perusahaan yang mendapat Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Vale memiliki 3 konsesi, yaitu Sorowako dan Pomalaa di Sulawesi Tenggara, serta Morowali di Sulawesi Tengah.

“Dari satu operasi yang dijalankan, sekarang kami mengarah ke 3 operasi. Jadi kami menuju platform pertumbuhan multi-wilayah. Ada 3 investasi yang akan kami jalankan. Investasi mining akan dilakukan 100% oleh Vale, dan untuk smelter-nya joint venture, di mana Vale menjadi minority. Kami akan bekerja sama dengan mitra yang sustainable,” ungkapnya.

Adapun di Morowali nilai investasinya mencapai US$1,9 miliar dolar, bermitra dengan GEM. Target mekanikal selesai akhir 2026. Di Pomalaa investasinya US$3,2 miliar dolar untuk mining dan High Pressure Acid Leaching (HPAL) yaitu teknologi pengolahan dan pemurnian bijih nikel kadar rendah (limonit). Sementara di Sorowako investasinya US$2,1 miliar.

Menurutnya, HPAL masih sangat potensial karena akan mendukung industri baterai. Sebab dulu bijih limonit tidak dipakai, tapi dengan teknologi HPAL akan membuka jalur ekonomi baru. Emisi yang dihasilkan HPAL ini lebih rendah. Tapi Vale sadar residu HPAL jumlahnya signifikan. Untuk itu Vale menekankan HPAL yang dibangun harus memenuhi standar internasional.

“Hilirisasi proyek yang kami jalankan bersama partner terintegrasi dari mining sampai proses, tidak berhenti di sini karena akan terus berjalan. Ketika downstreaming berjalan lebih lanjut di Indonesia, akan memberi nilai tambah bagi Indonesia,” imbuh Sigit.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) atau PT Industri Beterai Indonesia, Aditya Farhan Arif mengatakan, sejak IBC berdiri pada 2021 sudah diyakini memiliki prospek yang besar dalam jangka panjang.

Ketika berbicara soal transisi energi, dulu hanya terpikirkan bagaimana baterai men-support grid dari renewable energy dan transisi dari internal combustion engine (ICE) ke electric vehicle (EV). Sekarang ada pendorong baru yaitu ekonomi digital. Data center memerlukan baterai, khususnya Battery Energy Storage System (BESS) untuk menjaga datanya, dengan kapasitas yang sangat besar.

Trajectory ke depan yang pertumbuhannya paling besar justru ada di BESS, untuk data center maupun transisi energi. Volumenya diproyeksikan naik 30 kali lipat pada 2035 dibanding 2023,” katanya.

Saat ini dari sisi market, lanjutnya, bauran teknologi kimia memang didominasi oleh Lithium Ferro Phosphate (LFP), sementara yang menjadi semangat hilirisasi nikel Indonesia adalah Lithium Nikel Mangan Kobalt (NMC). 

IBC melakukan forecasting tidak hanya dari sisi market, tapi juga dari sisi teknologi. Jika digabungkan, LFP dengan adanya blade battery sudah mencapai puncak maturitas pengembangannya. Sementara NMC masih terbuka ruang pengembangan lebih lanjut.

Arah NMC ke depan akan ke high voltage dengan kadar nikel lebih tinggi, seperti NMC 811 dan NMC 955, untuk mengejar fast charging dan power density yang lebih tinggi. Ada juga pengembangan ke arah single crystal NMC untuk meningkatkan stabilitas.

“NMC memiliki energy density yang sangat tinggi, sehingga dengan volume yang sama bisa menyimpan energi lebih banyak. Jika dipakai di mobil, mobilnya akan lebih ringan dibanding LFP. Dengan single crystal, akan lebih compact lagi,” paparnya.

Tidak hanya itu, hilirisasi bisa berkembang ke Sodium-ion Battery yang penggunaannya lebih banyak untuk BESS, selanjutnya Solid-state Battery yang saat ini banyak perusahaan di dunia berlomba menjadi yang pertama memperkenalkannya ke pasar.

“Jadi perkembangan industri baterai tidak hanya men-trigger hilirisasi nikel, tapi juga komponen lain seperti aluminium dan tembaga. Di dalam baterai setidaknya dibutuhkan aluminium dan sekitar 18alah tembaga. Jika kita punya industri baterai yang maju dan berdaulat, kita juga punya kesempatan mendapat dampak ekonomi lebih besar dari komoditas lainnya,” katanya.

Indonesia layak menjadikan industrial baterai sebagai industri strategis dan prioritas nasional. Meski tantangannya cukup kompleks, yakni bagaimana membuat nikel tetap kompetitif. Sebab secara inheren, harga baterai tanpa nikel memang jauh lebih murah, mengingat harga mineralnya sendiri murah.

Di tengah janji besar hilirisasi itu pun, IBC sebagai ujung tombak industri baterai nasional juga telah menyiapkan 600 pegawainya untuk disekolahkan ke China, serta membangun PLTS 18 MW di Karawang sebagai bentuk komitmen terhadap Environmental, Social, and Governance (ESG).

 

 

 

Berita Terbaru
Kamis, 17 Sep 2026 09:42 WIB

PLN Tambah Dua SPKLU 120 kW di Citraland Surabaya

PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jawa Timur (UID Jatim) memperluas akses pengisian daya kendaraan listrik di Surabaya.
Kamis, 17 Sep 2026 07:03 WIB

Penyaluran Kredit UMKM dan KUR Jatim Tumbuh, KUR Capai Rp69,76 Triliun

Penyaluran kredit UMKM dan KUR Jawa Timur per Juli 2026 menunjukkan perkembangan. Outstanding KUR mencapai Rp69,76 triliun dengan NPL 1,97 persen.
Rabu, 16 Sep 2026 10:21 WIB

Pelindo Marine Latih Perajin Batik Kriya Punden, Perkuat Daya Saing Produk

Pelindo Marine memberikan pelatihan desain batik kepada pelaku UMKM di eks lokalisasi Dolly di Hotwax Studio, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Selasa, 15 Sep 2026 19:52 WIB

,Lima Unggulan Utama Tablet Lenovo Idea Tab Plus. Apa Saja

Dinamika kerja hybrid dan gaya hidup mahasiswa yang serba cepat menuntut hadirnya perangkat yang tidak hanya portabel
Selasa, 15 Sep 2026 15:17 WIB

Lenovo Tab Plus Gen 2 Tiba di Indonesia di Rancang Untuk Momen Liburan

Lenovo Tab Plus Gen 2 di Indonesia yang memiliki fitur cerdas melalui JBL9-unit Pro Speaker System, layar 12,1 inci 2,5K, serta kickstand 360 derajat
Selasa, 15 Sep 2026 14:44 WIB

Pertamina Goes to Campus 2026 : Menyiapkan Generasi Kreatif Energi Masa Depan

JATIMKINI.COM, Di tengah tantangan transisi energi dan kebutuhan energi nasional yang terus meningkat, Pertamina mulai membangun pondasi SDM sejak