JATIMKINI.COM, Antrean panjang di SPBU dalam beberapa hari terakhir diklaim bukan karena stok BBM kosong, melainkan karena kuota bersubsidi yang makin menipis dan lonjakan konsumsi.
Area Manager Comm, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi mengatakan, Pertamina meminta masyarakat agar tidak buru-buru menyimpulkan bahwa BBM langka. Cara paling mudah mengeceknya adalah melihat pengecer sekitar.
“Kalau di pengecer masih ada yang jual, jangan dikatakan langka. Sumbernya pasti dari SPBU resmi kami,” tegasnya, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, ada 2 faktor utama. Pertama, peralihan konsumen dari BBM nonsubsidi ke subsidi setelah ada penyesuaian harga. Kedua, serapan kuota yang memang sudah besar menjelang akhir tahun.
Ia membedakan dua istilah yang sering rancu: stok dan kuota. Stok dipastikan aman di terminal dan SPBU. Namun kuota adalah batas penyaluran yang ditetapkan pemerintah pusat terkait anggaran subsidi.
“Sampai triwulan III, September ini, serapan sudah lebih dari 60%. Pertamina tidak boleh menyalurkan melebihi kuota yang ditugaskan,” ujarnya.
Untuk menjaga agar BBM subsidi tetap ada hingga 31 Desember 2026 di seluruh Jatim, Bali, NTB, NTT, Pertamina melakukan sejumlah pengaturan.
Setiap SPBU punya otonomi mengatur pola layanan, mulai dari pengaturan jam buka, hingga menawarkan opsi ke BBM nonsubsidi seperti Pertamax atau Dexlite untuk mengurai antrean.
Pola lain seperti ganjil-genap yang diterapkan di provinsi lain, kata dia, adalah modifikasi pemerintah daerah agar kuotanya cukup sampai akhir tahun.
Secara data, di Jawa Timur terjadi penurunan konsumsi Pertamax 3%-4%, namun multi produk diesel seperti Dexlite juga ikut terdampak. Sebaliknya, Pertalite naik terutama di Surabaya Raya, dan Biosolar di sepanjang Pantura.
“Antrean roda 2 yang paling terasa panjang, karena untuk roda 2 bisa langsung beli tanpa pakai QRCode, sedangkan roda 4 harus daftar barcode dulu,” pungkasnya.
Editor : Peni Widarti