JATIMKINI.COM, Pintu pagar bercat putih dibuka dengan cepat untuk memberi jalan kendaraan yang lalu lalang. Tak lama kemudian terdengar aba-aba memecah kerumunan massa di depan pagar setinggi kurang lebih 2 meter. Panduan itu keluar dari petugas keamanan Hotel Kampi di sela demo yang terjadi di depan Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Jumat (29/8/2025) sore.
Panduan itu dimaklumi para demonstran. Pelan-pelan peserta unjuk rasa yang mayoritas mengenakan kaus-kemeja warna hitam, memberi jalan mobil yang keluar--masuk hotel. “Minggir-minggir, awas ada mobil lewat,” kata salah satu demonstran mengingatkan rekannya.
Pintu hotel segera ditutup. Menyisakan celah untuk keluar-masuk petugas yang bertugas. “Tamu sudah kami beri tahu bila ada aksi unjuk rasa agar berjaga diri,” kata Supriyanto, General Manager Kampi Hotel, saat dijumpai di sela demo.
Lokasi Strategis dan Perjudian Risiko
Kampi, satu dari sekian hotel yang berada di jantung Surabaya. Lokasinya sangat strategis karena berhadapan dengan Gedung Negara Grahadi, tempat Gubernur Jawa Timur ngantor hari-hari.
Dan di tempat ini pula kerap disuguhkan demo, mulai dari yang adem sampai yang berakhir ricuh. “Demo penolakan UU TNI sama (aksi massa) hari ini, yang paling panas. Sama-sama ada lemparan batu dan tembakan gas air mata,” imbuh Supriyanto.
Bagi Supriyanto, memimpin hotel di lokasi yang kerap menjadi episentrrum demo, perlu memberi pemahaman manajemen risiko kepada pegawai maupun tamu hotel. Supri, sapaannya, mengaku telah memberi tahu kepada tamu pada saat memesan kamar hingga saat bermalam.
“Kami tetap mengizinkan (tamu) keluar-masuk, dan biasanya besifat mendadak. Mereka biasanya sudah paham. Tapi di situasi ini kami tetap memberi pemahaman risiko yang perlu diwaspadai, dan selalu kami infokan ulang,” ia menjelaskan.
Begitu juga dengan pegawai. Ia menganjurkan untuk sementara tidak pulang sampai situasi betul-betul kondusif. Sedangkan pegawai yang shift berbarengan dengan demo, diminta tiba lebih awal atau sebelum aksi massa. “Mitigasi risiko sangat penting, karena menyangkut keselamatan sebelum dan setelah kerja,” tegas pria berkacamata ini.
Skema Pengamanan
Mitigasi risiko tidak berhenti di tingkat manajemen. Supriyanto juga melakukan komunikasi dengan aparat, untuk mendapat masukan apa saja yang perlu disiapkan. Kesiapan lainnya perlengkapan medis, slain untuk meminimalkan dampak gas air mata.
Aksi sempat memanas sekitar pukul 16.45 WIB. Peserta unjuk rasa yang datang dari sisi kiri hotel melempari petugas, yang berjaga di sisi gedung PT Pos Indonesia. Saling lempar bejalan cukup lama.
“Ilham mundur, Ilham mundur,” teriak Supriyanto, mengingatkan petugas keamanan hotel untuk sgera masuk hotel, karena situasi makin panas.
Saat aparat memukul mundur peserta unjuk rasa, petugas hotel mengarahkan peserta unjuk rasa untuk menjauh dari hotel. “Terus, terus,” kata petugas keamanan hotel mengarahkan pengunjuk rasa untuk menjauhkan peserta unjuk rasa, dibantu anggota TNI AD.
Kampi Hotel, satu dari sekian tempat usaha di Jalan Gubernur Suryo, yang kerap menjadi pusat aksi massa memandang perlu mitigasi risiko. Tata kelola ini guna mengantisipasi segala kemungkinan terburuk.
Editor : Rochman Arief