JATIMKINI.COM, Dunia seni rupa Indonesia berduka. Lucia Hartini, pelukis perempuan papan atas yang dikenal dengan karya-karya surealis penuh kosmos dan spiritualitas, wafat pada Rabu (27/8/2025) di usia 66 tahun. Sosok yang pernah mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional ini dimakamkan di Makam Seniman Imogiri, Yogyakarta, Kamis (28/8/2025).
Lucia Hartini lahir sebagai putri keenam dari sembilan bersaudara. Sejak kecil ia akrab dengan dunia keterampilan, kerap mengamati kakaknya menjahit dan membuat kerajinan tangan. Dari situlah ia belajar menggerakkan tangannya dengan luwes dan penuh ketelitian. Namun, kala itu ia tak pernah bermimpi menjadi seorang pelukis.
Masa remajanya diwarnai dengan bakat desain. Saat bersekolah di SKP (Sekolah Kesejahteraan Keluarga), Lucia dikenal piawai mendesain kostum untuk pertunjukan drama band. Bakat visual ini kemudian menuntunnya melanjutkan studi di SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia, kini SMK Seni Rupa Yogyakarta). Di sinilah ia jatuh cinta pada dunia lukis, dan semenjak itu jalan hidupnya berubah.
Lucia mengasah keahliannya tak hanya di bangku sekolah, tetapi juga secara otodidak. Ia gemar mengunjungi pameran seni, berdiskusi dengan teman-teman seprofesi, dan menyerap pengalaman kreatif di luar ruang kelas. Sejak saat itu, ia memutuskan sepenuh hati menekuni seni lukis.
Keluarga Seni
Bakat seni Lucia bukan datang tiba-tiba. Ia lahir dari keluarga yang sejak lama bersentuhan dengan tradisi kreatif. Ayahnya seorang pengrawit sekaligus desainer wayang, sementara ibunya seorang pembatik. Lingkungan yang sarat nilai artistik ini menumbuhkan sensitivitas estetika Lucia sejak dini.
Meski demikian, Lucia tumbuh dengan semangat kemandirian. Ia sering menegaskan bahwa motivasi utamanya sederhana: menjadi pelukis yang baik. Rasa bosan yang kadang muncul tidak pernah dibiarkannya berlarut. Baginya, bosan adalah penyakit yang harus ditaklukkan, bukan dimanjakan.
Karya-karya Lucia Hartini dikenal bernafaskan surealisme, meski ia sendiri tak pernah ingin terikat pada satu aliran tertentu. Baginya, melukis adalah proses yang mengalir. Namun, para pengamat seni melihat dengan jelas ciri khas yang kuat dalam kanvas-kanvasnya: dunia mimpi, kosmos, dan spiritualitas yang berpadu dengan tubuh perempuan sebagai simbol kehidupan.
Dalam lukisan-lukisannya, kita menemukan figur perempuan yang kerap digambarkan sebagai pusat semesta, seolah menjadi jembatan antara bumi dan jagat raya. Warna-warna kosmik, bentangan galaksi, dan lanskap metafisik berpadu menjadi visual yang puitis sekaligus magis.
Kekuatan Lucia terletak pada kemampuannya memvisualkan hal-hal metafisik menjadi bahasa rupa yang komunikatif. Ia seolah melukiskan dunia batin manusia cinta, kesendirian, pencarian makna hidup, hingga pergulatan spiritual dengan bahasa imaji yang universal. Karena itulah, karya Lucia menembus batas ruang dan waktu, serta mampu berbicara kepada siapa saja, di manapun.
Selama hidupnya, Lucia telah menggelar berbagai pameran tunggal maupun kolektif. Namanya dikenal luas di Indonesia dan mancanegara. Beberapa catatan penting antara lain:
Pameran bersama para seniman senior di Bentara Budaya Yogyakarta dan di Hilton Executive Jakarta. Confess and Conceal” di National Gallery of Art, Singapura
Karya-karyanya juga pernah dipamerkan di berbagai kota besar dunia, menjadikannya salah satu pelukis perempuan Indonesia yang mendapat pengakuan internasional.
Setiap tahun, Lucia selalu menghasilkan karya yang disebutnya sebagai “masterpiece pribadi”, sebuah disiplin yang mencerminkan dedikasinya pada dunia seni rupa.
Perpisahan Seorang Maestro
Kabar duka datang pada Rabu, 27 Agustus 2025, Lucia Hartini menghembuskan napas terakhir pada usia 66 tahun. Jenazah disemayamkan di rumah duka, Bugisan Selatan, Gumuk Indah Kidul, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Pemberkatan jenazah dilaksanakan pada Rabu malam, dan pemakaman akan berlangsung pada Kamis, 28 Agustus 2025 di Makam Seniman Imogiri, Yogyakarta tempat peristirahatan terakhir banyak tokoh seni besar Indonesia.
Kepergian Lucia Hartini meninggalkan duka mendalam, tetapi juga meninggalkan jejak abadi: karya-karya yang akan terus hidup, berbicara, dan menginspirasi lintas generasi.
Lucia Hartini bukan sekadar pelukis. Ia adalah penyair dalam bentuk visual, yang melukiskan semesta di atas kanvas dengan jiwa seorang perempuan yang penuh cinta dan keberanian. Karyanya meneguhkan bahwa seni adalah bahasa universal untuk memahami diri dan dunia.
Dengan segala dedikasi, Lucia Hartini layak dikenang sebagai salah satu maestro seni lukis Indonesia yang mengharumkan nama bangsa di kancah dunia.
Selamat jalan, Bu Lucia Hartini. Karya dan semestamu akan selalu menjadi cahaya bagi perjalanan seni rupa Indonesia.
Editor : Ali Topan