x
x

Demonstran Pati Hidupkan Spirit Wong Samin

Di bawah rindang pohon jati, di tepian kaki Pegunungan Kendheng, lebih dari seabad lalu seorang lelaki berwajah teduh memilih jalan sunyi melawan kuasa yang menindas. Namanya Samin Surosentiko  lahir sebagai Raden Kohar yang kemudian memimpin laku hidup sederhana, jujur, menolak tunduk pada kekuasaan kolonial Belanda.

‎Bagi Samin dan para pengikutnya, tanah dan alam adalah titipan leluhur, bukan komoditas untuk dipajaki penjajah. Maka ketika pemerintah kolonial memungut pajak tanah dan memaksa kerja rodi, Samin hanya menjawab: “Tanah ini bukan milik Belanda. Mengapa harus membayar?”

‎Perlawanan itu tidak diwujudkan dengan bambu runcing atau senjata api tetapi dengan menolak pajak, menolak perintah kerja paksa juga menolak ikut aturan yang dianggap tak adil. Mereka memilih perlawanan sipil pasif, cara yang kala itu menggelisahkan kekuasaan. Akhirnya Samin dibuang ke Padang pada 1914. Namun ajaran Sedulur Sikep tetap bertahan, menyebar di Blora, Rembang, Grobogan, Kudus, Pati, Bojonegoro  hingga Lamongan.

‎Demikian juga bila membaca Pati hari ini. Lebih dari seratus tahun berselang, salah satu daerah yang menjadi rumah Sedulur Sikep, api perlawanan sipil kembali menyala. Bukan lagi melawan kolonial melainkan kebijakan pemerintah daerahnya sendiri.

‎Awal Agustus 2025, Bupati Pati Sudewo menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250%. Kenaikan yang mendadak dan drastis itu memantik amarah warga. 

‎Di jalan-jalan, ribuan orang berkumpul. Spanduk terbentang: “Turun Kau Biadab!” Orator bergantian menyuarakan keberatan, bukan hanya soal nominal pajak tetapi juga soal rasa keadilan yang tidak adil.

‎Pada 8 Agustus 2025, Sudewo akhirnya mengumumkan pembatalan kenaikan PBB dan mengembalikan tarif ke level 2024. Tetapi massa tak bubar. Mereka menuntut Sudewo turun dari jabatan bupati karena dinilai telah kehilangan kepercayaan rakyat.

‎Jika dilihat dari inti persoalannya, jarak antara Wong Samin abad ke-20 dan demonstran Pati 2025 tidaklah sejauh yang terlihat di kalender. Keduanya menolak beban pajak yang dianggap tidak wajar dan tidak berpihak pada rakyat kecil.

‎Wong Samin menolak pajak kolonial karena menganggap tanah milik rakyat, bukan Belanda.

‎Demonstran Pati menolak lonjakan PBB karena merasa pemerintah daerah abai terhadap kondisi ekonomi warga.

‎Bedanya, Wong Samin menggunakan jurus diam dan tidak patuh pada aturan sedangkan warga Pati hari ini menggunakan jalur konstitusional dengan unjuk rasa, petisi dan desakan politik melalui DPRD.

Hak Angket

‎Gelombang protes kini berfokus pada hak angket DPRD Pati. Menurut Undang-Undang Pemerintahan Daerah, hak angket memberi kewenangan DPRD untuk menyelidiki kebijakan yang diduga melanggar aturan atau merugikan rakyat.

‎Jika terbukti, DPRD bisa mengajukan hak menyatakan pendapat yang  bila dikabulkan Mahkamah Agung dapat berujung pada pemberhentian kepala daerah.

‎Bagi warga Pati, inilah saatnya wakil rakyat benar-benar berpihak pada suara rakyat.

‎Ajaran Samin tidak pernah menganjurkan kekerasan. Mereka mengajarkan "ora ngapusi" (tidak berbohong) dan "ora nyolong" (tidak mencuri). Dalam konteks hari ini, etos itu bermakna menjaga moral perjuangan,  demonstrasi yang tertib, tuntutan yang jelas dan jalur hukum yang sahih.‎

‎Bila saja Samin hidup di zaman sekarang,  ia akan tersenyum melihat warga Pati berdiri di alun-alun, membawa poster, dan bersuara lantang. Bukan untuk sekadar melawan tetapi untuk menegakkan prinsip.  Bahwa kebijakan publik harus lahir dari keberpihakan kepada rakyat, bukan dari hitung-hitungan di meja birokrat.

‎Belajar pada sejarah, setiap rezim yang menutup telinga terhadap jeritan rakyat akan berhadapan dengan gelombang perlawanan, entah itu lewat kesunyian ladang jati di Randublatung atau lewat pekikan massa di jantung kota. 

‎Yang berubah hanyalah zaman dan cara tetapi nyali dan harga diri rakyat tetap sama. Lawan!!

Penulis : Rokimdakas

Wartawan & Penulis

Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat umum, Politikus, pengamat, mahasiswa, pengusaha, organisasi serta lainnya  untuk menulis berita lepas.

Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan dan foto 

 

‎

‎

Berita Terbaru
Rabu, 13 Agu 2025 21:24 WIB

Rakerda Partai Demokrat Jatim, Sekjen Beri Pesan Penting

Di balik dinginnya ballroom hotel tersemat semangat Rakerda Partai Demokrat Jatim demi kepentingan rakyat.
Rabu, 13 Agu 2025 19:31 WIB

Partai Demokrat Dorong Emil Dardak Maju Pilgub Jatim dan AHY Pilpres 2029, Serius?

Rakerda Partai Demokrat Jatim memutuskan Emil Dardak maju Pilgub Jatim dan AHY maju Pilpres 2029.
Rabu, 13 Agu 2025 16:52 WIB

Dipilih Secara Aklamasi, Adam Rusydi Resmi Jabat Ketua DPD II Golkar Sidoarjo

JATIMKINI.COM, Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur, Adam Rusydi  terpilih kembali menjadi Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Sidoarjo secara aklamasi
Rabu, 13 Agu 2025 14:31 WIB

TPS Perkuat Konektivitas Peti Kemas untuk Ekosistem Logistik Nasional

ALFI Jateng dan Jatim menyaksikan layanan operasional di TPS yang telah berbasis digital dalam kunjungan kerjanya.
Rabu, 13 Agu 2025 14:29 WIB

Undian Simpeda Nasional : Nasabah Bank Jatim Raih Hadiah Utama Rp500 Juta 

JATIMKINI.COM, Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) kembali sukses menyelenggarakan Undian Tabungan Simpeda Nasional Periode ke-1 Tahun XXXVI-2025 dengan
Rabu, 13 Agu 2025 14:17 WIB

Hidupkan Majapahit Lewat Kerajinan Terakota Trowulan

JATIMKINI.COM, Ketika terakota menjadi jembatan masa lalu, kini dan nanti, di Dusun Tegalan, Desa Trowulan, Kabupaten Mojokerto