JATIMKINI.COM, Ketika terakota menjadi jembatan masa lalu, kini dan nanti, di Dusun Tegalan, Desa Trowulan, Kabupaten Mojokerto, suara denting alat ukir dan aroma khas tanah bakar masih terdengar dan tercium di antara deru zaman.
Di sini, tangan-tangan terampil perajin menghidupkan kembali jejak kejayaan Majapahit lewat miniatur candi berbahan terakota, sebuah tradisi yang nyaris punah di tengah gempuran budaya instan dan industri kerajinan modern.
Bagi Hadi Siswanto dan Dedi Setiawan, dua perajin yang tetap bertahan, terakota bukan sekadar kerajinan melainkan warisan sejarah yang memuat ingatan kolektif bangsa. Dari tanah liat sederhana, mereka membentuk simbol peradaban yang dulu menguasai Nusantara.
Mengapa terakota Majapahit layak mendapat apresiasi khusus? Karena dari karya inilah publik diingatkan bahwa akar budaya tidak boleh terkubur dalam pertarungan identitas yang kerap dibungkus isu agama.
Terakota menjadi medium yang menyatukan masa lalu, masa kini dan masa depan. Mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya untuk dihafal tetapi dihidupkan kembali.
Sejarah mencatat, Trowulan adalah pusat pemerintahan Majapahit, kerajaan maritim besar abad ke-13 hingga 15. Artefak terakota dari masa itu, mulai dari patung, gentong, hingga miniatur bangunan pernah ditemukan di area ini. Sayangnya, banyak yang hilang akibat penjarahan dan aktivitas menggali emas di lahan pertanian.
Hadi Siswanto, yang akrab dipanggil Hadi Candi, sudah 18 tahun menekuni seni ini. Ia memulai dari industri patung cor kuningan sebelum beralih ke terakota demi melanjutkan usaha ayahnya yang wafat pada 2006.
Proses yang ia tempuh jauh dari kata instan. Tanah liat direndam, disaring, diendapkan, diaduk kemudian dibentuk dengan teknik cetak sekaligus ukir manual. Butuh lima hari hanya untuk menyiapkan bahan, berminggu-minggu untuk menyelesaikan satu miniatur candi berukuran besar.
Harga karyanya bervariasi: Rp 550 ribu untuk tinggi 70 cm hingga Rp 5 juta untuk setinggi 250 cm. Fungsi miniatur ini pun beragam, dari tempat sesaji di pura hingga ornamen taman dan pagar.
Sementara Dedi Setiawan sudah bersentuhan dengan tanah liat sejak SD, membantu ayahnya membuat aneka bentuk gerabah. Kini ia fokus membuat replika candi karena permintaan pasar. Dengan teknik manual yang sama, ia mampu menghasilkan empat candi besar per bulan.
Kesulitan bahan baku
Meski menjadi ikon budaya, perajin terakota Trowulan menghadapi masalah klasik. Tanah liat berkualitas makin sulit ditemukan, persaingan dengan kerajinan cor kuningan dan patung batu semakin ketat dan minimnya perhatian pemerintah.
Pelajaran dari Kasongan, Yogyakarta, seharusnya bisa menjadi inspirasi. Perajin di sana berkembang pesat berkat pendampingan kampus seni dan desain. Tanpa sentuhan riset, inovasi dan strategi pemasaran modern, terakota Trowulan berisiko stagnan seperti gerabah Desa Malo di Bojonegoro.
Kaum akademisi, khususnya dari perguruan tinggi seni rupa sepatutnya turun tangan. Bukan sekadar mengajar teknik baru tetapi juga merancang konsep produk, menghubungkan perajin dengan pasar global serta memastikan nilai sejarahnya tidak tergerus oleh komersialisasi.
Terakota Majapahit adalah pengingat bahwa peradaban besar lahir dari kreativitas, keterampilan serta kecintaan pada budaya sendiri. Setiap ukiran bunga teratai di kaki candi, setiap tangga yang mengarah ke pintu, adalah bahasa visual yang berbicara tentang masa lalu kita.
Jika kita membiarkan perajin seperti Hadi dan Dedi berjalan sendiri maka kita sedang menutup satu pintu sejarah. Namun, jika mereka mendapat dukungan dari pemerintah, akademisi hingga masyarakat maka miniatur candi itu bukan sekadar hiasan melainkan simbol bahwa akar budaya kita tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.
Editor : Ali Topan