JATIMKINI.COM , Oleh-oleh paling berharga dari sebuah perjalanan wisata kadang bukan foto atau suvenir, melainkan kisah kemanusiaan yang diam-diam tertinggal di hati.
Pramuwisata mencerminkan budaya bangsa yang ramah tamah di hadapan wisatawan asing yang sedang mengunjungi Indonesia.
Itulah yang dirasakan para pramuwisata ketika mendampingi ratusan wisatawan kapal pesiar Viking Venus yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Kamis, 12 Maret 2026.
Sebanyak 814 wisatawan turun dari kapal mewah itu untuk menikmati Surabaya dan sekitarnya dalam waktu yang relatif singkat, hanya tujuh jam. Mereka dibagi dalam 25 bus wisata yang menuju berbagai destinasi, mulai dari Kampung Wisata Peneleh di Surabaya, Museum Mpu Tantular di Sidoarjo hingga kawasan bersejarah Trowulan di Mojokerto.
Sebagian besar wisatawan kapal pesiar memang berusia lanjut. Banyak di antara mereka datang dengan tongkat, kursi roda, atau keterbatasan fisik lain.
Namun bagi para pramuwisata yang tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DPC Surabaya, kondisi itu bukan hambatan, melainkan bagian dari tanggung jawab profesional sekaligus pengalaman batin yang berharga.
Salah satu kisah datang dari Ari Wahyu Wibowo. Ia mendampingi 28 wisatawan dengan rute Kampung Wisata Peneleh dan Museum Mpu Tantular. Dari jumlah itu, tiga orang adalah penyandang disabilitas.
Yang pertama seorang pria berusia sekitar 85 tahun yang tuna rungu, datang bersama istrinya. Kedua, pria sekitar 70 tahun penyandang tuna netra yang juga ditemani istrinya. Sementara yang ketiga adalah seorang perempuan sekitar 75 tahun yang tidak memiliki pergelangan tangan dan pergelangan kaki.
Ia berjalan dengan kaki palsu dan ditemani putrinya.
Ari sadar, tugasnya bukan sekadar menjelaskan sejarah atau budaya. Ia harus memastikan setiap tamu tetap merasa nyaman dan dihargai.
Permintaan kecil pun ia perhatikan. Istri wisatawan tuna rungu misalnya, meminta duduk di dekat jendela bus yang paling lebar. Ari mempersilakan mereka memilih sendiri tempat yang paling nyaman.
Untuk wisatawan tuna netra, Ari berkoordinasi dengan istrinya yang menjadi penuntun utama. Ia cukup memberikan arahan gerak agar pasangan itu bisa berjalan dengan aman.
Sementara bagi wisatawan perempuan yang berjalan dengan kaki palsu, Ari memberi perhatian khusus saat naik turun bus. Ia memastikan setiap anak tangga diinjak dengan aman.
Perhatian itu terus berlanjut ketika rombongan tiba di Museum Mpu Tantular. Kehadiran staf museum yang menyediakan kursi roda sangat membantu mobilitas wisatawan.
Anak dari tamu yang memiliki keterbatasan fisik pun bisa beristirahat sejenak sambil menikmati pertunjukan Tari Gandrung Banyuwangi, belajar membatik, dan melihat produk UMKM lokal.
Cerita lain datang dari Abu Bakar, pramuwisata yang membawa rombongan ke kawasan Trowulan. Ia mendampingi dua wisatawan pengguna kursi roda—seorang pria sekitar 85 tahun bersama keluarga, dan seorang perempuan 75 tahun yang hanya memakai kursi roda ketika tubuhnya lelah.
Dengan bantuan kernet bus dan koordinator tur Bayu, Abu memastikan keduanya bisa menikmati kunjungan ke Museum Trowulan, Pendopo Agung, Candi Bajang Ratu, dan Candi Tikus tanpa kesulitan berarti.
Bagi para pramuwisata, pengalaman seperti ini sering disebut sebagai “rezeki cerita”. Mereka bukan sekadar pemandu perjalanan, tetapi juga duta yang memperkenalkan wajah ramah Indonesia.
Di balik penjelasan sejarah dan cerita budaya, ada kesabaran, empati, dan kemampuan membaca kebutuhan manusia yang berbeda-beda.
Dan ketika kapal pesiar itu kembali berlayar pukul enam sore, para wisatawan mungkin pulang dengan kenangan tentang candi, museum, dan kampung tua di Surabaya.
Namun bagi para pemandu wisata, hari itu meninggalkan pelajaran sederhana, kadang tugas terindah seorang pramuwisata bukan hanya menunjukkan tempat-tempat indah, tetapi menuntun langkah-langkah yang rapuh agar tetap bisa menikmati dunia.
Ditulis Oleh : Astuti Yoni
( Pramuwisata Surabaya )
Editor : Ali Topan