JATIMKINI.COM — Siapa sangka, gunungan sampah yang selama ini identik dengan bau dan pencemaran kini justru menjadi sumber energi listrik ramah lingkungan. Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya, sampah rumah tangga disulap menjadi listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo, salah satu proyek waste to energy paling sukses di Indonesia.
Setiap harinya, sekitar 1.600 ton sampah kota Surabaya diolah di PLTSa Benowo yang berdiri diatas 37.4 hektare. Sampah tersebut tidak lagi sekadar ditimbun, melainkan diproses dengan teknologi modern hingga mampu menghasilkan listrik dengan kapasitas mencapai 11 megawatt (MW). Energi yang dihasilkan kemudian disalurkan ke jaringan PLN dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
PLTSa Benowo menggunakan dua sistem teknologi utama, yakni landfill gas power plant dan gasifikasi. Pada sistem landfill gas, gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah ditangkap dan diolah menjadi energi listrik. Sementara itu, teknologi gasifikasi memanfaatkan proses pembakaran sampah pada suhu tinggi untuk menghasilkan gas sintetis yang kemudian dikonversi menjadi listrik.
Proyek yang dikelola oleh PT Sumber Organik ini juga menjadi percontohan nasional dalam pengelolaan sampah berbasis energi. Sejumlah daerah di Indonesia bahkan datang langsung ke Surabaya untuk mempelajari sistem dan pengelolaannya.
Berdasarkan data, PLTSa Benowo telah menyumbangkan energi bersih sebesar 166,1 Gigawatt hour (GWh). Pencapaian ini menjadi bukti nyata keberhasilan program pemerintah dalam Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik berbasis teknologi ramah lingkungan.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jawa Timur, Ahmad Mustaqir, menjelaskan bahwa PLTSa Benowo terdiri dari dua unit pembangkit utama.
“PLTSa Benowo merupakan wujud nyata kolaborasi PLN dengan Pemerintah Kota Surabaya dalam mendukung energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan. Setiap tahunnya, pembangkit ini berkontribusi memasok energi bersih sekitar 5,5 GWh dan 30 GWh dari masing-masing unit pembangkitnya,” jelas Ahmad.
Unit pertama menggunakan sistem sanitary landfill berkapasitas 1,65 MW yang mampu mengolah sekitar 600 ton sampah per hari. Sementara unit kedua menggunakan teknologi gasifikasi berkapasitas 9 MW, dengan kemampuan mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari.
PLTSa Benowo membuktikan bahwa sampah bukan sekadar masalah, melainkan peluang. Dari tumpukan sampah yang dulu dipandang sebelah mata, kini lahir energi listrik yang menerangi kota dan menjadi harapan bagi masa depan energi berkelanjutan Indonesia.
Editor : Ali Topan