JATIMKINI.COM, Liburan akhir tahun yang berdekatan dengan tahun baru Imlek dan Hari Raya Iul Fitri diperkirakan mengalami penurunan. Terlebih data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menyatakan kunjungan wisata pada Oktober 2025 baik secara tahunan maupun bulanan mengalami penurunan.
Situasi ini tidak terlalu dirisaukan pelaku usaha pariwisata menjelang liburan Natal dan tahun baru (Nataru). Seperti dijelaskan Nuryadi, pemilik ecotourism Asriloka dan Lokajaya di Desa Wonosalam, Jombang.
Baginya, liburan tutup tahun tak jauh berbeda dengan liburan pada hari-hari biasa. “Insha Allah kunjungan wisata pada liburan tutup tahun di Wonosalam tetap stabil,” kata Nurydi pekan lalu.
Pria kelahiran Magetan, Jawa Timur ini menegaskan dua objek wisata miliknya memiliki tarif dan segmen yang berbeda. Walhasil, ketika data BPS terkait turunnya kunjungan wisata, tidak banyak memberi pengaruh.
“Asriloka sempat menolak tamu, karena tingginya reservasi yang biasanya dari komunitas, sekolah, dan korporasi. Mereka biasanya menggelar pelatihan atau gathering selama satu malam,” jelas Nuryadi.
Sedangkan Lokajaya, lebih banyak menjadi objek wisata pendukung, misalnya untuk makan siang sambil menikmati alam yang masih natural. “Biasanya wisatawan yang berkunjung langsung pulang,” tegasnya menambahkan.
Belum lama ini BPS Jatim merilis penurunan kunjungan wisata domestik tujuan Jawa Timur. Pada periode Januari-Oktober 2025, kunjungan wisata ke Jatim hanya 181,02 juta perjalanan atau turun 0,58 secara tahunan. Sedangkan pada Oktober, jumlah wisatawan domestik yang masuk Jatim melalui Juanda 229.534, atau turun 9,58 persen month-to-month.
Menurut Nuryadi, Asriloka dan Lokajaya akan tetap menjadi pilihan wisatawan asal Jawa Timur, di tengah lesunya ekonomi. “Penurunan wisatawan yang disampaikan BPS lebih banyak untuk sentra wisata seperti Malang, Batu, atau Banyuwangi,” ia memungkasi.
Editor : Rochman Arief