JATIMKINI.COM, Kapal kargo MV Fu Hai Sheng bersandar di Terminal Operasi 3 IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Tanjung Priok pada Kamis pagi, 9 Oktober 2025. Kapal berbendera China itu datang membawa muatan sekaligus mengusung strategis bagi hubungan dagang dua negara.
Melalui adhoc service yang dibuka OVP Shipping dengan agen pelayaran KCA Global Maritim, arus perdagangan antara Indonesia dan China kembali mendapat jalur baru.
“Layanan baru ini bukan hanya tentang bongkar muat, tapi tentang keterhubungan maritim yang semakin kuat antara Indonesia dan Tiongkok,” ujar Pramestie Wulandary, Corporate Secretary IPC TPK.
Ia menambahkan, IPC TPK siap memberikan layanan terminal yang optimal bagi setiap mitra pelayaran. “Melalui kolaborasi seperti ini, kami ingin berkontribusi pada peningkatan daya saing perdagangan nasional,” lanjutnya.
Adhoc service ini ditandai dengan sandarnya MV Fu Hai Sheng yang memiliki panjang 141 meter dan lebar 28 meter. Dalam kunjungan perdananya, kapal ini melakukan bongkar muat 275 boks kontainer sebelum bertolak menuju Port Klang, Malaysia, dan selanjutnya Qingdao, China.
Rute Jakarta–Port Klang–Qingdao menjadi simbol keterhubungan baru yang dapat memperpendek rantai logistik ekspor Indonesia ke pasar China.
Langkah ini sejalan dengan tren pertumbuhan perdagangan kedua negara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia ke China sepanjang Januari–Juni 2025 naik 8,9 persen menjadi USD 30,5 miliar. Peningkatan ini terutama ditopang ekspor nikel, besi baja, karet, kopi, kakao, dan buah-buahan.
Sementara itu, impor dari negeri Tirai Bambu turut meningkat 21 persen menjadi USD 40,2 miliar. Angka ini menunjukkan betapa dinamisnya hubungan dagang kedua negara tersebut.
Adhoc service bukan satu-satunya inisiatif IPC TPK sepanjang tahun ini. Hingga Oktober 2025, perusahaan yang merupakan anak usaha Pelindo Terminal Petikemas ini telah menghadirkan enam layanan pelayaran baru dengan berbagai tujuan internasional.
Mulai dari ARX Service tujuan Djibouti oleh Marsa Ocean Shipping, PNG Service ke Papua Nugini oleh Meratus Line, hingga layanan FIAS tujuan Bangkok dan Ho Chi Minh City. Semuanya menunjukkan upaya memperluas jangkauan pelabuhan Indonesia di pasar global.
“Sinergi antara operator terminal dan pelayaran menjadi kunci terciptanya rantai pasok yang efisien. Kami percaya layanan seperti adhoc service dapat mendorong pertumbuhan ekspor Indonesia,” tutur Pramestie.
Pelayaran baru ini menegaskan peran Tanjung Priok sebagai pelabuhan tersibuk sekaligus simpul strategis yang menghubungkan rantai perdagangan Asia.
Bagi IPC TPK, setiap layanan baru adalah bagian dari strategi memperluas jaringan konektivitas dan memperkuat posisi Indonesia dalam peta perdagangan global.
Melalui adhoc service, hubungan dagang Indonesia–China tidak diukur dari angka ekspor dan impor. Perdagangan ini mempertegas seberapa efisien pengaturan logistik dan seberapa erat kolaborasi antar pelaku maritim dijalin.
Editor : Rochman Arief