JATIMKINI.COM, Dalam hitungan hari, Jawa Timur segera berusia 80 tahun. Banyak prestasi yang sudah dilewatkan yang meliputi pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional, pertumbuhan investasi, hub bagi perdagangan Indonesia Timur, hingga capaian dari misi dagang yang sudah dilakukan.
Namun demikian, ada hal yang menjadi catatan bagi pengamat sekaligus pakar supply chain terkait posisi Jawa Timur sebagai hub timur Nusantara.
“Kalau kita lihat arus barang antara Surabaya dan Indonesia Timur, masih jomplang,” ujarnya di jumpai di Ruang Dewan Profesor, Gedung Rektorat ITS Surabaya, Rabu (8/10/2025).
“Barang dari Jawa Timur ke timur banyak sekali, tapi sebaliknya dari timur ke Jawa sangat sedikit. Ini problem pokok dalam rantai pasok nasional,” ia menambahkan.
Dalam kajian yang pernah ia lakukan, Iwan memperkenalkan satu indikator penting dalam mengukur vitalitas pelabuhan, yakni connecting power.
“Semakin sering terjadi pengiriman barang keluar-masuk, maka connecting power-nya tinggi,” jelasnya. Hasil pengamatannya, connecting power Jawa Timur, khususnya Tanjung Perak, itu cukup besar dibanding pelabuhan lain.
Masalahnya, lanjut Iwan, arus itu masih bersifat satu arah. Dari Surabaya ke Makassar, Jayapura, Sorong—kapal berangkat penuh. Tapi ketika kembali, seringkali kosong.
“Bahkan ada kapal yang menunggu beberapa hari di pelabuhan timur hanya supaya ada muatan balik. Kalau pun setengah penuh baru jalan. Ini menyebabkan biaya logistik tinggi,” katanya.
Kondisi itu berimbas pada harga barang di Indonesia Timur yang relatif lebih mahal. Pemerintah sempat memberi subsidi ongkos kirim dari timur ke barat, namun dampaknya belum terasa signifikan.
“Masalahnya bukan hanya di biaya. Ini soal struktur rantai pasok yang memang belum seimbang,” tegas pria kelahiran Singaraja, Bali itu. “Kita masih berpikir pelabuhan ke pelabuhan, belum melihatnya sebagai sistem rantai pasok yang utuh,” imbuhnya
Rantai Pasok Tak Cukup dengan Infrastruktur
Secara fisik, infrastruktur pelabuhan di Jawa Timur sebenarnya sudah mumpuni. Dari Tanjung Perak hingga Teluk Lamong, dari Probolinggo hingga Pasuruan, semua sudah terkoneksi dengan jalur logistik nasional. Bahkan ia menilai infrastruktur di seluruh pelabuhan sudah cukup memadai.
Dalam kerangka rantai pasok, kata Iwan, pelabuhan hanyalah satu mata rantai. Yang lebih penting adalah memastikan ada aliran barang dua arah—antara daerah penghasil bahan mentah dan pusat industri pengolahan.
“Contohnya industri perikanan. Daerah penghasil ikan pelagis seperti tongkol dan lemuru di Indonesia Timur itu bagus sekali. Ikan-ikan itu dikirim ke Jawa Timur, diolah, lalu dijual lagi. Ini salah satu contoh rantai pasok yang sehat,” ujarnya.
Model serupa, menurutnya, bisa diterapkan di sektor lain. “Misalnya kelapa sawit. Kalau di Indonesia Timur dibangun pabrik CPO (Crude Palm Oil), nanti dikirim ke Jawa Timur untuk diolah jadi minyak goreng atau biodiesel. Itu baru supply chain yang efisien,” jelasnya.
Masalahnya, hingga kini industri pengolahan di timur belum tumbuh. Banyak investor memikirkan beberapa hal, yang meliputi kesiapan SDM, infrastruktur pendukung, insentif finansial, hingga market.
Lumbung Pangan dan Ketimpangan Distribusi
Jawa Timur sejatinya bukan hanya pintu perdagangan, tapi juga lumbung pangan nasional. Produksi padi, jagung, ayam petelur, hingga ikan dari wilayah ini mampu menutupi kebutuhan Jakarta, Jawa Barat, bahkan beberapa wilayah di Kalimantan.
“Pabrik pakan ternak di provinsi lain banyak yang mengambil jagung dari Jawa Timur,” ujar guru besar ITS Surabaya ini. Tapi kelebihan pasokan ini juga bisa menyebabkan fluktuasi harga sebagai akibat harga di tingkat distributor.
Itu sebabnya, rantai pasok pangan perlu diawasi sejak dari petani hingga ke pasar. “Kalau harga naik karena biaya logistik tinggi, berarti sistemnya tidak jalan,” ia memungkasi.
Editor : Rochman Arief