JATIMKINI.COM, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menggantikan Sri Mulyani Indrawati mendapat sorotan dari pakar kajian budaya dan media Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan.
Ia menilai gaya komunikasi Purbaya Yudhi Sadewa, berciri dynamic style yang lugas, cepat, dan langsung ke inti persoalan. Namun, ia mengingatkan pentingnya sensitivitas sosial dalam setiap pernyataan publik.
Warek bidang Riset, Kerjasama dan Digitalisasi UMSurabaya ini juga mengingatkan kembali kontroversi awal yang sempat muncul ketika Purbaya menyebut hanya mewakili sebagian kecil masyarakat, di tengah situasi demonstrasi.
“Pernyataan itu dianggap tidak memahami kondisi sosiologis masyarakat saat itu. Tetapi makin ke sini, Purbaya terlihat belajar. Ia mampu menjawab isu-isu makroekonomi, perbankan, hingga moneter dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah diterima publik,” kata Radius, Kamis (18/9/2025).
Menurutnya, gaya komunikasi pemimpin politik di Indonesia memang beragam. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikenal dengan systematic style, menyusun jawaban runtut dan hati-hati.
Presiden Joko Widodo lebih egaliter, menggunakan bahasa sederhana agar dekat dengan masyarakat. Sementara Presiden Prabowo dan kini Menkeu Purbaya lebih dinamis, berbicara lugas dan langsung.
“Setiap gaya punya kelebihan masing-masing. Tetapi yang terpenting, komunikasi politik bukan sekadar retorika. Ia harus paham denyut masyarakat,” ia menegaskan.
Namun ia menegaskan agar para pemimpin paham kondisi publik, apakah sedang marah atau kecewa. Public figure diminta tidak memunculkan kata-kata diskriminatif atau membuat masyarakat merasa diabaikan.
Radius juga memberi pesan bagi jajaran menteri baru di Kabinet Merah Putih. Menurutnya, komunikasi publik kini sama pentingnya dengan kinerja teknis.
“Masyarakat menuntut komunikasi yang sederhana tapi substansial. Jangan sampai kebijakan bagus gagal diterima hanya karena cara menyampaikannya keliru. Menteri harus paham betul siapa audiensnya, kondisi sosialnya, dan memilih bahasa yang tepat,” ujarnya menambahkan.
Ia pun menekankan bahwa keberhasilan komunikasi politik harus berbanding lurus dengan hasil di lapangan.
Pada akhirnya, komunikasi dan kebijakan perlu berjalan seiring guna membangun sekaligusmenumbuhkan kepercayaan publik, karena inilah yang dibutuhkan Indonesia saat ini.
Editor : Rochman Arief