HARI Ini Minggu, 31 Agustus 2025, Kebun Binatang Surabaya (KBS), genap berusia 109 tahun. Satu abad lebih sembilan tahun. Berdasarkan hukum yang berlaku, KBS dinyatakan berdiri tanggal 31 Agustus 1916.
Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No.40 tanggal 31 Agustus 1916.Turunnya keputusan itu, hanya sepuluh hari setelah Walikota pertama Surabaya menduduki jabatannya.
Kendati Kota Surabaya resmi berdiri tanggal 1 April 1906, namun Walikota atau Gemeente Surabaya, masih dirangkap oleh Residen Surabaya. Jadi, waktu itu, walikota difenitif baru dilantik tanggal 21 Agustus 1916.
Jabatan walikota dalam bahasa Belanda disebut Burgermeester. Untuk pertamakali, Burgermeester itu, namanya Mr.A.Meyroos. Nah, saat SK (Surat Keputusan) Gubernur Jenderal itu ditandatangani, A.Meyroos, baru menduduki jabatannya, 10 hari.
Milik Perkumpulan
Tahun 1976, saat saya sebagai wartawan muda di Surabaya menelusuri asal-usul berdirinya KBS ini. Tidak mudah mendapatkan informasi. Ketika itu, menjelang 70 tahun usia KBS.
Beberapa pejabat di Pemkot Surabaya yang saya temui menyatakan belum tahu. Alasannya, KBS itu bukan milik Pemkot Surabaya, tetapi milik organisasi atau “Perkumpulan”.
Dari informasi singkat itu, saya datang ke kantor KBS di Wonokromo. Di sana, di kantor KBS itu, juga tidak mudah mendapatkan keterangan. Saya diminta menemui salah satu pengurus KBS untuk memperoleh penjelasan sejarah dan riwayat KBS.
Di antara nama-nama pengurus yang disebut, mereka, saling lempar. Sama-sama mengatakan tidak tahu persis. Juga ada jawaban klise untuk menghindar, mengatakan tidak berwenang memberi keterangan. Ada yang mengatakan, berkasnya dibawa pengurus lama.
Para karyawan tidak ada yang tahu, kalau ditanya sejarahnya. Yang jelas mereka kerja di sana sejak lama. Boleh dikatakan tidak banyak yang tahu tentang asal-usul KBS ini. Bahkan tentang riwayat KBS inipun jarang sekali dipublikasikan.
Masyarakat hanya tahu, lokasi KBS berada di kecamatan Wonokromo, berdampingan dengan subterminal angkutan umum kota Joyoboyo dan bekas stasiun lama kereta api jurusan Surabaya-Sepanjang.
Artkel Ibu Nurmanis Z
Saya, waktu itu benar-benar ingin mengumpulkan data tentang sejarah KBS. Sebab di tahun 1976 itu, ibu saya: Nurmanis Zakaria, menulis artkel tentang Kebun Binatang Bukittinggi, di Sumatera Barat.
Waktu itu, Kota Bukittinggi dinamai Fort de Kock oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Tahun 1906, Kebun binatang dibangun dengan nama Strompark (Kebun Bunga). Lokasinya menempati Bukit Malambuang. Strom adalah nama dari perancang dari taman ini, yakni Storm Gravenzande.
Saya, merasa senang, ada pembanding kebun binatang di Surabaya dengan di Bukittinggi. Apalagi yang di Bukittinggi lebih tua sepuluh tahun daripada di Surabaya. Ternyata, pada tahun 1906 itu, di Bukittinggi, kebun binatangnya baru berupa taman bunga. Kandang binatang brlum dibangun.
Kala itu, Storm menjabat sebagai Asisten Residen Agam, memang belum mempunyai koleksi binatang. Beberapa koleksi hewan mulai dimasukkan ke dalam taman tahun 1918. Namun, secara resmi, baru 3 Juli 1929, nama Strompark "diubah" menjadi kebun binatang dengan nama Fort De Kocksche Dieren Park atau Kebun Binatang Bukittinggi oleh Dr.J. Hock.
Pada artikel yang ditulis ibu saya Nurmanis Z, di Suratkabar Singgalang itu, ada cuplikan yang menarik. Di zaman Belanda itu, Kebun Binatang Bukittinggi (KBB) pernah tukar-menukar satwa dengan KBS. Ditulis bahwa dari Bukittinggi, mengirim beberapa jenis satwa ke KBS. Di sana ditulis bahwa KBS adalah kebun binatang pertama di Indonesia dan Kebun Binatang Bukittinggi, yang pertama di Pulau Sumatera.
KBB mengirim tambahan koleksi dari Sumatera untuk KBS. Tahun 1933 dan 1934, KBB mengirim 150 ekor satwa dari Sumatera Barat, dikirim dengan kapal laut dari Teluk Bayur, Padang ke Tanjung Perak, Surabaya.
Ada empat pasang gajah, empat pasang harimau Sumatera, tiga pasang macan tutul, tiga pasang siamang, empat pasang beruk, dan berbagai jenis kera, landak, tupai, musang. Selain itu, juga berbagai jenis unggas (itik, seriti, belibis, ayam hutan, ayam kuriak) dan burung (di antaranya; balam, burung hantu, enggang, gagak, beo, nuri, merpati). Dan masih ada yang lain.
Sebaliknya juga berlanjut dengan tukar-menukar satwa lainnya dari Surabaya ke Bukittinggi. Dari KBS dikirim ke KB Bukittnggi: harimau Jawa, badak Jawa, elang Jawa, belibis dan satwa yang berasal dari Indonesia timur, di antaranya, burung cendrawasih.
KBS Didirikan Wartawan
Pada tahun 1976, setelah berusaha mencari informasi tentang sejarah KBS, saya diberitahu oleh Kepala LKBN Antara, waktu itu, Bapak Wiwiek Hidayat. Bahwa yang pernah menulis kisah KBS adalah wartawan Suratkabar Sinar Harapan, Amak Sjariffudin.
Secara kebetulan yang menjadi Ketua PWI Surabaya (belum disebut PWI Jatim), adalah Amak Sjariffudin. Sertamerta saya langsung menghubungi Pak Amak. Alhamdulillah, sangat tepat. Bak kata pepatah: "pucuk dicinta, ulam tiba". Artinya, yang saya harapkan sedikit informasi, yang saya dapat ternysta banyak sekali ceritanya.
Tidak hanya cocok sebagai pemberi informasi saya bertemu Amak Sjariffudin. Justru saya ditugaskan menemui dan mewawancarai beberspa narasumber. Di antaranya, waktu itu Ketua Golkar Jatim, HM Said, yang juga Ketua Perkumpulan KBS (Kebun Binatang Surabaya) di Jalan Progo 10 Surabaya.
Dari Pak Said dan Pak Amak, saya menerima setumpuk berkas dan buku lama, termasuk beberapa materi berbahasa Belanda. Khusus yang bahasa Belanda, saya minta tolong diterjemahkan oleh wartawan senior Stefanus RM Miestopo, yang juga mantan Wakil Ketua PWI Surabaya tahun 1957.
Dari berbagai tulisan dalam berkas itu, saya ikut bangga dan bersemangat. Betapa tidak, ternyata "sang pendiri dan perintis KBS adalah wartawan.
Para pemberi informasi kepada saya juga para wartawan senior, Wiwie Hidayat, Amak Sariffudin dan juga Pak HM Said Pemimpin umum Harian Bhirawa.
Warga Kota Surabaya dan masyarakat Jawa Timur, bahkan rakyat Indonesia, patut mengacungkan jempol kepada seorang wartawan yang menggagas bedirinya KBS.
Sejarah Kota Surabaya mengukir dan mengabadikan nama wartawan: HFK Kommer, sebagai pendiri Kebun Binatang Surabaya -- yang juga tercatat sebagai kebun binatang "tertua" di Indonesia ini.
Wartawan penyayang binatang, HFK Kommer, berkebangsaan Belanda. Dia gemar mengoleksi satwa dan menetap di Surabaya. Setiap pulang dari bepergian untuk kegiatan jurnalistik ke luar kota, ia selalu membawa oleh-oleh berupa binatang.
Binatang itu, dipelihara oleh Kommer di kandang di halaman rumahnya. Tidak jarang, selain menulis berita kegiatan kunjungannya ke berbagai daerah, Kommer juga sering nemyajikan kisah perolehan satwa yang dibawanya. Ia pun menulis, riwayat binatang itu dalam tulisan ringan. Namun juga beberapa di antara karya tulis yang disertai foto itu, berupa artikel ilmiah.
Ternyata awalnya Kommer, iseng-iseng. Keisengan bepergian ke luar kota, dia juga singgah di hutan-hutan tempo dulu. Saat itu kehidupan masih dari desa ke desa. Belum banyak jalan aspal seperti sekarang. Untuk bepergian ke suatu tempat harus jalan kaki. Bahkan menelusuri hutan untuk menuju ke suatu wilayah.
Berkat jerih payah dan perjuangan tanpa lelah yang dilakukan pria asal Negeri Belanda inilah KBS berdiri. Tidak hanya itu, selain merintis dan mendirikan KBS, Kommer sekaligus menghimpun orang-orang yang peduli terhadap binatang. Perkumpulan yang didirikan Kommer tahun 1916 itu bernama: Soerabaiasche Planten on Dierrentuin (S.P & D) dan kemudian berganti nama menjadi Perkumpulan KBS.
Kendati yang merintis KBS atau SP&D ini adalah Kommer, namun dia mempercayakan kepengurusan kebun binatang kepada kawan-kawannya. Mereka ini sama-sama peduli terhadap kehidupan flora dan fauna di awal abad ke 20 itu.
Berdasarkan dokumen yang saya temukan kepengurusan Soerabaiasche Planten on Dierrentuin yang pertama terdiri dari sembilan orang. Tiga orang masing-masing sebagai ketua, sekretaris dan bendahara, serta enam orang sebagai anggota pleno.
Ke sembilan orang tersebut adalah:
Ketua: Mr.J.P.Mooyman,
Sekretaris: A.H. de Wilt.
Bendahara: P.Egas.
Enam anggota pleno, yakni: F.C.Fruman, J.Th.Lohman, A.Lenshoek, E.H.Soesman, H.C.Liem dan M.C.Falk.
Memang, untuk mendirikan KBS ini tidak mudah, apalagi mengumpulkan atau mengoleksi binatang sampai dengan merawat dan memeliharanya. Belum lagi menyediakan sarana dan prasarana kandang beserta petugas yang khusus yang dapat “berkomunikasi” dengan para binatang di KBS.
Di sini, diperlukan jiwa, sifat dan rasa untuk menyayangi binatang. Tanpa itu semua, tidak mungkin KBS bisa berkembang dan bertahan hingga hampir sekarang ini.
Pindah ke Pandegiling
Koleksi binatang milik HFK Kommer terus bertambah. Di samping hasil buruannya sendiri, Kommer juga mendapat sumbangan dari teman-temannya.
Berbagai jenis binatang yang dikoleksi Kommer. Ada monyet, kera, babi, ayam dan kambing hutan, ular, berbagai jenis burung, bahkan harimau dan landak.
Halaman rumahnya di Kaliondo, dekat Jalan kapasan sekarang, cukup luas. Lama ke kelamaan berubah menjadi kebun binatang mini. Kommer membuat kandang dan sangkar untuk binatang piaraannya. Namun Kommer kewalahan juga, karena peminat yang berkump;ul bersamanya juga bertambah.
Komunitas penyayang binatang berdatangan, semula menyumbang dan menitipkan binatang temuannya. Mereka manjadi sebuah komunitas pencinta binatang. Masyarakat pun makin banyak yang berkunjung untuk menonton koleksi binatang itu.
Kesepakatan komunitas ini secara resmi akhirnya mendirikan sebuah perkumpulan bernama “Soerabajasche Planten-en Dierentuin“. Nama perkumpulan ini kemudian didaftarkan kepada Pemerintahan Hindia Belanda, dan mendapat Surat Keputusan Gubernur Jenderal Pemerintahan Hindia Belanda No.40 tanggal 31 Agustus 1916.
Nah, karena halaman rumah Kommer yang digunakan semakin penuh, maka ada tuan tanah yang bersimpati. Tuan tanah itu mengusahakan lahan bekas pabrik gula NV Koepang di daerah Grudo, dekat Jalan Pandegiling sekarang.
Di halaman bekas pabrik gula zaman VOC itulah dibangun kandang dan sanggar hewan pindahan dari Kaliondo.
Untuk pengamanan, maka dibuatlah perjanjian sewa-menyewa antara Perkumpulan SPD (Soerabajasche Planten en-Dierentuin) dengan maskapai bangunan “Koepang” yang menguasai lahan bekas pabrik gula Koepang itu pada tanggal 28 September 1917.
Ceritanya, di zaman VOC (Verenigde Of Company) — perusahaan dagang dari Belanda, mendirikan pabrik gula di daerah Kupang. Pabrik gula itu dikelola oleh NV Koepang. Namun warga yang tinggal di sekitar pabrik gula itu, disebut “pandai giling” (pandegiling) — orang yang pandai menggiling tebu menjadi gula.
Tiap tahun pabrik gula NV Koepang menggiling tebu menjadi gula. Kalau ada warga yang akan mendatangi rumah warga di sini, selalu mereka sebut mau ke pandegiling (ke rumah pandai giling). Kemudian kawasan di dekat Grudo dan Kupang itu berubah menjadi Pandegiling.
Jalan Tamarindelaan yang artinya pohon asem di kiri kanan jalannya, juga berubah nama menjadi Jalan Pandegiling — sampai sekarang.
Di pinggir kiri dan kanan jalan berdiri warung dan kedai makanan,
Bahkan, juga pedagang sayur, sampai pakaian. Para PKL (Pedagang Kali Lima) itu ditertibkan oleh Perusahaan Pasar Kupang yang berpusat di Pasar Kembang. PKL yang berada di bawah binaan Perusahaan Pasar itu merasa terlindungi, apalagi mereka ditarik retribusi oleh Perusahaan Pasar yang sekarang menjadi Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya itu.
Namun tahun 1799, pabrik gula ini tutup dengan berakhirnya kekuasaan VOC.
Setelah pabrik tutup, kemudian lahannya berubah menjadi kebun binatang. Pasar yang sebelumnya berfungsi melayani karyawan dan buruh pabrik gula, beralih melayani pengunjung kebun binatang pindahan dari Kaliondo.
Kebun Binatang milik wartawan Kommer ini semakin tertata dengan baik. Organisasi pengelola yang didukung oleh sebuah kepengurusan perkumpulan penyayang binatang yang bergabung ke SPD juga semakin kompak. Kebun binatang baru itu makin ramai dikunjungi masyarakat, terutama anak-anak yang diajak orang tua mereka.
Kawasan Jalan Tamarindelaan waktu itu dilewati trem (kereta api listrik). Dengan naik trem, memperlancar kunjungan warga dari berbagai jurusan, termasuk dari luar kota..
Trem uap milik perusahaan kereta api OJS (Oost Javaasche Stoomtram Maatschappij) yang lewat Tamarinde (Asam) laan atau Jalan Asem ini berawal dari stasiun Ujung Tanjung Perak menuju ke Stasiun Karang Pilang.
Rute yang dilewati dari Perak ke Jalan Rajawali, terus ke Pasar Turi, Jalan Semarang, jalan Arjuna, Jalan Asem (Pandegiling), Jalan Dinoyo, Jalan Darmo Kali, Jalan Marmoyo, Joyoboyo, Gunungsari terus dan berakhir di Karangpilang.
Tahun 1920, maskapai kereta api, yang lalulintasnya sering terhambat di KBS Pandegiling, mengusahakan lokasi untuk pindah seluas 30.500 m2, ke daerah Darmo, yaitu Wonokromo sekarang.
Namun, akibat biaya yang tinggi, maka tanggal 21 Juli 1922. Kebun Botani dan KBS, akan dibubarkan. Tetapi, beberapa anggota tidak setuju.
Pada 11 Mei 1923, Rapat Anggota dilaksanakan di Simpang Restaurant dan memutuskan untuk mendirikan perkumpulan KBS yang baru. Ditetapkan WA Hompes yang tiggal di komplek KBS sebagai kordinator.
Pindah ke Wonokromo
Bantuan dana untuk kelangsungan hidup KBS secara bertahap teratasi. Tahun 1927, Walikota atau Burgermeester Dijkerman dan anggota DPR Kota Surabaya A van Gennep berhasil merangkul seluruh anggota DPR Kota Surabaya, untuk berpatisipasi mengatasi masalah dana.
Saat ir.G.J.Dijkerman menjadi Walikota Surabaya, kegiatan perkumpulan penggemar binatang semakin aktif.
Lahan yang semula 30.500 m2 sudah bertambah menjadi 85.000 m2 di tahun 1940.
Terlantar di zaman Jepang
Saat pendudukan Jepang tahun 1942, pengelolaan KBS dilakukan oleh organisasi. Tetapi, kehidupan binatang itu sangat memprihatinkan. Banyak binatang terlantar dan mati.
Setelah Indonesia merdeka, Pemerintah Republik Indonesia mengukuhkan kedudukan KBS sebagai arena rekreasi. Secara bertahap pengurus bersama Pemkot Surabaya mulai berbenah.
Kita wajib mempertahankan kehidupan satwa yang berada di KBS ini dari pencemaran lingkungan dan lebih-lebih lagi dari kepunahan. Dan tidak dapat disangkal, perkembangan kota Surabaya menuju kota metropolitan “mengancam” masa depan KBS beserta penghuninya.
Pencemaran Lingkungan
Agar pencemaran udara dapat diatasi, perlu adanya kepedulian semua pihak. Segala bentuk pencemaran lingkungan alam di dalam dan di sekitar KBS harus dikurangi seoptimal mungkin. Memang, salah satu upaya yang selama ini dilakukan adalah memelihara dan mengembangkan tumbuh-tumbuhan pelindung.
Dengan cara konvensional ini gas CO2 (Carbon di Oksida) yang berasal dari asap knalpot kendaraan yang berlalu-lalang di sekitar KBS yang berdekatan dengan terminal Joyoboyo dapat ditekan.
Selain ancaman pencemaran lingkungan, sering pula kita mendengar ada masyarakat yang menghendaki agar KBS dipindahkan ke pinggir kota, bahkan ada yang menginginkan dipindahkan ke luar kota. Berbagai alasan yang dikemukakan untuk memindahkan KBS.
Ada yang mengatakan, “kasihan” terhadap satwa yang berada di dalamnya, karena habitatnya terganggu, tidak aman dan sebagainya.
Ada lagi yang menyebut, akibat adanya KBS, Jalan Mayjen Sungkono terus ke Jalan Adityawarman terhalang oleh kawasan KBS, sehingga jalan besar itu terpaksa dibelokkan ke Jalan Ciliwung untuk menuju ke Jalan Raya Darmo dan Jalan Wonokromo. Seharusnya jalan raya itu lurus sampai ke terminal Joyoboyo.
Sekarang, ada perkembangan baru, terminal Joyoboyo dibangun menjadi terminal modern yang dilengkapi dengan pusat perbelanjaan, perkantoran dan mal. Lagi-lagi menambah ancaman bagi KBS.
Perlu disadari, bahwa keberadaan KBS itu, tidak semata-mata sebagai tempat mengandangkan satwa dan binatang berbagai jenis. Di dalam KBS itu, di samping sebagai tempat rekreasi, pusat ilmu pengetahuan dan pelestarian binatang, juga dilakukan penangkaran dan pengembangbiakan binatang langka dari kepunahan.
Bersamaan dengan itu, kawasan KBS juga dijadikan sebagai hutan lindung dan konservasi alam. Apalagi Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam dengan Surat Keputusannya No. 13/KPTS/DJ-IV/2002, menetapkan: KBS sebagai lembaga konservasi eks satwa liar.
Ingat! Kota Surabaya yang tingkat pencemarannya sangat tinggi, perlu dinetralisasikan dengan hutan-hutan kota yang juga disebut lahan terbuka hijau. Untuk itulah, maka KBS harus dipertahankan keberadaannya sebagai “paru-paru” kota.
Jangan sampai ada lagi, yang mempunyai keinginan dan upaya untuk memindahkan KBS ke tempat lain dengan dalih dan alasan apapun juga. Justru, demi meningkatkan peran KBS sebagai obyek wisata “flora dan fauna”, wilayahnya dikembangkan sampai ke pinggir kali Jagir Wonokromo. Dan terminal Joyoboyo “ditutup” dan dipindahkan ke tempat lain.
Anak-anak
Mungkin bagi warga kota Surabaya, KBS bukan lagi merupakan sarana rekreasi yang menarik. Pamor KBS sebagai obyek wisata dalam kota sudah dipandang dengan sebelah mata oleh warga kota.
Begitu banyaknya tempat rekreasi dan hiburan modern, KBS sudah menjadi barang kuno dan tradisional. Kalaupun ada warga kota yang berkunjung ke KBS, karena “terpaksa” oleh ajakan anak-anak.
Kenyataannya selama ini, KBS hanya menjadi tempat rekreasi anak-anak.
Orang dewasa yang berkunjung ke KBS, tidak khusus untuk melakukan pengamatan dan mempelajari masalah-masalah yang berhubungan dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan yang dipelihara di sini. Mereka hanya datang sebagai pendamping anak-anak.
Bagi masyarakat luar kota Surabaya dan kota-kota lain di Jawa, serta daerah Indonesia timur, keberadaan KBS merupakan obyek wisata idaman. KBS adalah “primadona” bagi sebagian besar wisatawan nusantara (wisnu). Sebab, KBS merupakan kebun binatang terbesar kedua setelah kebun binatang Rangunan di Jakarta.
Dibandingkan dengan 28 kebun binatang lain di Indonesia, KBS mempunyai koleksi yang sangat beragam.
Di lahan KBS ini, hidup sekitar 3.800 ekor lebih satwa yang terdiri dari jenis mamalia, reptilia, aves dan pisces. Selain itu juga terdapat 345 spesies jenis tanaman, mulai tanaman air, rumput sampai pohon besar. Ada di antaranya termasuk jenis tanaman langka.
Jumlah binatang yang ada di KBS terus bertambah. Ada yang diperoleh dari sumbangan para penyayang binatang, ada pula dari hasil tukar-menukar dengan kebun binatang lain di Indonesia, maupun kebun binatang mancanegara.
Sebagai obyek wisata, setiap tahunnya KBS dikunjungi tidak kurang dari dua juta orang. Dari penjualan karcis, diperoleh pemasukan sekitar Rp 6 miliar per-tahun. Pihak KBS hanya memberi kontribusi 5 persen untuk Pemkot Surabaya. Hal ini, hampir tidak pernah dipermasalahkan oleh Pemkot Surabaya, karena pemasukan keuangan tersebut langsung digunakan untuk memelihara dan merawat ribuan satwa, serta membayar gaji, jaminan sosial dan asuransi para karyawan KBS.
Harus diakui, untuk pemeliharaan dan perawatan satwa dan flora di KBS diperlukan dana yang besar. Untuk meningkatkan kesehatan dan gizi satwa penghuni KBS, biayanya cukup tinggi. Pengelola KBS ternyata mampu menanggulangi segala kebutuhan. Selain dari penjualan karcis, juga iuran dan sumbangan anggota perkumpulan. Pemkot Surabaya sudah lama menghentikan bantuan dan subsidi keuangan untuk KBS, sebab pihak pengelola KBS menyatakan sudah mampu mandiri, bahkan memberikan pemasukan dana ke kas Pemkot Surabaya.
Selain sebagai obyek wisata bagi masyarakat umum, KBS bagi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dijadikan sarana ilmiah bagi para mahasiswa dan dosen. Selain menjadikan hewan dan satwa yang ada di KBS sebagai bahan penelitian, juga didirikan klinik khusus FKH Unair Surabaya.
Para dokter hewan juga membuka praktik untuk melakukan perawatan dan pengobatan terhadap hewan atau binatang penghuni KBS. Bahkan, di klinik FKH Unair di Jalan Setail 3 Surabaya itu, juga sering dilakukan operasi terhadap binatang yang sakit parah. Tidak jarang, berkat pengalaman para dokter hewan itu, beberapa binatang langka yang dalam keadaan sekarat berhasil diselamatkan dari kepunahan.
Aset Pemerintah Kota
Sejak berdiri hingga sekarang, “diakui” bahwa status KBS adalah sebagai aset Kota Surabaya. Tetapi, pengertian aset kota di sini, tidak sama dengan milik atau aset Pemkot Surabaya. KBS memang awalnya milik “perkumpulan” yaitu Perkumpulan Kebun Binatang Surabaya (PKBS). Anggotanya adalah perorangan atau individu.
Berdasarkan ketetapan Menteri Kehakiman No.J.A.5/7/10 tanggal 15 Januari 1953 dan No.J.A.5/82/25 tanggal 20 November 1957, dinyatakan bahwa KBS yang berkedudukan di Surabaya dan didirikan untuk waktu yang tidak ditetapkan, merupakan milik perkumpulan.
Terhitung sejak 7 Februari 2002, nama perkumpulan KBS sesuai dengan Bab II, Pasal 2 Anggaran Dasar PKBS diubah menjadi: “Perkumpulan Taman Flora dan Satwa Surabaya”. Jumlah anggota perkumpulan terkahir sebanyak 254 orang. Jumlah ini bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan anggota baru, dan berkurang karena anggota meninggal dunia, mengundurkan diri, diberhentikan dan terkait dengan masalah hukum.
Walikota Surabaya, Drs.Bambang Dwi Hartono,MPd saat peresmian program orangtua asuh satwa KBS tanggal 7 Agustus 2002, mengakui bahwa KBS merupakan “milik publik”, khususnya warga kota Surabaya. Namun, katanya, lahan KBS ditetapkan sebagai milik Pemkot Surabaya yang peruntukannya hanya untuk KBS, bukan untuk hal lain.
Diambilalih Pemkot
Perselisihan pengurus dan berbagai hal terjadi dalam pengelolaan KBS. Persoalan yang tak kunjung selesai, membuat Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, tidak tinggal diam. Akhirnya, secara resmi pengelolaan dan sekaligus penguasaan lahan KBS diambilalih oleh Pemkot Surabaya.
KBS secara resmi berada di bawah kendali Pemkot Surabaya berdasar Peraturan Daerah (Perda) Kota Surabaya No.19 Tahun 2012 tentang PD Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya, tanggal 12 Juli 2012.
Terhitung sejak saat itu, pengelolaan KBS semakin profesional. Sehingga pada tahun 2022, saat KBS memperingati hari jadinya ke 106 tanggal 31 Agustus 2022, suasananya terlihat segar.
Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk memeriahkan peringatan hari jadi KBS tersebut. Salah satu acara yang dipersembahkan adalah Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk.
Setelah pandemi Covid-19 berakhir, kegiatan di KBS kembali normal. Pada HUT ke 109 KBS, hari Minggu, 31 Agustus 2025, dimeriahkan dengan berbagai acara. Macam-macam lomba diadakan selama bulan Agustus 2025. Perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2025, berlanjut dengan pesta HUT ke 109 KBS. 31 Agustus 2025.
Dirgahayu Republik Indonesia dan Dirgahayu HUT ke-109 Kebun Binatang Surabaya
Ditulis : Yousri Nur Raja Agam
wartawan senior. Ketua Yayasan Peduli Surabaya.
Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat umum, Politikus, pengamat, mahasiswa, pengusaha, organisasi serta lainnya untuk menulis berita lepas.
Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan dan foto
Editor : Redaksi