Mengapa kita tetap merasa benar walau sejatinya salah? Pertanyaan ini tidak sekadar menyentuh ranah logika, tetapi juga menyusup jauh ke dalam ruang emosi dan psikologi kita sebagai manusia.
Fenomena ini telah lama menjadi perhatian dalam dunia psikologi sosial dan kognitif, bahkan sejarah pun menyimpan contoh tragis yang menjelaskan bagaimana manusia bisa begitu yakin pada kesalahan yang dibungkus keyakinan.
Salah satu contoh paling mencolok adalah kasus Letnan Kolonel Alfred Dreyfus pada tahun 1894. Seorang perwira Yahudi di angkatan bersenjata Prancis. Dreyfus menjadi sasaran tuduhan pengkhianatan hanya berdasarkan kemiripan tulisan tangan dan prasangka rasial yang mengakar kuat di tubuh militer Prancis
Tak ada bukti nyata yang memberatkannya, namun karena Dreyfus adalah Yahudi dan dianggap "berbeda", segala hal netral yang melekat padanya justru ditafsirkan sebagai bukti kuat bersalah.
Ia cerdas, menguasai empat bahasa, dan punya ingatan tajam—maka semua itu dianggap kompetensi khas agen mata-mata. Rumahnya yang tidak menunjukkan tanda-tanda bersalah, justru dituduh sebagai bukti kecerdikannya dalam menghilangkan jejak.
Hasilnya, ia dijatuhi hukuman seumur hidup dan dipermalukan di depan publik, meski terus menyatakan bahwa dirinya tak bersalah. Apa yang sebenarnya terjadi dalam benak mereka yang menghukumnya? Dalam dunia psikologi, ini disebut motivated reasoning sebuah kecenderungan berpikir secara rasional namun dengan arah yang telah ditentukan sebelumnya.
Kita tidak benar-benar mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran atas keyakinan yang telah tertanam lebih dulu. Dan ketika pembenaran itu diperkuat dengan perasaan benci atau cinta yang kuat, kita terperangkap dalam bias kognitif lain yang disebut confirmation bias.
Kita hanya menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan, dan secara otomatis menolak atau memelintir informasi yang bertentangan.
Dr. Jonathan Haidt, seorang pakar psikologi sosial dari New York University, menyebut bahwa pikiran manusia sering kali bekerja layaknya pengacara, bukan ilmuwan
Alih-alih mencari kebenaran objektif seperti ilmuwan, kita justru sibuk menyusun argumen untuk membenarkan posisi kita sendiri, layaknya pengacara yang membela klien. “Reasoning came after the intuition,” kata Haidt. Artinya, penalaran kita muncul setelah keyakinan emosional terbentuk, bukan sebaliknya.
Apa yang terjadi pada Dreyfus dan para penuduhnya juga terjadi dalam masyarakat kita hari ini. Ketika seseorang sudah kadung pro atau anti terhadap tokoh, partai, ideologi, bahkan klub sepak bola sekalipun, semua bukti akan ditafsirkan secara bias.
Kata bijak yang menyatakan bahwa “kita melihat dunia bukan sebagaimana dunia adanya, melainkan sebagaimana kita adanya” menemukan maknanya di sini.
Media sosial hanya memperburuk situasi, menciptakan ruang gema (echo chamber) yang memperkuat keyakinan kita tanpa konfirmasi dari kenyataan objektif. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh kisah Dreyfus, ada harapan.
Adalah Kolonel Georges Picquart yang meskipun juga memiliki sikap anti-Yahudi, memiliki integritas intelektual dan moral untuk bertanya: “Bagaimana kalau kita salah?” Rasa ingin tahunya membuka jalan bagi kebenaran untuk masuk.
Ia menyelidiki ulang, menemukan fakta baru, dan akhirnya berhasil membebaskan Dreyfus setelah sebelas tahun penjara. Ini menjadi bukti bahwa kebenaran tetap bisa muncul, asal ada yang bersedia mencarinya secara jujur.
Jadi, bagaimana kita bisa melindungi diri dari sesat pikir seperti motivated reasoning dan confirmation bias? Jawabannya bukan dengan menjadi lebih pintar, melainkan lebih dewasa secara emosional.
Julia Galef dalam pidato TED-nya menekankan pentingnya “scout mindset”, yaitu pola pikir yang berusaha memetakan realitas seobjektif mungkin, berbeda dengan “soldier mindset” yang cenderung mempertahankan posisi dan menyerang lawan.
Dalam scout mindset, kita tidak memihak siapa pun selain kebenaran itu sendiri. Langkah awal adalah dengan tidak terlalu emosional saat menghadapi informasi atau argumen lawan. Emosi adalah bensin dari bias kognitif.
Kedua, tanamkan rasa ingin tahu. Ketika kita penasaran dan terbuka untuk mendengarkan dari dua sisi, kita akan cenderung mengevaluasi informasi dengan lebih jernih.
Ketiga, milikilah sikap open-minded dan open-hearted. Dengarkan argumen yang berseberangan, bukan untuk dibantah, tetapi untuk dipahami. Mungkin ada bagian dari kebenaran di sana yang bisa memperkaya perspektif kita.
Keempat, jadilah independen secara berpikir. Jangan terjebak dalam mentalitas kelompok atau mengukur harga diri dari kesetiaan pada identitas sosial.
Terakhir, dan yang paling penting, pelihara kerendahan hati. Akuilah bahwa kita bisa saja salah, dan saat bukti membuktikan hal itu, jangan gengsi untuk mengubah pendirian atau meminta maaf.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukanlah siapa yang paling pintar, atau siapa yang paling banyak menang debat.Tapi apakah kita benar-benar ingin tahu kebenaran, atau hanya ingin menang?
Dunia tidak akan pernah sempurna, tapi ia bisa menjadi tempat lebih adil dan waras bila lebih banyak orang bersedia berpikir jernih, mendengar dengan empati, dan berbicara dengan kesadaran bahwa mereka mungkin salah.
Sebab, seperti yang dikatakan Galef, kunci dari penilaian yang baik bukanlah kepintaran, melainkan kedewasaan psikologis.
Penulis : Bambang Eko Mei
Pemerhati Sosial
Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat umum, Politikus, pengamat, mahasiswa, pengusaha, organisasi serta lainnya untuk menulis berita lepas.
Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan tersebut
Editor : Redaksi