JATIMKINI.COM, Kehadiran Kampung Edukasi Sampah (KES) dalam Lokakarya Integrasi Pendidikan Perubahan Iklim dalam Pembelajaran dan Budaya Sekolah/Madrasah mendapat perhatian khusus. Sejumlah paparan dari kader lingkungan KES menunjukkan menjaga iklim bisa dilakukan dari sekolah. Mulai dari langkah kecil.
Sejumlah kader lingkungan seperti Hery Sugiono, Retno Mulyo, Puput, Beni Astuti, dan Esther membagikan pengalaman, sekaligus menantang imajinasi peserta tentang bagaimana pengelolaan lingkungan dari level terkecil masyarakat dan sekolah.
Kader lingkungan ini mengajak menyelami praktik pengelolaan sampah berbasis komunitas yang telah berjalan secara konsisten. Salah satu prinsip utamanya adalah pilah dan olah, sebuah pendekatan yang telah mempertemukan lebih dari 4.000 pengunjung setiap tahun. Mulai dari pelajar, dosen, hingga pegawai instansi pemerintah dan swasta.
“Kampung Edukasi Sampah kami hadirkan sebagai ruang belajar bersama yang membumi,” ujar Hery Sugiono. “Ini bukan proyek besar dari pemerintah. Juga bukan CSR korporat, tapi gotong royong warga,” Hery menambahkan.
Sebagai warga sekaligus inisiator, Hery ingin KES menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari RT-RW. Bahwa edukasi lingkungan itu harus menyenangkan dan bisa langsung dipraktikkan.
KES juga memperkenalkan berbagai inovasi ramah lingkungan. Sebut saja bank sampah untuk membayar iuran warga, hingga pengolahan limbah cair untuk menyiram tanaman. Warga juga menerapkan teknologi panel surya untuk penanaman hidroponik sekalius penerangan.
Begitu juga dengan dan sumur resapan sebagai tempat pengomposan. Semua itu bukan semata demi efisiensi, tapi bagian dari ikhtiar adaptasi dan mitigasi iklim yang menyatu dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Lokakarya ini buah karya Earth Hour Surabaya bersama INOVASI Jawa Timur di Sidoarjo, Selasa (29/7/2025), yang dihadiri kepala sekolah dan guru dari berbagai lembaga pendidikan mitra di Sidoarjo.
Tujuan dari lokakarya ini sederhana, tapi krusial. Bagaimana menjadikan isu perubahan iklim bukan sekadar materi tambahan dalam kurikulum, melainkan bagian dari kultur pendidikan.
Diskusi berjalan aktif. Para peserta bertanya mulai dari instalasi IPAL sederhana untuk sekolah, pemanfaatan tenaga surya, hingga persoalan teknis seperti pengelolaan sampah daun dan buah pohon beringin yang melimpah di halaman sekolah.
Obrolan berkembang menuju pemanfaatan kompos takakura dan potensi kebun edukatif di lingkungan sekolah sebagai laboratorium kecil bagi pembelajaran berbasis praktik.
Lokakarya ini tak berhenti pada narasi inspiratif. Para peserta juga diajak turun langsung merancang peta risiko iklim di masing-masing sekolah. Dengan pendekatan simulasi dan diskusi kelompok, mereka mengidentifikasi titik-titik rentan, menyusun rencana aksi sederhana, dan menghasilkan poster kampanye ramah lingkungan yang siap diterapkan serta disosialisasikan kepada warga sekolah.
“Ketika kepala sekolah punya komitmen lingkungan, maka sekolah akan tumbuh jadi pusat pembelajaran yang bukan hanya cerdas secara akademik, tapi juga berdaya secara ekologis dan sosial,” ujar Adri Budi, Provincial Manager INOVASI Jatim di penutupan acara.
Di tengah pesimisme atas krisis iklim global, acara ini mengirimkan pesan optimis: perubahan tidak harus datang dari atas. Ia bisa dimulai dari ruang-ruang kecil, dari kesadaran warga, dari ruang kelas, dari kebun sekolah, dari cara guru mengajarkan nilai.
Editor : Rochman Arief