JATIMKINI.COM, Suatu Minggu pagi yang cerah di bulan Juli 2025, suasana RT 23 RW 07 Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, tampak lebih hidup. Di sudut kampung yang dulunya kumuh, kini berdiri deretan komposter, papan edukasi warna-warni, dan tumpukan botol plastik yang tertata rapi.
Itulah Kampung Edukasi Sampah (KES)—sebuah ruang belajar komunitas yang tak hanya bicara soal daur ulang, tetapi juga transformasi sosial. Hari itu, rombongan dari Wahana Visi Indonesia (WVI) datang berkunjung.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari upaya WVI untuk belajar langsung dari warga tentang bagaimana perubahan perilaku lingkungan bisa lahir dari akar rumput. Diskusi hangat pun tercipta, menyatukan pegiat lingkungan dan fasilitator pembangunan dalam semangat kolaborasi.
“Kami sangat terinspirasi dengan apa yang dilakukan Kampung Edukasi Sampah,” ungkap Mita Sirait, perwakilan dari WVI. “Budaya peduli lingkungan di sini terasa hidup dan tumbuh dari kesadaran warga sendiri. Ini adalah contoh nyata transformasi sosial dari bawah yang berdampak luas,” ia menambahkan.
Sebagai bagian dari jaringan World Vision International—organisasi kemanusiaan global yang bergerak di lebih dari 100 negara—WVI di Indonesia berfokus pada kesejahteraan anak, pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan komunitas. Ketika mereka datang ke kampung ini, bukan teori yang dicari, melainkan praktik baik yang bisa direplikasi.
Bagi Edi Priyanto, inisiator Kampung Edukasi Sampah, perubahan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia justru lahir dari kegelisahan. “Awalnya, masalah yang kami hadapi sama seperti tempat lain,” ujar Edi.
“Lingkungan yang terabaikan, warga makin individualis. Sikap kapitalistik membuat banyak orang hanya peduli pada dirinya sendiri, kehilangan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama,” imbuhnya.
Tahun 2017, Edi memulai apa yang ia sebut sebagai proses “edukasi dari hati ke hati”. Bukan kampanye besar-besaran, melainkan pendekatan perlahan lewat obrolan, teladan, dan kerja bersama. Ia membangun kepercayaan warga, menciptakan ruang interaksi, hingga membentuk sistem bank sampah dan kegiatan berbasis lingkungan yang dikelola sendiri oleh warga.
“Perubahan itu tidak bisa instan. Apalagi kalau hanya dari atas,” lanjut Edi. Ia menambahkan bahwa kunci dari sebuah keberhasilan adalah gotong royong, keteladanan, dan keberanian untuk memulai. “Dari RT yang selama ini dianggap tidak penting, kita bisa menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin asalkan dilakukan bersama-sama,” ia menjelaskan.
KES kini menjadi tempat belajar terbuka yang menggabungkan edukasi, pemberdayaan ekonomi, dan budaya gotong royong. Warga memilah sampah dari rumah, anak-anak dilibatkan dalam kegiatan lingkungan, dan pemuda diarahkan menjadi agen perubahan.
Salah satu kader lingkungan yang paling aktif adalah Hariyanto. Ia menyebut bahwa transformasi perilaku warga adalah hasil konsistensi, bukan kebetulan.
“Dulu banyak yang cuek, tapi sekarang malah semangat,” kata Hariyanto. Warga ingin terus memberi edukasi, memfasilitasi kunjungan, dan mengajak anak-anak sekolah untuk terlibat sejak dini. Baginya, ini bukan sekadar soal sampah, tapi tentang masa depan bangsa.
KES kini menjadi laboratorium sosial yang menarik banyak pihak. Setiap tahun, kampung ini menerima kunjungan 3.500–4.000 orang, termasuk dari lebih dari 12 perguruan tinggi. Bagi mereka yang berkunjung, KES bukan hanya tempat melihat praktik daur ulang, tapi juga menyaksikan bagaimana nilai-nilai kebersamaan bisa mengubah wajah kampung.
Kunjungan dari Wahana Visi Indonesia memperkuat keyakinan bahwa kerja komunitas seperti ini tidak bisa berjalan sendiri. Ia butuh ekosistem pendukung: dari organisasi, pemerintah, hingga dunia pendidikan. Kolaborasi yang terjalin hari itu bukan akhir dari perjalanan, tapi jembatan menuju dampak yang lebih luas.
“Selama ini kita sering bicara soal sampah dari sisi teknis,” ujar Edi Priyanto dalam sesi diskusi. Ia mengaku hal yang terpenting adalah bagaimana membangun kesadaran kolektif. Kalau hanya mengatur tanpa menyentuh hati, hasilnya tidak akan bertahan lama.
KES bukan sekadar kampung yang berhasil mengelola sampah. Ia adalah bukti bahwa perubahan perilaku bisa tumbuh dari bawah—asal diberi ruang, waktu, dan kepercayaan.
Editor : Rochman Arief