Dalam dunia pewayangan, Arjuna dikenal sebagai kesatria paripurna. Ia adalah simbol keteguhan, kesetiaan, dan kebijaksanaan.
Setiap gerak-geriknya dianggap sebagai teladan, setiap ucapannya menjadi pedoman. Para dewa memujinya, manusia meneladaninya, dan para bidadari pun mengagumi ketampanan serta keluhuran budinya.
Namun, siapa sangka bahwa di balik kemuliaan itu, tersimpan sebuah kisah kelam yang menggores luka di hati sang permaisuri, Sembadra.
Suatu ketika, Arjuna pergi bertapa ke hutan Gandamadana. Konon, ia ingin memohon berkah dari para dewata agar kerajaan Amarta tetap jaya.
Sembadra, dengan setia, melepas kepergian suaminya, yakin bahwa Arjuna takkan tergoda oleh gemerlap dunia.
Namun, di tengah kesunyian hutan, datanglah tujuh bidadari yang diutus oleh Batara Kama untuk menguji keteguhan hati sang kesatria.
Mereka adalah bidadari-bidadari yang kecantikannya tiada tara, kulitnya bersinar bagai bulan purnama, suaranya merdu seperti alunan gamelan, dan gerak tubuhnya mengalun laksana ombak di samudera.
Arjuna, yang selama ini dikenal sebagai lelaki alim, tiba-tiba tergetar hatinya. Ia yang selalu teguh dalam sumpah setia, kini goyah oleh senyum manis salah seorang bidadari, Tunjungbiru.
Mata mereka bertemu, dan dalam sekejap, api nafsu membakar kesadaran. Tanpa banyak bicara, Arjuna terlena dalam pelukan Tunjungbiru, melupakan segala ajaran dharma yang selama ini dipegangnya. Ia berpikir, "Ini hanya sekali, takkan ada yang tahu."
Namun, Batara Narada yang bijaksana telah menyaksikan segalanya. Beliau lalu mengirim kabar kepada Sembadra melalui burung merak yang bersayap emas. Betapa hancur hati sang permaisuri mendengarnya.
Bagaimana mungkin Arjuna, suaminya yang selalu ia banggakan, tega mengkhianati ikrar pernikahan mereka?
Dengan air mata berlinang, Sembadra memutuskan untuk menyusul Arjuna ke hutan Gandamadana.
Sesampainya di sana, ia melihat pemandangan yang membuat dadanya sesak. Arjuna sedang duduk bersanding dengan Tunjungbiru, tertawa lepas seolah tak ada dosa yang diperbuat.
Sembadra, dengan suara gemetar, berseru, "Wahai suamiku, benarkah engkau tega menginjak-injak kesetiaan kita demi secuil kenikmatan duniawi?"
Arjuna terkejut. Wajahnya yang biasanya tenang, mendadak pucat. Ia tersadar bahwa khilafnya telah terbongkar. Rasa malu dan penyesalan menyergapnya, namun terlambat.
Sembadra sudah terluka. "Aku tak menyangka," bisik Sembadra, "bahwa lelaki yang kukira kuat, ternyata lemah di depan godaan."
Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun. Arjuna, meski ia kesatria besar, tetaplah manusia yang bisa khilaf.
Namun, kesalahan bukanlah akhir segalanya. Yang penting adalah bagaimana ia bangkit, memohon maaf, dan berusaha memperbaiki diri.
Dalam pewayangan, ujian seperti ini sering kali menjadi titik balik seorang tokoh untuk mencapai pencerahan.
Pertanyaannya kini: bisakah Arjuna memulihkan kepercayaan Sembadra? Bisakah ia kembali menjadi suami yang setia setelah noda hitam menggores namanya? Ataukah Sembadra akan memilih pergi, meninggalkan sang kesatria yang ternyata tak sekuat yang ia kira?
Hidup memang tak semudah kisah wayang yang selalu berakhir bahagia. Tapi, seperti wayang, kita bisa belajar dari setiap kesalahan.
Bahwa kesetiaan adalah anugerah yang harus dijaga, bukan mainan yang bisa disepelekan. Dan bahwa sehebat apa pun seorang lelaki, godaan akan selalu mengintai hanya yang bijaksanalah yang mampu melewatinya tanpa terjatuh.
Maka renungkanlah, jika Arjuna saja bisa khilaf, bagaimana dengan kita?
Ditulis : Bambang Eko Mei
Pemerhati Sosial
Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat untuk menulis berita lepas.
Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan tersebut
Editor : Redaksi