x
x

Wahyu Hidayat: Warung Tekan Inflasi Mbois Ilakes Stabilkan Harga Pangan

JATIMKINI.COM, Warung tekan inflasi mbois ilakes Kota Malang, Jawa Timur, berhasil mempengaruhi psikologi pasar berimbas menurunkan harga beras dan pangan pokok lainnya.

"Setelah melakukan intervensi, akhirnya pimpinan Bank Indonesia Malang terkagum-kagum. Sembilan langkah konkret berhasil menekan inflasi," tegas Penjabat Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Senin (4/3).

Keberhasilan Pemkot Malang mengendalikan inflasi periode September-Desember 2023 dan periode Januari-Februari 2024 mendapatkan apresiasi dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

"Alhamdulillah inflasi turun. Kita dapat apresiasi dari Kemendagri," katanya.

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kota Malang Eko Sri Yuliadi menyatakan sebelum ada warung tekan inflasi mbois ilakes, harga beras melonjak. Setelah gencar pasar murah, harga beras berangsur turun. Sampai akhirnya stabil menjelang Ramadan.

Sejak warung tekan inflasi diluncurkan pada Desember 2023 lalu sudah menggelontor 200 ton beras. Penetrasi di Pasar Dinoyo, Pasar Blimbing dan Pasar Besar Malang. Pembiayaannya dari belanja tidak terduga Rp2 miliar. Selain itu, pasar murah merambah lima kecamatan. Dalam hal ini, Pemkot Malang memberikan dukungan subsidi transportasi. Alhasil, harga beras dari gudang bulog sampai konsumen jatuhnya lebih murah.

Warga menebus beras SPHP kemasan 5 kg Rp52.000 dari semestinya Rp54.500. Dengan begitu, masyarakat merasakan langsung manfaat warung tekan inflasi mbois ilakes. Pasalnya, harga beras di bawah ketentuan harga eceran tertinggi (HET) beras medium Rp10.900 per kg.

"Sebelum adanya warung tekan inflasi, harga beras Rp78.000 per kemasan 5 kg. Kini, pedagang menjual beras  Rp75.000-Rp73.000 per kemasan 5 kg," ungkapnya.

Eko mengklaim harga beras menurun rata-rata Rp2.000 per kg sampai Rp5.000 per kg.

"Pemerintah hadir menurunkan harga beras melalui program pengendalian inflasi," imbuhnya.

Pasar murah memasok beras SPHP merata di seluruh kelurahan dan pasar membuat harga komoditas pangan pokok itu cepat stabil.

“Di sini hukum pasar berjalan melalui supply and demand, beras memenuhi kebutuhan konsumen, maka keseimbangan harga akan menyesuaikan pasokan dan permintaan. Akhirnya perilaku pedagang menurunkan harga karena beras SPHP banyak beredar di pasaran," ucapnya.

Penurunan harga beras merambah pasar. Supriyono, pedagang di Pasar Bunulrejo mengungkapkan beras kemasan 5 kg lahap Rp76.000, mentari Rp77.000, lombok Rp83.000 dan sedap wangi Rp80.000. Posisi harga itu sudah menurun Rp1.000-Rp2.000 per kg dalam sepekan terakhir. Beras paling dicari konsumen ialah beras SPHP karena harganya lebih murah.

"Ada kecenderungan harga beras akan terus menurun," kata Supriyono.

Berita Terbaru
Jumat, 11 Jul 2025 12:07 WIB

Hong Kong Tarik Peluang Kedatangan Wisatawan Indonesia di HKTB Trade & Media Luncheon Surabaya

JATIMKINI.COM, Pemerintah Hong Kong tahun ini tengah membidik kunjungan wisatawan mancanegara secara total mencapai 49 juta wisatawan yang salah satu
Kamis, 10 Jul 2025 18:48 WIB

Layanan Baru TPS Perkuat Jalur Perdagangan ke China Utara

TPS membuka layanan baru di awal semester kedua 2025 dengan mendapat kepercayaan untuk melayani rute Surabaya China Utara.
Kamis, 10 Jul 2025 12:19 WIB

EIGER Junior Kirim 2.000 Tas Sekolah untuk Anak-Anak di Pelosok Indonesia

JATIMKINI.COM, Mengawali Juli 2025, musim liburan sekolah jadi momentum EIGER Junior untuk berkeliling Indonesia. Membawa satu misi khusus, menjelajahi ribuan
Kamis, 10 Jul 2025 10:24 WIB

ASEAN Perkuat Sentralitas dan Solidaritas Menuju Visi 2045 di AMM ke-58 Kuala Lumpur

Sentralitas ASEAN, koordinasi, kolaborasi dan solidaritas antara kebijakan luar negeri dan ekonomi mewujudkan "Visi ASEAN 2045 : Masa Depan Kita Bersama"
Rabu, 09 Jul 2025 19:25 WIB

Sempat Terganggu Pasca Insiden RTG, Layanan TPK Bitung Kembali Normal Sejak Awal Juli

JATIMKINI.COM, PT Pelindo Terminal Petikemas berkomitmen melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kinerja pelayanan peti kemas di TPK Bitung pasca insiden
Rabu, 09 Jul 2025 16:01 WIB

Produksi Melimpah Tapi Perut Rakyat Masih Keroncongan

Dibalik gegap gempita pernyataan pemerintah mengenai keberhasilan sektor pangan nasional, muncul satu ironi yang menggigit