JATIMKINI.COM, Ratusan perempuan mendatangi Gedung Grahadi Surabaya, mereka berasal dari Walhi, mahasiswi, Porwakos dan komunitas perempuan. Mereka menyuarakan ketidakadilan yang masih dialami perempuan.
Aksi aktivis perempuan ini bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional 2026. Kepada pemangku kebijakan mereka mengingatkan kesenjangan yang masih saja terjadi dan dialami para perempuan. Suara perempuan yang masih terpinggirkan, terutama dalam ruang domestik yang saat ini masih saja terjadi.
Baca juga: Riset StatsMe Sebut Ruang & Peluang Aktualisasi Diri Jadi Kunci Bahagia Perempuan Pekerja
“Kami sudah melakukan konsilidasi dengan berbagai pihak untuk menyuarakan kaum perempuan, ada keresahan secara kelompok dan keresahan yang ditujukan kepada pemerintah,”ujar Niki penggagas Komunitas IWD Surabaya saat ditemui di depan gedung Grahadi, Senin (9/3/2026).
Sedangkan tuntutan dalam aksi ini, ada 24 tuntutan yang disampaikan Niki dan teman – teman aktivis lainnya. Salah satu diantaranya menghentikan segala bentuk diskriminasi, kekerasan, represifitas, intimidasi kriminalisasi hingga pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat.
“Dalam peringatan Hari Perempuan Internasional, kami tidak hanya menyuarakan kaum perempuan saja. Persoalan hak asasi manusia dan kelompok rentan lainnya kami angkat juga, kami mendesak pemerintah untuk menyelesaikan persoalan itu,”ujarnya.
Sementara orasi yang disampaikan kepada pemerintah, salah satunya melakukan reformasi satgas anti kekerasan atau kekerasan seksual di perguruan tinggi, mulai dari pencegahan, penanganan kasus hingga pemulihan bagi korban secara tuntas sehingga dapat memberikan perlindungan bagi korban kekerasan.
Editor : Ali Topan