JATIMKINI.COM - Pulau Gili Iyang di Kabupaten Sumenep, yang tersohor sebagai pemilik kadar oksigen terbaik kedua di dunia, kini berada dalam bayang-bayang bencana lingkungan serius. Tumpahan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) akibat kandasnya tongkang milik PT Indo Ocean Marine sejak 22 Januari 2026, dilaporkan terus meluas dan mulai merusak ekosistem pesisir.
Menanggapi situasi tersebut, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, meminta pemerintah segera mengambil langkah luar biasa. Ia menegaskan bahwa pencemaran ini bukan sekadar insiden kecelakaan laut biasa, melainkan ancaman terhadap aset ekologi internasional.
Baca juga: AA LaNyalla Mahmud Mattalitti Laporkan Program Kerja PBMI 2026 ke Menpora
"Ini bukan persoalan sepele. Gili Iyang adalah aset ekologi langka. Jika tumpahan minyak yang menempel di mangrove dan terumbu karang tidak segera ditangani, produsen oksigen alami pulau ini bisa mati. Kita taruhan dengan reputasi Gili Iyang sebagai 'Pulau Oksigen'," ujar LaNyalla dalam keterangan resminya, Jumat (30/1/2026).
Dampak Sosial dan Ekonomi
Berdasarkan laporan lapangan, dampak pencemaran mulai dirasakan langsung oleh warga, terutama di sekitar Desa Banraas. Ditemukan banyak biota laut seperti ikan kecil, kepiting, hingga kerang yang mati akibat kontaminasi lemak sawit tersebut.
Kondisi ini, menurut LaNyalla, menciptakan efek domino yang memukul ekonomi nelayan lokal sekaligus mengancam ketahanan pangan. Ia mengimbau warga untuk sementara waktu tidak mengonsumsi hasil laut yang ditemukan mati di wilayah terdampak guna menghindari risiko kesehatan.
Baca juga: La Nyalla : Ditjen Pajak Jangan Main Todong Pada Pengusaha Kecil
Tanggung Jawab Mutlak Korporasi
Lebih lanjut, Senator asal Jawa Timur ini menekankan pentingnya penegakan hukum lingkungan. Sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pihak pemilik kapal memikul tanggung jawab mutlak (strict liability).
"PT Indo Ocean Marine harus bertanggung jawab penuh. Tidak hanya mengevakuasi kapal, mereka wajib melakukan oil spill clean-up secara total dan membiayai pemulihan ekosistem yang rusak," tegas pria yang juga pernah menjabat sebagai Ketua DPD RI tersebut.
Baca juga: Surat Terbuka Kepada Anggota DPD RI
Desak Sinergi Lintas Sektor
Di akhir pernyataannya, LaNyalla meminta adanya percepatan penanganan yang melibatkan sinergi antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, hingga kementerian terkait di tingkat pusat. Ia berharap birokrasi tidak menghambat langkah penyelamatan lingkungan yang harus berkejaran dengan waktu.
Sebagai informasi, Pulau Gili Iyang merupakan objek wisata kesehatan unggulan di Indonesia. Riset Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mencatat kadar oksigen di pulau ini mencapai 20,9 persen, menjadikannya salah satu tempat dengan udara paling murni di dunia setelah Yordania.
Editor : Ali Topan