New Age Beliefs. Abangan Gaya Baru

jatimkini.com
Ilustrasi

Kosa kata 'new' digunakan  menggambarkan sesuatu yang baru muncul dan belum populer. Pada ranah kepercayaan hadir istilah 'New Age Beliefs', bentuk keimanan yang rasional sesuai dengan perkembangan zaman. Sifatnya  'un-afiliated', tidak berafiliasi pada agama tertentu. Bagi masyarakat Indonesia bisa disebut sebagai 'Abangan Gaya Baru'.

Bukan hanya grup dangdut yang bubar kemudian dibentuk lagi dengan menambahi keterangan 'new' untuk  mengembalikan memori penggemar atas kehadirannya kembali. Juga bukan hanya masalah energi yang terus diusahakan agar ter-baru-kan. Tetapi masalah keimanan perlu juga diperbarui.  Oleh karena itu kemunculan istilah 'New Age Biliefs' atau Abangan Gaya Baru kini  hangat dibicarakan.

Baca juga: Indonesia Di Simpang Jalan Keadilan

Riset antropolog AS, Clifford James Geertz mengelompokkan Islam di Jawa menjadi abangan (kejawen), putihan (santri) dan priyayi (golongan ningrat). Kaum abangan merupakan keturunan keluarga muslim namun memilih untuk tidak berterus terang menyebut dirinya muslim.

Bahasa Jawa 'abang' artinya merah. Predikat Abangan kemudian diadopsi oleh selain muslim. Keturunan keluarga dari agama lain yang bersikap sekuler, membebaskan diri dari dogma mengaku sebagai Abangan. Selain Islam Abangan ada  Kristen Abangan, Katholik Abangan, Hindu Abangan, dll.

Pembebasan diri atas dogma  dilandasi pemikiran bahwa masalah religi bersifat pribadi, bukan general. Kedua, masalah iman, utamanya adalah dalam bertuhan bisa merasakan adanya perasaan nyaman, tenteram dan bahagia. Pengalaman mengikuti ritual keagamaan yang pernah dilakukan kesannya hanya sekadar formalitas semu tanpa memperoleh kenyamanan.

PENJARA DOGMA

Diantara kaum Abangan adalah pemberontak spiritual yang sebelumnya mempelajari religi secara mendalam serta pernah menjadi penganut agama  yang taat. Ajaran yang termaktub pada kitab yang disucikan maupun yang tidak tergolong suci dipelajari sebagai pengkayaan pikiran.

Perolehan dari mempelajari ajaran beserta perangkat hukum kemudian diperas sebagai konsep dasar  penyimpulan intisari beragama. Dalam pergulatan pemikiran, kejelian membaca serta analisis untuk menelisik hakiki  ajaran, pada suatu fase diketaui adanya beragam kejanggalan dogma penuh mitos yang tidak sesuai dengan filosofi religi.

Keberadaan dogma tak ubahnya penjara bathin yang tidak menjamin adanya rasa nyaman, tenteram dan bahagia. Inilah hakiki energi agama yang seharusnya bisa dihayati dan dinikmati bagi yang beriman pada Tuhan. Energi itu merasuk pada sekujur jaringan tulang, saraf, daging dan lainnya, istilah 'mbalung sunsum' hingga 'mempribadi' pada diri seseorang sehingga hidupnya selalu beserta Tuhan. Segala tindakannya bersifat 'menuhan'. Tanpa kehendak Tuhan, dirinya tidak bertindak. Kesadaran Tuhan dalam diri terpatri begitu kuat.

ZAMAN BARU

Membaca, menghayati proses atas evolusi mengantarkan pada pemahaman bahwa dalam perasaan akan sesuatu yang dianggap menghadirkan ketenangan jiwa kiranya tidak berhenti pada suatu fase. Evolusi pemikiran dan perasaan bakal terus bergerak hingga mengantarkan pada suatu perubahan suasana bathin yang baru.

Baca juga: Dedi Mulyadi dan Ancaman Demokrasi Informasi

Kebaruan itu akan terus berlangsung terus menerus seiring dengan dinamika kehidupan mikro maupun makro. Dari situlah perenungan menghadirkan pembahasaan yang unik atas spiritual seseorang diperoleh.

Demikian juga dengan konsep  "New Age Beliefs" konsep keimanan yang rasional sesuai dengan perkembangan zaman yang berbasis ilmu pengetauan hadir mewarnai jagat ketuhanan. Sebagai masyarakat inklusif, Abangan Gaya Baru kiranya menjadi khazanah teologi yang seksi.

Penulis : Rokimdakas
Wartawan & Penulis

Kanal Kolom adalah halaman khusus layanan bagi masyarakat untuk menulis berita lepas.

Redaksi Jatimkini.com tidak bertanggungjawab atas tulisan tersebut

 

Baca juga: Masyarakat Sakit Lahirkan Media Sakit Jadi Ancaman Demokrasi

 

 

 

 

 

Editor : Redaksi

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru